Amuk Massa akibat Krisis Multidimensi dan Lapar, Semoga Tidak Terjadi (Lagi)

Amuk Massa akibat Krisis Multidimensi dan Lapar,
Amuk massa di Indonesia akibat krisis multidimensi dan frustrasi: kiranya tidak terjadi (lagi). Ist.

Anatomi amuk massa tidak pernah rumit. Ia adalah akumulasi dari tiga fase sosiologis yang dingin. Kehancuran tatanan selalu bermula dari bawah. Dari perut yang lapar. Dari keputusasaan yang akut. Dari kebutuhan purba akan sebuah pelampiasan.

Masyarakat yang diam bukan berarti menerima. Di balik ketenangan palsu di akar rumput, ada api yang terus memakan kayu bakar. Kemiskinan absolut sering dituduh sebagai biang keladi kerusuhan sosial. Anggapan itu tidak sepenuhnya tepat. 

Baca Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Kalimantan

Manusia bisa bertahan dalam kemiskinan yang merata. Mereka bisa memaklumi paceklik jika semua orang mengalaminya. Kebersamaan dalam penderitaan melahirkan solidaritas. Namun, cerita menjadi lain jika ada pemisahan yang tajam. Cerita menjadi berdarah jika ada jurang menganga.

Ted Robert Gurr menyebut fenomena ini sebagai Relative Deprivation. Deprivasi relatif adalah sebuah kondisi psikologi sosial yang berbahaya. Seseorang atau sekelompok orang merasa tidak mendapatkan apa yang seharusnya mereka terima. Masalahnya bukan sekadar ketiadaan makanan. Masalah utamanya adalah jarak lebar. Jarak antara apa yang dirasa berhak didapat dengan kenyataan pahit yang diterima sehari-hari.

Bayangkan sebuah tatanan. Di satu sisi, ada kelompok yang kesulitan membeli beras kualitas terendah. Anak-anak mereka menangis menahan lapar sebelum tidur. Di sisi lain, sekelompok kecil elite memamerkan kemewahan tanpa sensor. Mereka mempertontonkan kekayaan hasil kongkalikong kekuasaan. Jarak inilah yang melahirkan frustrasi kolektif. Ia bukan lagi sekadar kecemburuan sosial. Ia sudah menjelma menjadi kesadaran akan ketidakadilan struktural.

Baca Dayak dalam Pusaran "Political Decay" Bangsa Indonesia Hari Ini

Dollard memperkuat analisis ini lewat Frustration-Aggression Hypothesis. Frustrasi tidak pernah menguap begitu saja. Ia adalah energi psikologis yang padat. Ketika saluran resmi tersumbat, frustrasi akan mencari jalan keluar sendiri.

Indonesia 1998 

Jalan keluar itu bernama agresi. Saluran resmi dalam sistem sosial berupa hukum, lembaga perwakilan, dan dialog. Ketika semua lembaga itu tuli, massa kehilangan kepercayaan pada sistem. Hukum dianggap hanya tajam ke bawah. Keadilan dianggap barang dagangan yang mahal.

Indonesia tahun 1998 adalah contoh paling telanjang di depan mata. Krisis moneter menghancurkan sendi-sendi ekonomi dalam hitungan bulan. Nilai tukar rupiah anjlok drastis. Harga kebutuhan pokok melambung tinggi ke langit. 

Baca Moratorium Transmigrasi: Teras Narang Dorong Evaluasi Total demi Keadilan Sosial di Kalimantan

Toko-toko kehabisan stok susu dan minyak goreng. Perut-perut mulai lapar. Keputusasaan terpendam lama di bawah tanah. Rasa lapar bercampur dengan kemarahan atas praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang akut. Semua elemen frustrasi kolektif sudah lengkap. Tatanan sosial telah berubah menjadi gudang mesiu yang kering. Tinggal menunggu waktu.

Pemantik api di tengah krisis

Bahan bakar yang melimpah tidak akan menyala tanpa pemantik. Gudang mesiu yang kering tetap berupa tumpukan bubuk hitam jika tidak ada percikan api. Di sinilah fase kedua dalam sosiologi amuk massa bekerja. Massa membutuhkan sebuah pemicu yang nyata. Sebuah peristiwa tunggal yang sanggup menggerakkan emosi jutaan orang dalam satu detik yang sama.

James M. Jasper menyebut pemicu ini sebagai Moral Shock. Kejutan moral adalah sebuah peristiwa traumatis. Sebuah kejadian yang merobek rasa kemanusiaan paling dasar. Ia melampaui batas toleransi yang bisa diterima oleh nalar publik. Peristiwa ini bertindak sebagai lonceng kematian bagi kepasifan publik. Masyarakat yang awalnya memilih diam dan pasrah tiba-tiba tersengat. Mereka merasa martabat kemanusiaan mereka telah diinjak-injak sampai batas paling dalam.

