Darurat Karhutla Gunung Jawa: Dari Petaka Arang hingga Evakuasi Ratusan Pendaki
![]() |
| SOS Darurat Karhutla Gunung Jawa, apalagi di Kalimantan. Ist. |
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) luar biasa hebat secara serentak melanda sejumlah gunung di Pulau Jawa hingga menghanguskan ratusan hektare kawasan hijau.
Kobaran api dilaporkan mengamuk hebat di wilayah Gunung Lawu, Gunung Sumbing, Gunung Arjuno-Welirang, Gunung Ciremai, Gunung Argopuro, hingga kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Tim gabungan dari berbagai unsur kini sedang berkejaran dengan waktu untuk menjinakkan si jago merah. Mereka terus mengupayakan pemadaman lewat jalur darat maupun operasi udara. Cuaca ekstrem dan medan yang terjal membuat perjuangan para petugas di lapangan menjadi sangat berat.
Baca Amuk Massa akibat Krisis Multidimensi dan Lapar, Semoga Tidak Terjadi (Lagi)
Krisis lingkungan ini memicu perhatian serius dari berbagai pihak. Kerusakan ekosistem yang terjadi dinilai sangat masif karena vegetasi alamiah yang menjadi penyangga kehidupan ikut musnah. Selain merusak keanekaragaman hayati, bencana ini juga mengancam keselamatan warga sekitar dan para pencinta alam. Asap tebal mulai menyelimuti beberapa wilayah di sekitar lereng gunung yang terbakar. Hal tersebut memicu kekhawatiran akan timbulnya penyakit saluran pernapasan pada masyarakat.
Amukan Api di Lawu dan Sumbing
Bencana ini tersebar di beberapa titik krusial yang berada di jantung Pulau Jawa. Di wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, api membakar kawasan Tawangmangu di Gunung Lawu sejak pertengahan Oktober 2026. Area yang hangus di sana sangat luas karena mencapai sekitar 490 hektare lahan vegetasi. Pihak kepolisian kini tengah menyelidiki penyebab pasti bencana tersebut atas instruksi khusus dari Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Dugaan sementara muncul karena petugas menemukan bekas pembakaran pembuat arang di lokasi kejadian. Aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab ini diduga kuat menjadi pemicu awal timbulnya percikan api di tengah kondisi cuaca yang sangat kering.
Baca Wrong or Wrong My Country dan Cara Jaya Suprana secara Jenaka Memandang Indonesia
Kondisi memprihatinkan juga terjadi di Gunung Sumbing yang terletak di wilayah administrasi Wonosobo, Magelang, dan Temanggung. Kebakaran hebat di wilayah Wonosobo dilaporkan telah melahap area seluas 306 hektare dalam waktu singkat. Di sisi lain, titik api baru di jalur pendakian via Magelang juga dilaporkan terus meluas hingga puluhan hektare per 21 Oktober 2026.
Menanggapi situasi yang makin kritis ini, pemerintah daerah bergerak cepat menetapkan status tanggap darurat bencana. Otoritas setempat tidak ingin mengambil risiko yang dapat membahayakan keselamatan manusia di atas gunung. Guna mengantisipasi jatuhnya korban jiwa, sebanyak 152 pendaki telah dievakuasi turun dengan selamat. Seluruh jalur pendakian resmi menuju puncak Gunung Sumbing kini ditutup total untuk sementara waktu.
Pemerintah daerah bersama dengan relawan terus bersiaga di posko-posko darurat yang didirikan di kaki gunung. Logistik untuk para petugas pemadam dipastikan tercukupi agar penanganan bisa berjalan maksimal. Evakuasi para pendaki berjalan dramatis karena beberapa di antaranya sempat terjebak kabut asap. Beruntung, kesigapan tim penyelamat membuat seluruh pendaki bisa kembali ke basis utama tanpa mengalami cedera serius. Kendati demikian, trauma mendalam tentu dirasakan oleh mereka yang menyaksikan langsung bagaimana api mengepung jalur pendakian.
Krisis meluas ke Arjuno dan Ciremai
Sementara itu, amukan api di Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur, kembali mendekat dan meluas sejak pertengahan Oktober 2026. Petugas di lapangan setidaknya masih mendeteksi adanya 70 titik api aktif yang tersebar di beberapa vegetasi kering.
Kondisi angin yang berembus tidak menentu membuat titik api baru mudah bermunculan. Vegetasi berupa semak belukar yang mengering akibat kemarau panjang menjadi bahan bakar yang sangat sempurna bagi perluasan api. Petugas kehutanan bersama masyarakat peduli api terus bersiaga di perbatasan hutan produksi dan hutan lindung untuk membuat sekat bakar.
Bergeser ke wilayah Jawa Barat, kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai juga mulai terbakar sejak Rabu malam, 21 Oktober 2026. Petugas dari pihak taman nasional bersama dengan para relawan masih terus berjibaku di lapangan demi mengendalikan situasi yang ada. Lereng gunung yang curam menjadi tantangan tersendiri bagi personel yang mencoba mendekati pusat api. Mereka membawa peralatan manual seadanya karena kendaraan roda empat tidak dapat menembus medan yang ekstrem. Konservasi keanekaragaman hayati di Ciremai kini terancam mengalami kemunduran akibat hilangnya habitat flora dan fauna endemik.
