Yang Terindah yang Termurni, Nyanyian Senja di Gereja Tua | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (117)
![]() |
| Kidung cinta di gereja tua. Ist. |
Halaman gereja tua diliputi warna senja, laksana hamparan bianglala yang menghadang langkah dua manusia di bawah kolong langit ini. Guratan mega merah yang membentang di ufuk barat seolah memancarkan getaran hawa batin yang sunyi namun mahadahsyat,membungkus pilar-pilar batu kuno itu dalam keheningan yang mistis.
Di bawah takdir yang bergerak sehalus hembusan angin. Aua anak manusia dipaksa menghadapi riak ujian yang akan menguji keteguhan iman dan ketajaman rasa mereka. Sebuah benturan rasa yang tak kasat mata namun sanggup meruntuhkan kokohnya disiplin baja.
Kelopak-kelopak merah yang berguguran di atas tanah kering seolah-olah menjadi saksi bisu. Membuka pintu masa lalu yang telah lama terkunci rapat oleh jalannya sang waktu.
Tiba-tiba, angin pegunungan bertiup lembut. Membuat daun-daun kering berbisik pasrah. Seakan waktu enggan melepas tangkainya sejenak untuk memberi penghormatan pada takdir yang sedang berjalan.
Baca Kelopak Mawar yang Terkoyak: Bukan di Pemangkat Tertambat Cintanya! | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (116)
Di tengah keheningan yang magis itu. Sejumput kenangan masa silam pun bermunculan satu demi satu, menari-nari di pelupuk mata laksana bayangan para pendekar yang melintas cepat di malam buta.
Setiap guratan masa lalu itu membawa kembali getaran batin yang maha dahsyat. Mengusik lagi kenangan yang sudah tenggelam.
Badai ketegangan malam lalu seolah menguap bersama kabut pagi yang berangsur menipis. Tiada lagi deretan bangku plastik yang riuh, tiada pula intaian ketat dari mata rajawali sang Pembina Asrama.
Tempat itu kini menjelma menjadi ruang sunyi yang magis bagi dua insan yang tengah dirundung asmara suci. Dahulu kala. Mungkin sewindu yang lalu. Rian dan Clara berdiri berdampingan di atas jalan semen yang membelah halaman tanah kapel tua itu. Jarak aman yang biasanya membentang kaku di antara barisan putra dan putri kini dua asrama kini melebur dalam sebuah momen yang teramat puitis.
Baca Oevaang Oeray, Anak Seminari dengan Jurus-Rahasia Surat-surat Politiknya | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (115)
Tangan mereka bersama-sama memegang sebuah buku madah bakti yang terbuka lebar. Lembaran-lembaran kertas suci itu kini bukan lagi sekadar kurir rahasia yang bisu, melainkan saksi bisu atas bersatunya suara tenor Rian yang mantap dan alunan sopran Clara yang lembut. Mereka berpura-pura sedang larut dalam latihan koor gabungan, menyelaraskan nada demi nada kidung surgawi untuk perayaan Fransiskus Asisi.
Namun dialog yang sesungguhnya terjadi bukanlah lewat bait-bait madah di tangan mereka. Saat Rian memalingkan wajah, sepasang netra yang memancarkan kejujuran tekad langsung beradu dengan tatapan Clara.
Di bawah payung langit Singkawang yang cerah, Clara membalasnya dengan sebuah senyuman tipis yang teramat manis di bibir merah delimanya, sebuah isyarat halus yang membisikkan bahwa surat rahasia dan kotak susu cokelat hangat malam tadi telah mendarat dengan aman di dalam tasnya.
Di halaman gereja tua itu. Di antara kesederhanaan pilar-pilar gereja dan latar bukit yang menghijau, waktu seolah berhenti berdetak. Cinta mereka yang murni tidak lagi bersembunyi dalam ilmu curi pandang yang kilat, melainkan mewujud nyata dalam harmoni yang paling indah.
Baca Acara Tetap Memikul Kayu di Jungkit, Sidomet, dan Sungai Tangket - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (114)
Rian sedang mengumpulkan kepingan keteguhan hatinya. Cantrik tampan dengan sepasang netra yang memancarkan kejujuran tekad. Bagi Rian, kehidupan asrama yang kaku laksana riak ujian batin yang maha berat.
