AI Sebatas Tools (Alat), Manusialah Pusat dan Pengendali yang Berjiwa dan Berakal Budi
![]() |
| sumber ilustrasi: https://www.iqmotion.ai/ai-vs-applied-ai/ |
Perdebatan tentang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) dan kecerdasan alami (Natural Intelligence atau NI) sering dimulai dari pertanyaan yang kurang tepat. Apakah mesin kelak lebih pintar daripada manusia? Padahal, dalam sejumlah pekerjaan, mesin sudah lebih cepat. Mesin juga sanggup mengolah informasi jauh lebih banyak daripada manusia. Kenyataan ini tidak perlu ditutupi.
Jika mesin semakin mampu mengerjakan pekerjaan manusia, apa yang akan dilakukan manusia dengan kemampuan berpikirnya sendiri?
👉 Baca Riuh Rendah Sebuah WAG : Dari Asrama Sekabu ke Gelanggang Digital: Pendekar, Bidadari, dan Belarasa Nyarumkop
Pertanyaan bukan saja filosofis, melainkan juga: hakiki. Ya! Yang pokok, dan paling penting, sebenarnya: Apakah manusia sebagai kreator dari alat dikuasai ciptaannya sendiri? Ataukah alat menggantikan manusia, atau bahkan menguasi manusia?
Sebelum tiba ke jawaban pelik itu, mari masuk ke pemikiran yang telah mengemuka sejak awal tahun 1960-an. Ketika media baru saja merasuk kehidupan umat manusia.
Media: perpanjangan manusia
Marshall McLuhan memperkenalkan gagasan "the extensions of man" (1964). Teknologi merupakan perpanjangan kemampuan manusia. Kacamata memperpanjang kemampuan mata. Telepon memperluas jangkauan suara. Komputer membantu manusia mengolah informasi. AI pun dapat memperluas kemampuan manusia dalam berpikir dan bekerja.
Tetapi ada hal yang tidak boleh dilupakan. Alat diciptakan untuk manusia. Manusialah yang menentukan tujuan penggunaannya. Jangan sampai terjadi sebaliknya. Manusia justru tunduk kepada alat yang diciptakannya sendiri.
👉 Baca Gunawan - Masri | Reuni Dua Sahabat Alumni PKN setelah Setengah Abad
Saya melihat inilah persoalan yang lebih serius. Kita boleh bangga karena mampu menciptakan mesin yang semakin canggih. Namun, jangan sampai kecanggihan itu membuat kita malas menggunakan pikiran sendiri.
Setiap kali menghadapi kesulitan, kita langsung meminta mesin memberikan jawaban. Lama-kelamaan kita terbiasa menerima hasil tanpa menjalani proses berpikir yang semestinya. Jawaban memang datang lebih cepat. Pemahaman belum tentu bertambah.
Kecerdasan tidak cukup diukur dengan angka
Sejak awal abad ke-20, para ahli berusaha mengukur kecerdasan manusia. Alfred Binet dan Théodore Simon mengembangkan tes kecerdasan pada 1905. Tujuannya membantu mengenali anak-anak yang membutuhkan dukungan pendidikan. William Stern kemudian memperkenalkan istilah intelligence quotient atau IQ pada 1912.
Pengukuran kecerdasan terus berkembang. David Wechsler menyusun tes yang mencakup sejumlah kemampuan kognitif. Pada 1983, Howard Gardner mengemukakan teori kecerdasan majemuk. Ia mengajak kita melihat bahwa kemampuan manusia tidak hanya tercermin dalam kecakapan berbahasa atau berhitung.
Teori Gardner memang bukan kesimpulan final dalam ilmu psikologi. Namun, gagasannya mengingatkan kita pada kenyataan yang sering dilupakan. Kemampuan manusia beragam. Ada yang unggul dalam matematika. Ada yang piawai bermusik. Ada yang mampu memahami keadaan sosial. Ada pula yang cekatan menyelesaikan persoalan praktis. Tidak semuanya dapat diukur dengan satu angka.
Lalu, bagaimana membandingkan kecerdasan manusia dengan AI? Jika yang diukur ialah kecepatan menghitung atau kemampuan mengolah data, mesin dapat unggul. Namun, apakah keunggulan dalam satu tugas cukup untuk menyimpulkan bahwa mesin telah menggantikan kecerdasan manusia? Saya kira tidak pernah akan terjadi!
