Guru Jawa Berhati Nyarumkop | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (118)
![]() |
| Barisan Guru Jawa berhati Nyarumkop, kunci kendali PKN setelah angkatan I misionaris asal Belanda. Syukur ada mereka itu untuk kita. Hormat dan takzim. Dokpri. |
Kabut putih tipis berarak perlahan menyelimuti puncak Gunung Poteng, seolah menjadi saksi bisu dari sebuah kisah kepahlawanan yang sunyi namun menggetarkan sukma.
Di bawah lambaian pohon cemara dan guguran bunga angsana yang keemasan. Tegak berdiri padepokan suci Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN).
Baca Yang Terindah yang Termurni, Nyanyian Senja di Gereja Tua | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (117)
Tempat ini bukan semata-mata hanya bangunan batu dan kayu. Lebih dari itu ia sebuah kawah candradimuka tempat para ksatria muda ditempa.
Namun siapakah gerangan para empu sakti yang dengan sukarela memeras keringat dan air mata demi menyalakan obor budi di dada anak-anak pedalaman?
Mereka adalah para guru Jawa Katolik. Sekelompok pendekar pena yang datang membawa cinta kasih sejati. Mereka telah melintasi lautan luas demi sebuah pengabdian tanpa pamrih.
Tadinya lembaran riwayat ini hendak diberi tajuk "Guru Jawa Berhati Dayak". Namun setelah ditimbang kembali dengan keheningan rasa, bumi Nyarumkop adalah payung teduh bagi segala suku bangsa, termasuk anak-anak Tionghoa yang hidup berdampingan dalam kedamaian. Gelar "Guru Jawa Berhati Cinday" (Cina-Dayak) pun sempat terlintas. Namun akhirnya jiwa Poteng yang abadi yang dipilih untuk melukiskan ketulusan mereka.
Telah menjadi sebuah adagium yang tidak terbantahkan di jagat persilatan pendidikan Kalimantan Barat. Bahwa setelah para misionaris Eropa menyerahkan tongkat estafet pada era 1970-an, para lulusan Sanata Dharma inilah yang berdiri tegak di garis depan. Mereka memadukan kelembutan budi tanah Jawa dengan keteguhan tekad sedalam samudra, menjadi benteng pertahanan terakhir melawan kebodohan.
Barisan pendekar kapur yang ugahari
Bila malam telah merapatkan tirainya dan angin pegunungan mulai bersuling menyayat hati. Memandangi kembali sebuah potret kusam usang akan membawa ingatan kita terbang kembali ke masa-masa penuh keprihatinan.
Dalam gambar yang mulai menguning ditelan waktu. Berdirilah barisan pria bersahaja dengan kemeja rapi dan tatapan mata yang memancarkan ketulusan jiwa. Di sana ada Bapak Sugiartono, Bapak Slamet, Bapak Sumantoro, Bapak Tukidji yang memimpin SPGK Adisucipto, serta Bapak Harjanto.
Baca Kelopak Mawar yang Terkoyak: Bukan di Pemangkat Tertambat Cintanya! | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (116)
Sementara di barisan depan duduk dengan kharisma yang tenang adalah Bapak Suyadi selaku Kepala SMA St. Paulus Seminari, didampingi salah satu guru tampan sepanjang zaman: Bapak Suratman.
Mereka adalah sosok-sosok yang diam namun menyimpan seribu jurus ilmu linuhung. Pakaian mereka mungkin sederhana. Namun nama mereka terukir indah dengan tinta emas di dalam sanubari setiap murid yang pernah mereguk setitik air ilmu dari tangan mereka.
Bapak Suyadi, misalnya, dengan pembawaannya yang polos namun penuh seloroh jenaka, selalu mampu mengusir rasa kantuk dan lelah para murid di jam-jam terakhir pelajaran berat. Siapa yang bisa lupa kalimatnya yang legendaris, mengingatkan anak-anak asrama agar tidak mengeluh hanya karena makan kangkung dan bulgur, sementara sang Maha Guru Kehidupan saja kuat berpuasa empat puluh hari penuh. Seloroh itu disampaikan dengan wajah tanpa dosa, namun mengandung tuntunan batin yang sangat dalam bagi anak-anak muda yang sedang menempa diri.
Pengabdian sunyi di ujung usia
Namun pembaca budiman, di balik senyum jenaka dan ketegasan mereka di depan kelas, tersimpan sebuah duka nestapa yang teramat sunyi. Para guru ini telah menempuh perjalanan ribuan mil, meninggalkan tanah kelahiran dan sanak saudara di Jawa demi mencintai anak-anak yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan mereka.
Baca Oevaang Oeray, Anak Seminari dengan Jurus-Rahasia Surat-surat Politiknya | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (115)
Mereka melepaskan segala kenyamanan demi hidup di kaki gunung yang sunyi, bertahan di tengah keterbatasan fasilitas, dan menghadapi badai kehidupan dengan dada membusung. Kerap kali, di saat rindu kepada kampung halaman membuncah di dalam dada. Mereka hanya bisa memandang ke arah langit malam yang bertabur bintang, sembari menggumamkan doa keselamatan untuk murid-muridnya.
Waktu terus berputar laksana roda pedati yang tak peduli pada rasa lelah manusia. Tahun demi tahun berganti, rambut yang tadinya hitam legam mulai memutih perak, dan guratan keriput di wajah mereka menjadi tanda betapa berat beban yang mereka pikul demi masa depan orang lain. Satu demi satu dari para guru yang terhormat ini mulai memasuki usia senja. Tubuh yang dulunya tegap saat menulis di papan tulis kini mulai membungkuk dimakan usia.
Baca Acara Tetap Memikul Kayu di Jungkit, Sidomet, dan Sungai Tangket - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (114)
Jerih payah mereka tidak pernah dihargai dengan tumpukan harta atau kilauan permata. Mereka tetap hidup dalam kesederhanaan yang teramat sangat. Hingga ajal menjemput dengan cara yang paling sunyi, jauh dari ingar-bingar penghormatan duniawi.
Takzim bagi sang guru
Kini ketika murid-murid didikan mereka telah berhasil melangkah ke empat penjuru angin. Dan menjadi orang-orang besar di kancah negeri, para guru Jawa berhati Poteng itu telah banyak yang mendahului kita menghadap sang Pencipta.
Baca Gosewinus, OFM Cap. dan Visi Edukasi "Nyarumkop Song" yang tak Lekang Zaman - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (101)
Mereka berpulang dalam keheningan, meninggalkan warisan tak ternilai berupa ilmu, budi pekerti, dan karakter baja yang kini melekat pada diri kita. Sungguh, tanpa siraman kasih dan ketelatenan mereka yang tiada batas, kita semua bukanlah siapa-siapa dan tidak akan pernah menjadi apa-apa di atas bumi fana ini.
Saat jemari ini menyentuh permukaan potret kusam mereka, tak terasa setitik air mata hangat jatuh menetes, membasahi pipi dan menyusutkan keangkuhan diri.
Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write
Ada rasa sesak yang menghujam dada ketika menyadari betapa besarnya utang budi kita yang tak akan pernah mungkin bisa terbayar walau dengan segunung emas sekalipun. Hanya untaian doa dan rasa takzim yang setinggi-tingginya yang kini bisa kita persembahkan ke haribaan mereka.
Biarlah angin Gunung Poteng terus membisikkan kidung penghormatan yang abadi, menjaga nama-nama suci mereka agar tetap harum dan abadi di dalam sejarah hidup kita, hingga waktu mempertemukan kita kembali di padepokan keabadian kelak.
Masri Sareb Putra

0 Comments