Tiada hari tanpa kekangan. Tiada jam tanpa intaian pengawasan dari para pengawal padepokan suci. Namun di balik kelembutan parasnya yang menawan. Sejatinya tersembunyi sebuah tenaga dalam berupa keteguhan iman yang luhur. Membuat jiwanya tidak mudah goyah ataupun takluk oleh himpitan kedisiplinan yang mengekang raga dari fajar hingga senja.
Namanya juga berdarah muda, tentu ada kalanya riak batinnya meronta jenuh karena terkungkung. Namun satu-satunya oase yang membasuh dahaga rohani bagi Rian adalah hari di mana ia diizinkan mengayunkan langkah kaki ke kapel agung untuk mengikuti latihan koor gabungan.
Pada suatu sore yang diselimuti keheningan magis, genta kapel berdentang memecah kesunyian malam, suaranya bagai kidung surgawi yang bergema agung di antara pilar-pilar batu.
Gaung lonceng itu menandakan telah tibanya hari persiapan menyambut perayaan yang paling sakral di padepokan itu, yakni Hari Fransiskus Asisi yang jatuh tepat pada tanggal 4 Oktober.
Pintu jati kapel yang tebal dan kokoh perlahan-lahan menguak pasrah. Dari luar, mengalirlah barisan para dara dari Asrama Putri dengan langkah yang selembut gemulai merak, tertib penuh takzim, dengan pandangan mata yang melorot malu ke lantai batu, laksana sepasang burung bangau putih yang hinggap di permukaan telaga yang tenang.
Di antara sekian banyak dara yang menawan, melangkah seorang gadis yang keindahan parasnya sanggup menghentikan detak waktu sejenak. Gadis ini bernama Clara. Wajahnya seindah pualam dengan sepasang mata yang bening bagai telaga pegunungan yang belum terjamah, dan rambutnya yang hitam legam dibiarkan terurai menyapu bahu.
Ketika lembaran madah suci dibagikan. Entah angin apa yang menggerakkan lehernya yang jenjang, Clara menoleh perlahan ke arah barisan suara tenor tempat para jejaka berdiri. Pada detik itulah, tanpa diduga oleh jalannya takdir, dua pasang mata beradu di bawah temaram cahaya lilin altar yang bergoyang halus!
Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Apabila genta jodoh telah bertalu. Hanya lewat satu tatapan mata saja, runtuhlah benteng pertahanan batin Rian yang selama ini dipeliharanya dengan disiplin ketat. Jantungnya berdegup sangat kencang, bagaikan derap kaki kuda liar yang lepas dari kekangannya, membuat suaranya mendadak fals keluar dari keselarasan lagu. Itulah panah asmara, sebuah pusaka gaib yang tidak berwujud, namun sekali menembus dada, lukanya akan membekas indah seumur hidup!
Cinta yang suci bukanlah suatu kelemahan yang membuat manusia menjadi cengeng. Melainkan sebuah kekuatan batin yang luar biasa yang mampu mengubah sekeping batu kali menjadi sebutir permata yang berkilauan!
Sejak hari pertemuan di altar suci itu, latihan koor berubah menjadi medan pertempuran batin yang sangat dahsyat bagi kedua muda-mudi ini. Di bawah pengawasan ketat para pembina asrama yang bermata tajam bagaikan burung rajawali sedang mengintai mangsa dari langit tertinggi, Rian dan Clara menggunakan ilmu curi pandang yang teramat halus.
Gerakan tatapan mereka begitu cepat, sehalus hembusan angin, sehingga orang awam tidak akan pernah bisa menangkap isyarat tersebut.
Ketika alunan suara sopran Clara yang melengking tinggi bersahut-sahutan dengan suara tenor Rian yang mantap, seolah-olah sedang terjadi dialog batin yang sangat mesra dan puitis di antara mereka berdua. Ketegangan kian memuncak ketika bulan September hampir habis.
Menjelang hari perayaan besar, Rian dan Clara terpilih menjadi panitia inti untuk mempersiapkan pementasan drama suci. Aturan padepokan melarang keras sepasang muda-mudi untuk berbisik-bisik atau berbicara berduaan tanpa adanya saksi. Tetapi, akal budi manusia memang tidak ada batasnya.
Rian mempergunakan sebuah buku madah bakti yang sengaja ditinggalkan di rak belakang kapel sebagai kurir rahasia yang bisu. Di balik lembaran kertas yang suci itu, Rian menyelipkan gulungan surat kecil yang berisi tulisan tangan yang indah, sebuah surat yang penuh dengan kata-kata penyemangat belajar untuk sang pujaan hati.