AI dapat menghasilkan jawaban yang meyakinkan. Namun, jawaban yang meyakinkan belum tentu benar. AI dapat menyusun tulisan dengan bahasa yang lancar. Kelancaran bahasa tidak menjamin kedalaman pikiran. Kita perlu memeriksa bukan hanya apa yang dihasilkan mesin, melainkan juga kebenaran dan makna hasil tersebut.
Penulis dengan pemikiran sendiri yang ori
Lihatlah dunia penulisan. AI dapat membantu mencari sudut pandang. AI juga dapat menyusun kerangka tulisan. Ejaan dapat diperiksa. Kalimat dapat dirapikan. Pekerjaan menjadi lebih cepat.
Namun, seorang penulis tetap harus mempunyai pikiran sendiri. Ia perlu tahu apa yang hendak dikatakan dan mengapa hal itu penting. Ia harus menguasai persoalan yang ditulisnya. Jika seluruh gagasan dan kesimpulan diserahkan kepada mesin, apa yang sebenarnya sedang ia kerjakan? Menghasilkan naskah atau menyampaikan pemikirannya?
Saya tidak mengatakan bahwa penggunaan AI membuat seseorang kehilangan kemampuan menulis. Teknologi dapat membantu penulis bekerja lebih baik. Persoalannya terletak pada cara penggunaannya. Ada perbedaan antara menggunakan mesin untuk membantu berpikir dan menggunakan mesin agar tidak perlu berpikir.
Hal serupa terjadi di sekolah. Siswa dapat meminta AI mengerjakan soal atau menyusun esai. Guru pun dapat memanfaatkannya untuk menyiapkan bahan ajar. Ini membuka peluang baru. Namun, kita perlu berhati-hati ketika hasil yang bagus dianggap sebagai bukti bahwa siswa sudah memahami pelajaran.
👉 Prof. Dr. H. Rizali Hadi dan Masri Sareb Putra : Saling Bertukar Buku Ciri Dua Akademisi Jika Bertemu
Seorang siswa mungkin menyerahkan tugas yang sempurna. Ketika diminta menjelaskan isinya dengan kata-katanya sendiri, ia justru tidak mampu. Apa artinya nilai tinggi jika pemahaman tidak tumbuh?
Persoalannya bukan hanya kejujuran akademis. Ada kebiasaan berpikir yang sedang dipertaruhkan. Pemahaman tumbuh melalui proses membaca, mencoba, membuat kesalahan, dan memperbaiki pendapat. Proses itu membutuhkan waktu. Jika setiap kesulitan segera diserahkan kepada mesin, kita mungkin memperoleh hasilnya tanpa sungguh-sungguh menjalani pembelajarannya.
Siapa yang Menentukan Arahnya?
Gagasan McLuhan tentang the extensions of man relevan untuk memahami perkembangan AI. Teknologi semestinya memperluas jangkauan kemampuan manusia. Bukan membuat manusia kehilangan kemampuan yang sebelumnya dimiliki.
Dalam konteks menulis kreatif: upayakan untuk selalu menggunakan pikiran-murni! Jangan bergantung alat (AI), apalagi sampai alat itu yang terbalik posisinya: menggantikan manusia.
Kendaraan membantu kita menempuh jarak jauh. Namun, kita tetap harus mengetahui ke mana hendak pergi. Komputer membantu mengolah informasi. Namun, informasi itu tetap perlu diperiksa. AI dapat membantu menyusun keputusan. Namun, manusia harus memahami dasar dan akibat keputusan tersebut.
Masalahnya, alat yang semakin canggih juga dapat mengubah kebiasaan penggunanya. Kita terbiasa memperoleh jawaban seketika. Kita ingin pekerjaan segera selesai. Bahkan, kita mulai menganggap bahwa pekerjaan yang membutuhkan waktu lama pasti tidak efisien.
