Gunawan - Masri | Reuni Dua Sahabat Alumni PKN setelah Setengah Abad
![]() |
| Gunawan dan Masri: reuni dua alumni PKN di Alam Sutra. Ist. |
Matahari siang pada tanggal 11 Oktober 2026 memancarkan sinarnya yang terik. Seolah ikut mengobarkan semangat di dalam dada dua orang sahabat karib yang telah lama terpisah oleh jarak dan waktu.
Hari yang dinanti-nanti itu akhirnya tibalah sudah! Ini merupakan janji temu kedua bagi mereka. Setelah bertahun-tahun lampau takdir mempertemukan mereka di bumi Pontianak dalam sebuah episode kehidupan yang berbeda. Tatkala keduanya secara kebetulan sama-sama sedang mengemban tugas dinas di luar kota.
Baca Guru Jawa Berhati Nyarumkop | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (118)
Namun siang ini, suasana sungguh berbeda dan jauh lebih sakral. Keduanya sengaja menentukan Hari H untuk bertemu secara khusus, menembus kesibukan masing-masing demi menunaikan janji yang sempat tertunda. Di sebuah restoran di bilangan Alam Sutera, Tangerang, kedua tokoh kita duduk bersama dalam satu meja sehidangan.
Seketika itu juga, banyak kisah lama yang mendadak terkuak kembali di atas meja makan. Keduanya langsung larut dalam nostalgia yang teramat mendalam, menghidupkan kembali memori kolektif masa lalu mereka, sebuah ingatan suci yang tidak akan pernah mampu dikikis oleh sapuan sang waktu maupun perubahan zaman.
Pertemuan pendekar pena dan pendekar hak manusia
Di bawah cerahnya lampu restoran yang berpadu dengan riuh rendah suasana makan siang, tampaklah kedua tokoh kita duduk berhadapan.
Mengenakan kemeja biru muda bermotif kasual. Wajah Gunawan dibingkai oleh kacamata berbingkai tegas yang menegaskan aura intelektualnya. Guratan pengalamannya terpancar lewat sorot matanya yang tenang. Memancarkan kepuasan seorang sahabat yang akhirnya bisa menunaikan janji temu yang lama tertunda.
Baca Yang Terindah yang Termurni, Nyanyian Senja di Gereja Tua | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (117)
Senyumnya terkembang lebar penuh ketulusan. Memperlihatkan gurat wajah seorang pria yang kenyang akan asam garam dunia peradilan, namun tetap menjaga kerendahan hati seorang anak lereng gunung. Rambutnya disisir rapi ke belakang, menandakan kedisiplinan hidup yang kokoh, sementara kedua tangannya bergerak mantap saat memegang sebuah buku putih, sebuah simbol perjalanan iman dan sejarah panjang almamater mereka.
Di sebelah kiri meja, sang pendekar pena, Masri Sareb. Ia duduk dengan senyum yang bersahaja namun menyimpan ketajaman batin seorang pendekar pena.
Memori sarden dan cinta monyet
Suasana hangat di atas meja berselimut plastik putih itu mengalirkan kembali riak-riak kenangan masa lalu. Keduanya bernostalgia tentang menu "sarden" legendaris, sebuah lambang kebersamaan di masa-masa prihatin saat mereka masih menimba ilmu di asrama dahulu kala.
Percakapan bergulir mengenang kawan-kawan lama satu angkatan; baik kawan-kawan seperjuangan yang hingga hari ini masih hidup berjuang di berbagai penjuru mata angin, maupun mereka yang telah mendahului pergi selamanya menghadap Sang Pencipta di keabadian.
Baca Kelopak Mawar yang Terkoyak: Bukan di Pemangkat Tertambat Cintanya! | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (116)
Gelak tawa kecil sesekali pecah di sudut restoran saat ingatan mereka melayang pada kisah-kisah jenaka tentang kekasih semasa cinta monyet di sekolah dahulu. Seolah waktu berputar balik membawa jiwa muda mereka ke tanah kelahiran.
