Nunquam cum Porco Conluctare | Pesan Kebijaksanaan yang Halus namun Menghujam
![]() |
| Jangan hendak bergulat dengan babi. Ist. |
Pesan singkat masuk ke ponsel saya siang ini. Dikirim oleh Alexander Mering. Seorang karib yang selalu tahu cara memicu refleksi di tengah keriuhan hari.
Pesan itu tidak biasa, menampilkan selembar gambar ilustrasi menarik disertai untaian kalimat dalam bahasa Latin kuno yang berbunyi: Nunquam cum porco conluctare. Ambo foedi eritis, sed porcus gaudebit.
Jangan sekali-kali (nunquam) bergulat dengan babi. Kalian berdua akan menjadi kotor, tetapi babi itu akan menikmatinya.
Pesan kebijaksanaan halus namun menghujam
Entah dia mengirimkannya dengan sungguh-sungguh untuk berbagi renungan publik, atau hanya pura-pura bertanya demi memancing sejauh mana ketajaman daya ingat saya mengenai karut-marut situasi sosial saat ini.
Melalui pesan pendeknya. Mering bertanya dengan nada santai. Apa arti dan makna terdalam di balik ungkapan klasik tersebut?
Baca Oevaang Oeray, Anak Seminari dengan Jurus-Rahasia Surat-surat Politiknya | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (115)
Berbekal lembaran kitab kuno serta pengetahuan sastra yang pernah saya pelajari dari peninggalan para tetua perguruan masa lalu. Saya mencoba meretas tabir makna di balik petuah Romawi ini untuknya.
Barisan aksara kuno tersebut sesungguhnya membawa pesan satire yang sangat menohok. Sebuah peringatan keras bagi para pendekar pena maupun orang-orang waras agar tidak sembarangan melangkah masuk ke dalam gelanggang pertarungan yang salah. Langkah menerjemahkan kalimat ini membawa konsekuensi batin yang mendalam, karena petuah tersebut langsung menghunjam jantung realitas pergaulan sosial kita.
Dalam dunia persilatan kata, sering kali kita tergoda untuk meladeni setiap tantangan yang datang hanya demi membuktikan superioritas nalar. Namun, petuah ini mengingatkan bahwa ada kalanya berdiam diri dan menjaga jarak dari kubangan adalah bentuk keunggulan strategi yang paling tinggi.
Pengalaman hidup selama puluhan tahun di lapangan mementahkan asumsi bahwa semua ruang debat itu sehat.
Acara Tetap Memikul Kayu di Jungkit, Sidomet, dan Sungai Tangket - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (114)
Sejak masa muda saya ketika belajar menempa kata melalui majalah dinding di Nyarumkop. Hingga bertahun-tahun menjalani kerasnya profesi sebagai jurnalis lapangan dan koresponden majalah level nasional di Jakarta. Saya kenyang menyaksikan bagaimana energi manusia bisa terkuras habis sia-sia dalam konflik kosmetika.
Perangkap riuh rendah kubangan sorak-sorai
Ketika novel debut saya, Flamboyan Kembali Berbunga, terbit pada tahun 1986. Atau ketika baru-baru ini saat saya duduk sebagai pembelajar yang berbicara di panggung kehormatan Sarawak Literature Festival 2026. Satu kebenaran sosiologis makin mengkristal di dalam benak: integritas intelektual tidak dibangun dari riuh rendahnya kubangan sorak-sorai.
Baca Gunung Poteng dan Rahasia Sunyi di Puncak Langit - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (113)
Ketika kita membiarkan diri terseret ke dalam arena yang penuh dengan kepalsuan politik hari ini. Kita sebenarnya sedang menyerahkan kendali atas kehormatan diri kita sendiri kepada pihak lawan yang tebal muka.
Menanggapi musuh yang tidak memiliki kehormatan hanya akan menyeret diri kita ke dalam tingkat kerendahan yang sama. Sebuah lingkaran setan yang tidak akan pernah menghasilkan pemenang sejati.
Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Keberanian sejati seorang pemikir tidak diuji dari seberapa banyak perdebatan yang ia menangkan di dalam lumpur. Namun dari keteguhannya untuk tetap berdiri di atas tanah yang bersih dan kering.
Jakarta siang bolong 10/10-2026.

0 Comments