Tadeus Yus dan Sepuluh Tahun yang Terlewat - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (12)
| Justina (kiri) dan Thadeus Yus: Dua domba yang hilang pulang ke kandang Reuni Akbar PKN 110 Tahun. Ist. |
Di bawah rimbun pohon yang sudah lama menjadi bagian dari halaman Nyarumkop. Dua alumni duduk berdampingan di kursi plastik merah. Bagaikan domba yang hilang, kembali pulang kandang bernama Reuni Akbar 110 Tahun PKN.
Tanah di bawahnya bukan lantai yang dipoles. Hanya halaman dengan paving yang mulai tua, beberapa daun jatuh, dan cahaya yang menyelinap di antara dahan.
Di belakang mereka. Berdiri meski kian rapuh pagar beton berlubang yang membiarkan halaman sekolah dan pepohonan terus berhubungan dengan langit. Suasananya biasa saja. Justru karena biasa, ia terasa akrab.
Justina Hendry dan Selembar Gambar Kusam yang Menjumput Kenangan Lama - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (11)
Keduanya mengenakan polo putih Reuni Akbar PKN dengan ornamen khas Kalimantan. Tangan mereka sama-sama mengacungkan ibu jari ke kamera.
Di pangkuan salah seorang terselip telepon genggam, masker, dan tanda pengenal peserta. Tidak ada panggung. Tidak ada pidato. Hanya dua orang yang duduk santai di bawah pohon, seakan-akan setelah sekian lama waktu akhirnya menyediakan tempat yang sederhana bagi sebuah percakapan.
***
Dari suasana seperti itulah Tadeus Yus mengingat sebuah cerita yang menurutnya lucu. “Sepuluh tahun sama-sama dosen WD, tetapi selama itu pula tidak pernah saling tahu kalau sama-sama alumni PKN. Baru tahu hari Minggu lalu saat ketemu di PKN. Lucu juga, ya,” tulisnya via WA kepada saya.
Alexius Alex: Penyanyi yang "Tersesat" menjadi Pastor - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (10)
Sepuluh tahun mereka bekerja bersama sebagai dosen WD. Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk mengenal seseorang melalui pekerjaan, rapat, percakapan, dan berbagai kesibukan sehari-hari.
Tetapi ternyata ada satu bagian dari riwayat mereka yang sama-sama luput: keduanya pernah tumbuh dalam lingkungan Persekolahan Katolik Nyarumkop.
Baru pada Reuni Akbar 110 Tahun PKN, 4–6 September 2026, fakta kecil itu muncul ke permukaan. Nyarumkop, tempat yang dahulu menjadi bagian dari masa sekolah, mempertemukan kembali dua orang yang selama satu dasawarsa sebenarnya sudah saling mengenal.
Yang dimaksud Yus adalah Justina Hendry.
Ada ironi kecil dalam kisah itu. Kita dapat mengenal seseorang cukup lama tanpa mengetahui seluruh jalan yang pernah ditempuhnya.
Di tempat kerja, seseorang hadir sebagai dosen. Di ruang rapat ia menjadi rekan. Dalam percakapan sehari-hari ia mempunyai cerita sendiri. Namun masa sekolah sering tinggal sebagai sebuah kamar yang pintunya tertutup. Tidak selalu dibuka, bahkan oleh orang yang sudah bertahun-tahun berada dekat.
Nyarumkop membuka pintu itu.
Barangkali saja inilah salah satu keuntungan paling manusiawi dari sebuah reuni. Orang tidak hanya dipertemukan dengan orang lain. Kadang seseorang dipertemukan dengan bagian masa lalu orang yang selama ini tidak pernah diketahuinya.
Pak Lo Pak yang Es Lilin dan Mi Pansit-nya Kami Jarah dengan Tipu Daya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (9)
Dan di bawah pohon yang belum begitu tua. Dengan halaman yang teduh dan dua kursi plastik merah itu. Sebuah fakta sederhana menjadi bahan tertawaan yang menyenangkan: sepuluh tahun bersama, baru tahu bahwa mereka sama-sama anak Nyarumkop.
Menurut Justina, ada hal-hal dalam hidup yang baru kita ketahui setelah bertahun-tahun berjalan bersama. "Kami bersama-sama mengajar di Widya Dharma bertahun-tahun. Berbagi ruang, pekerjaan, dan hari-hari yang sama, tetapi tidak pernah tahu bahwa kami sesungguhnya abang dan adik dari Nyarumkop."
Belum puas rasa hati, ia lalu mengimbuhi lagi.
"Aku memanggilnya Bapak Thadeus. Ia memanggilku Ibu Yustina. Rupanya, masa lalu kadang baru membuka pintunya ketika kita kembali bertemu."
"Reuni Nyarumkop mempertemukan kami dengan kenyataan yang selama ini luput. "Kami abang dan adik di Nyarumkop, meskipun terpaut sepuluh tahun senioritas. Maka panggilan itu pun berubah. Bukan lagi sebatas Bapak Thadeus, melainkan Bang Thadeus."
“Ku panggil Bang Thadeus,” kata Justina. Lalu ia menutup pertemuan itu dengan kalimat yang sederhana, tetapi menyimpan panjangnya waktu: “Selamat bertemu kembali.”
0 Comments