Nubuat kuno di lembah poteng
Namun dari semua obrolan yang mengalir deras, perbincangan mereka selalu kembali bermuara pada satu titik paling sakral, yaitu tentang nubuat Jitmen yang luar biasa. Gunawan ingat betul tahun 1981.
Di bawah langit lembah Gunung Poteng. Jitmen, kawan satu angkatan mereka di SMA Nyarumkop, memberi arahan yang tajam, sebuah nujum yang menggetarkan sukma: "Gun, kamu kuliah ambil jurusan hukum!"
Selain Jitmen, memori mereka juga memanggil nama kawan-kawan satu angkatan lainnya. Nama-nama seperti Benyamin, Doraman, Toton, Patrisius, Agus Clarus, Pian, Suhek, Moses, Raymundus, Mateus Juli, Songkiat, Chun Kho, Andi, dan Julin kembali disebut, sejauh yang keduanya masih mampu mengingat-ingat.
Sembari memegang erat buku 110 Tahun Nyarumkop di tangan mereka berdua, mereka mengagumi bagaimana benang merah takdir mengikat persahabatan dan jalan hidup mereka hingga hari ini. Pertemuan siang itu bukan shanya makan bersama, melainkan sebuah sakramen persahabatan yang menggenapi janji waktu.
Memang, kesimpulannya telah tertulis dengan tinta emas yang tidak akan pernah luntur oleh zaman: Jitmen adalah orang yang dipilih dan dipakai oleh Tuhan untuk menyampaikan pesan Tuhan yang luar biasa. Gunawan adalah sosok tanah subur yang menerima pesan itu dengan penuh tanggung jawab kesatria, merawat arahan gaib itu di dalam kalbunya, hingga benih kata itu tumbuh menjadi pohon pelindung yang raksasa bagi sesama di saat badai terdahsyat melanda negeri ini.
Kitab takdir telah dibuka pada tahun 1981. Dan sejarah telah mencatat dengan mutlak: Terjadilah demikian!
Komitmen ksatria dan medan kesadaran era digital
Sedianya pada perhelatan agung Reuni Akbar 110 tahun PKN yang berlangsung pada tanggal 4 sampai 6 September 2026 lalu, Gunawan dijadwalkan hadir sebagai narasumber utama.
Baca Oevaang Oeray, Anak Seminari dengan Jurus-Rahasia Surat-surat Politiknya | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (115)
Sang pendekar hak manusia telah mempersiapkan sebuah kitab pemikiran yang matang mengenai strategi crowd funding atau urun dana para alumni demi membangun serta meningkatkan kejayaan almamater tercinta. Namun, takdir di angkasa berkata lain ketika burung besi yang ia tumpangi dari Cengkareng menuju Pontianak terhadang oleh pekatnya kabut asap Kalimantan.
Selama satu jam lamanya pesawat berputar-putar di atas langit kota khatulistiwa tanpa bisa mendarat, hingga akhirnya terpaksa membalikkan haluan kembali ke Cengkareng. Kendati raga terhalang benteng asap, semangat kesatria di dalam dadanya tidak luntur barang seujung rambut pun.
"Namun saya tetap komit, memberi apa yang bisa untuk almamater. Kita semualah. Nunggu kaya, kapan lagi? Kita memberi yang kita bisa!" tegas Gunawan dengan sorot mata yang menyala penuh ketulusan.
Baca Acara Tetap Memikul Kayu di Jungkit, Sidomet, dan Sungai Tangket - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (114)
Menurut perbincangan mendalam antara Gunawan dan Masri di meja makan siang itu, langkah awal yang paling krusial adalah membangun sebuah medan kesadaran yang sama di antara seluruh insan perguruan.
Ruang batin yang satu itu kini sejatinya telah terbangun dengan kokoh melalui momentum reuni, penerbitan buku kenangan, situs web resmi, grup WhatsApp, serta berbagai saluran komunikasi modern lainnya.
"Itulah asrama dan PKN era digital," tukasnya seraya tersenyum. Gunawan menutup lembaran obrolan mereka dengan sebuah keyakinan. Bahwa obor persaudaraan Nyarumkop kini telah menyebar luas menembus ruang fisik asrama, melompati batas benua melalui jaringan tak kasatmata yang abadi.

0 Comments