Malam yang dinanti-nantikan dengan hati berdebar akhirnya tiba juga! Malam itu adalah tanggal 4 Oktober, di mana sang rembulan bersinar penuh di langit Singkawang, menumpahkan cahaya keperakan menerangi malam puncak Hari Fransiskus Asisi. Aula besar Nyarumkop bergemuruh oleh suara tepuk tangan ratusan penonton.
Pementasan drama berjalan dengan sangat gemilang dan sukses besar. Namun, di balik kegembiraan yang meluap-luap itu, sebuah bahaya maut tengah mengintai batin Rian. Dasar orang muda yang sedang mabuk kepayang, rasa rindu yang membuncah membuat jiwanya nekat menantang bahaya. Dengan menggunakan gerakan yang sangat ringan, seringan kapas ditiup angin, Rian menyelinap ke koridor gelap di samping kapel yang sepi. Maksud hatinya hanyalah satu: ingin mengulurkan sekotak susu cokelat hangat dan sepucuk kepada Clara, sang pujaan hatinya.
***
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih! Langkah kaki Rian yang teramat halus itu ternyata tercium oleh indra tajam seorang Pembina Asrama senior. Pembina ini terkenal bertangan besi, berwatak kaku laksana batu karang, dan memiliki sepasang mata yang tajam laksana harimau lapar yang sedang mencari mangsa di kegelapan malam. Rian terkejut setengah mati. Tubuhnya menempel pada dinding batu, terpojok dan tidak ada jalan untuk melarikan diri lagi! Jika ia tertangkap basah di tempat itu, tamatlah riwayatnya, ia akan dikeluarkan dari padepokan dengan menanggung aib yang sangat besar.
Di saat yang teramat genting itulah, Clara yang berhati cerdik dan tanggap melihat bayangan Sang Pembina yang tinggal beberapa langkah lagi akan memergoki Rian. Tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, Clara sengaja menyenggol meja kayu di ujung koridor lain. Membuat tumpukan buku-buku teks yang tebal jatuh dan menimbulkan suara benturan yang sangat keras.
"Brakkk!" Suara itu memecah kesunyian malam.
Sang Pembina terkejut. Ia menghentikan langkah. Dn langsung membalikkan tubuh menoleh ke arah sumber suara. Lalu bergegas menghampiri Clara yang berpura-pura panik. Selisih waktu yang hanya beberapa detik itu bagaikan seuntai mukjizat yang turun dari langit!
Baca Gosewinus, OFM Cap. dan Visi Edukasi "Nyarumkop Song" yang tak Lekang Zaman - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (101)
Rian menggunakan kesempatan emas itu. Dengan kecepatan kilatia melemparkan kotak susu dan suratnya ke dalam tas Clara yang tergeletak di atas bangku panjang. Lalu tubuhnya melesat pergi bagaikan bayangan hantu di malam hari, lenyap dari tempat itu tanpa meninggalkan jejak sedikit pun!
Keesokan harinya....
Fajar tanggal 5 Oktober menyingsing dengan membawa kedamaian yang baru, menyemburkan warna jingga yang hangat di ufuk timur.
Sinar matahari pagi mengusir sisa-sisa kegelapan dan ketegangan yang mendebarkan dada pada malam tadi. Sang Pembina Asrama, meskipun menaruh curiga yang teramat sangat, terpaksa gigit jari karena tidak berhasil menemukan secuil pun bukti pelanggaran di tempat kejadian.
Ketika lonceng misa pagi selesai berdendang, seluruh murid keluar dari kapel dengan berbaris rapi menuju ruang kelas masing-masing.
Clara berjalan di barisan putri, sedangkan Rian berada di barisan putra. Mereka berjalan searah dengan jarak beberapa meter, sebuah jarak aman yang mutlak harus dipatuhi sesuai dengan hukum padepokan. Namun tepat ketika langkah kaki mereka sejajar di halaman sekolah, Clara menolehkan wajahnya sedikit ke arah kanan. Bibirnya yang merah delima mengukir sebuah senyuman tipis yang teramat manis, dibarengi dengan sebuah anggukan kepala yang sangat halus.
Melihat isyarat itu, Rian menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Batinnya bersorak kegirangan, karena ia tahu bahwa surat dan susu cokelat itu telah berada di tangan yang aman, dan badai yang mengancam jiwanya telah berlalu, meninggalkan pelangi yang indah di dalam lubuk hatinya.