Darurat Nafas: Tetapkan Status sebagai Bencana Nasional dan Pastikan Tidak Berulang Lagi! - Siaran Pers tentang Karhutla di Kalimantan yang Mestinya Agenda Utama Negara
Pihak pengelola Taman Nasional Gunung Ciremai mengimbau masyarakat sekitar untuk tidak melakukan aktivitas yang memicu percikan api. Pembukaan lahan dengan cara membakar atau membuang puntung rokok sembarangan dapat berakibat fatal. Pengawasan di pintu-pintu masuk hutan diperketat guna mencegah adanya oknum yang tidak bertanggung jawab masuk ke kawasan rawan. Penutupan jalur pendakian di Ciremai juga langsung diberlakukan begitu asap mulai terlihat membubung tinggi ke angkasa.
Kepulan Asap di Argopuro dan TNBTS
Kebakaran juga merembet ke gunung-gunung lain yang berada di kawasan timur Pulau Jawa. Titik api terpantau pertama kali di wilayah kaki Gunung Argopuro. Kobaran api ini dengan cepat meluas hingga ke sekitar wilayah administrasi Situbondo serta Probolinggo. Angin kencang yang berembus di atas bukit membuat api melompat dari satu lembah ke lembah lainnya. Petugas kewalahan karena lokasi kebakaran berada di area yang sangat terisolasi dari jangkauan transportasi darat.
Insiden serupa menimpa kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang mencakup wilayah Gunung Semeru dan Gunung Bromo. Kebakaran di kawasan konservasi ini berdampak sangat serius pada aktivitas pariwisata internasional. Estetika alam yang biasanya menarik ribuan wisatawan kini tertutup oleh kabut asap yang pekat. Otoritas setempat akhirnya terpaksa mengambil keputusan pahit dengan menutup total seluruh jalur pendakian dan akses wisata.
Langkah berani ini diambil demi keselamatan para pengunjung selama masa penanganan darurat berlangsung. Penutupan ini tentu berdampak langsung pada perekonomian masyarakat lokal yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata. Pemandu wisata, penyedia jasa jip, hingga pemilik penginapan harus rela kehilangan penghasilan untuk sementara waktu.
Baca Panglima Jilah di Agrinas: Mewakili Kepentingan Siapa?
Kerugian ekonomi akibat penutupan kawasan wisata ini diperkirakan mencapai angka yang cukup besar. Namun, pemulihan ekosistem dan keselamatan jiwa manusia tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Pihak balai besar taman nasional terus melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat untuk meminta bantuan armada tambahan. Mereka berharap hujan buatan atau teknologi modifikasi cuaca dapat segera diterapkan di wilayah Jawa Timur untuk membantu memadamkan api yang sulit dijangkau manusia.
Perjuangan berat tim gabungan
Proses pemadaman di seluruh lokasi kebakaran hutan dilakukan secara paralel lewat operasi darat serta udara. Operasi water bombing menggunakan helikopter dikerahkan secara intensif pada titik-titik api yang mustahil dijangkau dengan berjalan kaki. Helikopter bolak-balik mengambil air dari sumber terdekat untuk dijatuhkan tepat di atas kobaran api. Namun, strategi ini tidak selalu berjalan mulus karena sangat bergantung pada kondisi cuaca di atas gunung.
Sayangnya, perjuangan tim gabungan di lapangan menghadapi tantangan yang luar biasa berat. Mereka harus berhadapan langsung dengan embusan angin kencang yang sering kali mengubah arah rambatan api secara tiba-tiba.
Di sampingn itu, kepulan kabut tebal dan asap pekat membuat jarak pandang menjadi sangat terbatas. Kondisi ini sangat membahayakan keselamatan pilot helikopter maupun petugas darat yang bisa saja terjebak di tengah kepungan api. Pasokan oksigen portabel dan masker khusus menjadi barang yang sangat krusial bagi para relawan yang berada di garis depan.
Baca 12 Taktik Konkret Rust en Orde Hindia Belanda
Evaluasi taktik pemadaman terus dilakukan setiap malam oleh posko komando utama. Jika angin terlalu kencang, operasi udara terpaksa dihentikan demi keselamatan penerbangan. Fokus kemudian dialihkan pada pembuatan sekat bakar secara manual oleh tim darat pada malam hari saat suhu udara sedikit menurun.
Perjuangan tanpa lelah dari TNI, Polri, BPBD, dan para relawan ini merupakan bentuk dedikasi tinggi demi menyelamatkan sisa-sisa hutan Jawa yang masih ada. Kesadaran masyarakat luas kini amat sangat dinantikan. Supaya bencana serupa tidak kembali terulang pada masa mendatang.
*) Penulis seorang rimbawan dan konservatolog, tinggal di Jakarta.


0 Comments