Padahal, tidak semua hal dapat dinilai dari kecepatan. Memahami persoalan rumit menuntut adanya ketekunan. Di dalam menakar-nakar akibat suatu keputusan, diperlulukan pertimbangan kemanusiaan juga semata-mata ketunungan bisnis. Menulis berdasarkan pengalaman juga membutuhkan proses. Tidak semuanya dapat dipangkas tanpa kehilangan sesuatu yang penting.
👉 Baca juga: Cornelis Soroti Urgensi Pengendalian Inflasi dan Cadangan Devisa di Paripurna DPR
Di dunia kerja, alat modern ternyata begittu membantu manusia. AI dapat membantu perusahaan meningkatkan produktivitas. Namun, keuntungan itu tidak otomatis dinikmati semua orang. Perusahaan mungkin menghemat biaya. Akan tetapi, pekerja justru menghadapi ancaman kehilangan pekerjaan atau harus mempelajari keterampilan baru.
Mesin tidak perlu mempunyai niat untuk mengambil pekerjaan manusia. Mesin tidak mempunyai kepentingan ekonomi seperti perusahaan yang menggunakannya. Keputusan tetap dibuat oleh manusia.Penerapan AI tidak dapat dibicarakan hanya sebagai persoalan kemajuan teknologi. Kita juga harus membicarakan kepentingan, kekuasaan, dan nasib orang yang terkena dampaknya.
Maka, mengatakan bahwa AI hanyalah alat memang benar. Namun, pernyataan itu belum cukup. Kita perlu bertanya siapa yang menguasai alat tersebut. Untuk kepentingan siapa alat itu digunakan? Siapa yang menikmati hasilnya? Siapa pula yang menanggung akibatnya?
Manusialah Pusatnya, Bukan Alat
Saya tidak melihat AI sebagai musuh manusia. Tidak ada alasan untuk memusuhi alat yang dapat membantu pekerjaan kita. Yang perlu dijaga ialah kedudukan manusia dalam hubungan itu.
Jangan sampai karena mesin mampu menghasilkan jawaban, kita berhenti bertanya. Jangan sampai karena mesin mampu menyusun tulisan, kita berhenti membaca dan menimbang. Jangan sampai karena mesin menawarkan keputusan, kita merasa tidak perlu bertanggung jawab atas pilihan sendiri.
AI pada akhirnya juga menguji manusia. Bukan hanya menguji kemampuan kita menciptakan teknologi. Lebih dari itu, AI menguji kemampuan kita menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemandirian berpikir. Kita harus tahu kapan mesin dapat membantu. Kita juga harus tahu kapan hasilnya perlu diperiksa atau bahkan ditolak.
McLuhan menyebut teknologi sebagai the extensions of man. Bagi saya, gagasan itu mengandung pengingat yang sederhana. Alat merupakan perpanjangan kemampuan manusia. Karena itu, manusia harus tetap menjadi pusatnya. Manusialah yang menentukan arah dan tujuan penggunaan alat tersebut.
Jika manusia menyerahkan penilaian dan tanggung jawabnya kepada mesin, persoalannya bukan lagi karena mesin terlalu pintar. Persoalannya ialah manusia tidak lagi menggunakan kemampuannya sendiri.
👉 Baca juga: Dayak Bukan Berasal dari Yunnan tapi dari Gua Niah: Ini Bukti Ilmiah Uji-karbon 40.000 Tahun Silam
Kita tidak harus memenangkan setiap perlombaan melawan mesin. Dalam banyak hal, memang tidak masuk akal meminta manusia mengalahkan komputer dalam kecepatan menghitung atau mengolah data. Namun, kita tidak boleh kehilangan kemampuan untuk menilai hasilnya. Kita juga tidak boleh menyerahkan seluruh keputusan kepada teknologi hanya karena teknologi mampu memberikan jawaban.
Masalah kita sebenarnya: bukan semata-mata apakah AI akan mengalahkan NI. Soalan yang lebih mendasar adalah ini: Di tengah mesin yang semakin pintar, apakah manusia masih mau menggunakan pikirannya sendiri?
Akal budi (pikiran) inilah yang membedakan manusia dengan makluk lainnya, termasuk hewan. Sebab dalam filsafat manusia didefinisikan sebagai: animal rationale (hewan yang berakal budi).
Jika akal budi tidak jalan dan tak digunakan maka pada galibnya manusia bukan manusia (lagi).

0 Comments