Kereta tua yang patah janjinya, menyisakan kerinduan yang teramat perih dan tak terobati.
Tembok-tembok Asrama Nyarumkop yang angkuh tetap berdiri kukuh menantang langit, dan pagar pemisah yang sedingin es itu terus membelah dunia jejaka dan dara setelah perayaan 4 Oktober usai. Namun takdir yang digariskan oleh Sang Khalik rupanya berkehendak lain.
Setahun setelah malam perayaan Hari Fransiskus Asisi yang mendebarkan itu. Sebelum mereka sempat menamatkan ilmu dan merajut benang-benang masa depan di luar gerbang padepokan, sebuah kemalangan yang teramat besar melanda laksana badai hitam di siang bolong. Clara, dara jelita yang memiliki kelembutan hati laksana bidadari turun dari kahyangan, mendadak terserang demam yang teramat ganas. Di dalam bilik Asrama Putri yang sunyi dan dingin, napasnya kian hari kian melemah, bagaikan lilin altar yang kehabisan sumbunya, gemetar di ambang kegelapan.
Melihat kondisi sang dara yang kian mengkhawatirkan dan berada di ujung tanduk, para pengasuh padepokan segera mengambil tindakan cepat. Tubuh Clara yang lunglai tak berdaya laksana bunga layu diterpa angin malam segera dilarikan ke rumah sakit di Singkawang untuk mendapatkan pertolongan dokter. Berkat kemurahan langit yang maha agung dan daya hidup yang masih bersemayam kuat di dadanya, setelah melewati masa kritis yang menegangkan jiwa, Clara dinyatakan sembuh dan diperbolehkan kembali menjejakkan kaki di bumi Sekabu.
Namun, di sinilah letak tragedi yang teramat menyayat hati dan mengoyak sukma. Hukum besi padepokan yang kaku laksana karang dan benteng disiplin yang kokoh berdiri melarang keras Rian untuk melangkahkan kaki keluar demi menjenguk belahan jiwanya. Jangankan pergi ke kota Amoi Singkawang untuk sekadar mendekati garis batas Sekabu pun ia sama sekali tidak memiliki daya. Rian sangat ingin membesuk. Ingin menatap dengan sepasang netranya sendiri bahwa gadis yang telah menyerahkan seluruh jiwanya itu telah selamat dari cengkeraman maut. Namun tembok-tembok hukum padepokan mengurung raganya rapat-rapat. Ia tidak bisa, oh, sungguh tidak bisa!
Hatinya tersayat-sayat, hancur berkeping-keping bagaikan diiris oleh tujuh sembilu tajam yang diserut dari rumpun bambu Sekabu. Rian hanya bisa bertekuk lutut di atas lantai kapel tua yang dingin membeku. Tetap meratap dan memanjakan doa-doa pedih kepada langit di bawah kaki salib. Jiwanya merana tak terperi. Sarat menanggung beban rindu dan duka yang maha dahsyat. Dirinya terkungkung oleh jarak yang sesungguhnya begitu dekat namun terasa mustahil untuk ditembus oleh raga yang terikat sumpah.
***
Riuh tepuk tangan dan taburan konfeti di aula sekolah masih menyisakan gema di kepala. Namun bagi Clara, kelulusan ini adalah awal dari sebuah lonceng kematian bagi impiannya. Siang itu di bawah terik matahari yang mendadak tertutup mendung, mereka berdiri berdampingan dengan ijazah di tangan.
Alih-alih merayakan masa depan setelah kelulusan. Atmosfer di antara mereka justru mencekam.
"Jadi, setelah ini kita ke mana?" tanya Clara, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang sejak pagi ia bendung.
Matanya menatap lekat pada gulungan kertas di tangan Rian, berharap ada masa depan mereka di sana.
"Aku sudah memutuskannya, Rian. Aku akan mengambil kuliah di Jawa. Aku mau kita berjuang sama-sama di sana. Kamu bisa pilih kampus apa saja di dekatku."
Rian tidak langsung menjawab. Ia menatap ijazah itu, lalu beralih memandang Clara dengan tatapan yang sarat akan permohonan maaf. "Aku tidak ikut ke Jawa, Clara. Aku tetap di sini. Aku masuk Seminari Tinggi Prapatan."
