Suster Jeanne Mariae Punggak, Saya Masih Ingat! - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (27)
| Suster Jeanne Mariae Punggak, KFS, guru bahasa Indonesia kami ketika SMA ujung tahun 1970-an. Ist. |
Pagi menjelang siang di Nyarumkop, 4 September 2026. Matahari sudah tinggi. Angin dari kaki Gunung Poteng masih menyentuh lapangan sepak bola depan Wisma Emaus. Para tamu undangan berdiri dalam barisan.
Wajah-wajah yang puluhan tahun terpisah kini berada di tempat yang sama. Ada yang langsung dikenali. Ada yang membuat kita mengerutkan dahi sebelum sebuah nama mengembalikan ingatan.
Justina Hendry: Anak Remaja yang Nangis Bombai Bawah Naungan Pohon Kamboja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (26)
Saya sendiri tidak menyangka berada di jajaran tamu VVIP. Seingat saya, saya keluar dari Wisma Emaus bersama Bang Adrianus Asia Sidot. Kami berjalan menuju barisan. Bang Adri di depan. Saya mengambil tempat di belakang. Saya tahu diri.
Tiba-tiba Yustianus, Ketua Panitia Reuni Akbar 110 Tahun PKN, mempersilakan saya maju. Saya menurut. Beberapa langkah kemudian, sehelai "stola Dayak" dikalungkan ke leher saya. Saya menerimanya dalam diam. Sekaligus haru. Sementara di tangan saya ada satu eksemplar ekstra Buku Kenangan 110 Tahun PKN.
Setelahnya. Seseorang membimbing saya ke meja VVIP yang bundar. Di situ kursi yang sama dengan peserta lain mengelingi. Saya menoleh ke belakang.
Pada ketika itulah Suster Sainon, kawan seangkatan, menghampiri. Matanya tertuju pada buku itu.
“Untuk saya, kan?”
Saya mati gaya. Ditembak tanpa bisa berkata-kata. Maka saya menyerahkannya.
Hanya begitu. Tidak ada seremoni. Tidak ada kata-kata panjang. Sebuah buku berpindah tangan di tengah lapangan. Saya tidak tahu bahwa buku itu sedang memulai perjalanan lain.
Baca Savio Nederstig alias Pak Ho Ho, Kami Rindu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (25)
Keesokan harinya Sainon memberi tahu saya bahwa buku tersebut telah diserahkannya kepada Suster Jeanne Mariae Punggak, KFS, guru bahasa Indonesia kami ketika SMA.
“Saya berikan beliau,” katanya.
Nama itu membuat saya berhenti sejenak.
Saya masih ingat Jeanne Mariae. Guru yang lembut. Lulusan Sanata Dharma. Dahulu ia berdiri di depan kelas, sementara kami duduk sebagai anak-anak yang belum mengerti betapa panjang jalan hidup di depan kami.
“Mengapa beliau tidak ikut reuni?”
“Kesehatannya tidak sedang baik-baik saja.”
Lalu Sainon berkata, “Saya katakan kepada beliau, buku ini antara lain ditulis dan diterbitkan Bang Masri.”
***
Saya tidak segera menjawab. Saya membayangkan buku itu berada di tangan Jeanne Mariae. Mungkin ia mengenali nama-nama lama. Mungkin ia berhenti pada sebuah foto. Mungkin halaman-halaman itu membuat Nyarumkop kembali hadir di hadapannya, dengan suara anak-anak, halaman sekolah, dan tahun-tahun yang sudah begitu jauh.
Di situlah saya merasa bahwa buku ini telah sampai kepada orang yang semestinya menerimanya. Saya memberikannya kepada Sainon tanpa banyak berpikir. Sainon membawanya kepada guru kami. Begitu sederhana jalannya. Tetapi di ujung perjalanan itu, seorang murid kembali diingatkan kepada seseorang yang pernah mengajarinya.
Tan Un Mao, Sekali Waktu Anak Asrama Membalas Kecerdikannya (sambungan kisah sebelumnya) - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (24)
Saya tidak tahu apa yang paling lama tinggal dari seorang guru. Mungkin bukan kalimat yang pernah ditulis di papan tulis. Bukan pula pelajaran yang bisa dihafalkan. Barangkali justru sosoknya. Cara berbicara. Cara memandang murid. Kehadiran yang baru kita pahami nilainya ketika waktu telah membawa kita jauh.
Mendengar kabar itu, saya tiba-tiba ingin bertemu Jeanne Mariae.
Bukan untuk membicarakan buku. Bukan pula untuk mengulang masa sekolah. Saya hanya ingin duduk di hadapannya, setelah begitu panjang perjalanan, dan membiarkan waktu sejenak berhenti di antara seorang guru dan muridnya.
Jika pertemuan itu terjadi, mungkin saya tidak akan banyak berkata. Mungkin bibir saya akan bergetar di hadapannya. Dan hanya sanggup katakan ini:
“Suster, saya masih ingat!"
Dan mungkin, untuk pertemuan setelah puluhan tahun, kalimat itu sudah cukup.
Yang juga masih saya ingat adalah kapur. Setiap kali Suster Jeanne Mariae menulis di papan tulis, entah bagaimana kapurnya selalu cepat habis. Dan setiap kali kapur itu tinggal serpihan kecil, mata Suster akan mencari saya.
“Masri, ambil kapur ke kantor!”
Saya pun berdiri. Bergegas keluar kelas. Menuju kantor untuk mengambil kapur baru yang kadang bikin jantung deg degan takut bertemu guru.
Begitu terus. Mungkin bukan karena saya paling rajin. Boleh jadi karena di kelas I SMA, di antara murid-murid yang duduk berderet di samping kamar siswa kelas kecil, saya memang termasuk yang paling culun. Selain Doraman. Kami berdua seperti punya bakat alam untuk ditugaskan mengambil kapur.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, perintah kecil itu justru terasa besar. Saya tidak lagi ingat apa yang ditulis Suster Jeanne Mariae di papan tulis.
Saya juga tidak ingat berapa batang kapur yang saya bawa dari kantor guru ke kelas. Tetapi saya ingat langkah kecil menuju kantor itu. Ada guru yang mengajar dengan kata-kata. Ada pula yang mengajar melalui hal-hal sederhana yang baru kita pahami maknanya setelah waktu berjalan jauh.
Kapur boleh habis...
Tulisan di papan boleh terhapus. Tetapi seorang guru kadang meninggalkan sesuatu yang tidak ikut terhapus: kenangan tentang bagaimana dahulu kita dipanggil, dipercaya, dan, mungkin tanpa kita sadari, dianggap berguna.
Jakarta ketika senjam membekap malam 14 September 2026.
0 Comments