Kata-kata itu menghantam Clara seperti gada besi. Egois, batinnya menjerit. Selama ini ia mengira kedekatan dan komitmen mereka adalah prioritas, namun Rian justru memilih jalan sunyi yang mustahil ia jangkau. Konflik besar meledak di antara sisa-sisa aroma pesta kelulusan.
Clara merasa dikhianati oleh sebuah keputusan sepihak yang dibungkus dengan alasan kesucian. Sementara Rian tetap bergeming. Mengunci hatinya demi sebuah panggilan yang ia yakini sebagai takdir.
Gerimis tipis mulai membasahi aspal di sepanjang jalan dari Sekabu melintas Wisma Widya lalu menuju kapel tua. Di depan gerbang besi kokoh yang memisahkan dunia bising kota dengan ketenangan Seminari Tinggi, Rian berdiri tegak. Ia menggenggam sebuah koper tua milik ayahnya, berisi beberapa helai pakaian, sebuah Alkitab, dan keteguhan hati yang sudah ia pupuk selama bertahun-tahun.
Rian memejamkan mata sejenak, menghirup dalam-dalam udara basah yang terasa dingin. Langkah kaki di belakangnya membuat ia kembali menoleh.
Di sana, beberapa meter darinya, Clara berdiri tanpa payung. Rambutnya yang setengah basah menempel di pipi, menyembunyikan mata sembab yang sudah tak mampu lagi membendung air mata. Sejak pengumuman resmi bahwa Rian diterima di Seminari Tinggi Prapatan untuk menjalani masa pembentukan calon imam, dunia Clara seolah runtuh.
Baca Karolin, Bupati Landak, Raih Penghargaan ASEAN untuk Listrik Desa
Pedih sekali hati Clara sore itu. Rasanya luar biasa sakit, bagaikan diiris-iris oleh tujuh sembilu tajam yang baru diserut dari rumpun bambu Sekabu yang lebat. Kulitnya dingin diterpa hujan, namun dadanya terbakar oleh rasa kehilangan yang teramat sangat.
"Kamu benar-benar egois, Rian!" Clara setengah berteriak, air matanya kini luruh menyatu dengan rintik gerimis. "Kamu meninggalkan aku demi altar itu? Kamu membuatku percaya kita punya masa depan!"
Rian melangkah mendekat, namun menyisakan jarak yang cukup lebar di antara mereka (sebuah batas tidak kasat mata yang kini harus mulai ia biasakan). "Ini bukan tentang ego, Clara. Ini tentang jiwa yang meronta jika tidak menjawab-Nya. Aku harus pergi."
Di tengah badai emosi yang berkecamuk, perlahan-lahan keheningan merayap di antara mereka. Kecewa dan amarah Clara mulai surut. Berganti dengan kepasrahan yang teramat dalam. Bagaimanapun juga, ia tahu siapa Rian. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ia rela melepas cinta pertamanya itu pergi.
Ingatannya mendadak melompat pada kenangan manis di kapel tua. Samar-samar di telinganya terdengar gema koor yang selalu mereka latih dan nyanyikan bersama setiap misa Minggu pagi. Nada-nada suci itu kembali terngiang membubung ke langit melintasi lembah Sekabu:
di ufuk langit nan merah
kembara semadi
di hadapan yang semayam
di alam suci hari ini
Clara menyadari dengan pedih. Yang terindah dan termurni dalam hidupnya adalah cinta pertama mereka. Dan hari ini cinta itu memang harus dipersembahkan kembali kepada Sang Pemilik Jiwa.
Dengan kekuatan sisa yang ia miliki, Clara tidak lagi berlari dengan amarah. Ia menarik napas dalam, membiarkan air matanya mengalir sebagai tanda perpisahan yang tulus. Ia membalikkan badan dengan anggun namun rapuh, melangkah menjauh menembus hujan.
Baca Nunquam cum Porco Conluctare | Pesan Kebijaksanaan yang Halus namun Menghujam
Sementara Rian dengan mantap melangkah masuk ke balik gerbang besi yang perlahan menutup rapat, menyisakan gema kidung persembahan yang abadi di udara.
Dan di tengah kesunyian yang mencekam itu. Di dalam hati kecil yang remuk. Lirik lagu sendu itu mengalun lambat menjadi penutup tirai perpisahan mereka:
Yang terindah, yang termurni, dipersembahkan, hari ini....
Masri Sareb Putra

0 Comments