Kejutan moral ini tidak berdiri di ruang kosong. Ia biasanya berkelindan dengan kerapuhan sistem politik yang sedang berjalan. Charles Tilly dan Sidney Tarrow menjelaskan kondisi ini lewat konsep Political Opportunity Structure. Struktur kesempatan politik mengacu pada celah kekuasaan. Ada krisis hebat di tingkat elite. Ada keretakan di kalangan penguasa yang selama ini tampak solid. Ada pelemahan kontrol aparat negara terhadap wilayah publik.

Ketika elite sibuk menyelamatkan diri sendiri, kontrol sosial melonggar. Negara yang biasanya tampak perkasa dan menakutkan tiba-tiba terlihat rapuh. Kelemahan ini terbaca oleh massa yang sedang frustrasi. Mereka melihat bahwa dinding kekuasaan tidak lagi sekokoh yang dibayangkan. Rasa takut yang selama ini memenjarakan publik mendadak sirna. Berganti menjadi keberanian kolektif yang tak terkendali.

Tragedi penembakan mahasiswa Trisakti pada Mei 1998 adalah contoh sejarah yang sempurna. Empat nyawa mahasiswa melayang di tangan peluru aparat. Mereka bukan kriminal. Mereka adalah anak-anak muda yang menyuarakan isi hati rakyat yang kelaparan. Kematian mereka adalah moral shock yang dicatat sejarah. Kematian itu merobek batas kesabaran publik. Kematian itu terjadi tepat saat rezim Orde Baru mengalami keretakan internal yang parah di tingkat elite.

Baca Cornelis dan Politik Aspirasi dari Kalimantan Barat

Tanpa peristiwa penembakan itu, frustrasi massa mungkin tetap membeku. Kemarahan publik mungkin hanya akan tersimpan sebagai kepasifan yang dingin di dalam rumah masing-masing. Namun, begitu pemantik menyala saat struktur kekuasaan sedang goyah, ledakan sosiologis terjadi. Ia tidak lagi bisa dibendung oleh barikade kawat berduri. Ia tidak lagi takut pada moncong senapan. Api menjalar cepat dari kampus ke jalanan raya. Menjadi amuk yang menghanguskan kota.

Berburu kepala musuh bersama

Energi kemarahan yang liar tetap membutuhkan kompas. Tanpa arah, amuk massa hanya akan menjadi gerakan acak yang cepat padam. Agar agresi kolektif bisa bertahan dan bergerak masif, massa harus melihat satu sasaran yang jelas. Mereka harus menemukan satu musuh bersama. Kita menyebutnya sebagai public enemy.

René Girard menjelaskan fenomena psikologi sosial ini lewat mekanisme kambing hitam. Konsepnya dinamakan scapegoating. Dalam situasi krisis ekonomi dan sosial yang akut, ketegangan di dalam masyarakat sangat tinggi. Semua orang saling curiga. Semua orang merasa terancam. Agar masyarakat tidak hancur saling membunuh sesama mereka sendiri, mereka membutuhkan satu objek luar. Mereka butuh satu sosok penjahat tunggal yang bisa memikul seluruh dosa dan kesalahan tatanan.

Massa membutuhkan personifikasi dari rasa lapar mereka. Mereka butuh satu wajah konkret yang mewakili ketidakadilan struktural. Mereka butuh satu kelompok elite untuk disalahkan atas seluruh penderitaan anak-istri mereka di rumah. Menunjuk satu public enemy memberikan keuntungan psikologis bagi massa. Ia memberikan sebuah perekat sosial yang instan. Ia menciptakan satu rasa kebersamaan semu yang sangat merusak namun sangat solid.

Gustave Le Bon dan Reicher melihat fenomena ini sebagai momen deindividuasi. Di dalam kerumunan massa yang beringas, kepribadian sadar dari masing-masing individu mendadak lenyap. Kesadaran mandiri menguap digantikan oleh jiwa kolektif. Seseorang tidak lagi berpikir sebagai seorang ayah, seorang guru, atau seorang buruh yang taat hukum. Ia melebur total ke dalam emosi kolektif yang beringas. Ia mengadopsi moralitas kerumunan.

Ketika satu target musuh bersama sudah disepakati oleh emosi massa, batas-batas moralitas lama runtuh. Menyerang rumah elite, merusak gedung parlemen, atau membakar aset figur otoritas tidak lagi dirasa sebagai kejahatan. Tindakan destruktif itu justru dirasa sebagai sebuah tugas suci. Kekerasan dianggap legal dan bermoral karena dilakukan bersama-sama atas nama perlawanan terhadap simbol penindasan.

Baca Dayak dalam Pusaran Pemikiran Filsafat Politik

Dalam panggung sejarah politik Indonesia, kita sering melihat pola ini berulang. Ketika rakyat menderita akibat kebijakan ekonomi yang mencekik, kemarahan publik sering kali mengkristal pada figur-figur menteri keuangan atau anggota DPR yang dianggap arogan. Mereka menjadi simbol dari sebuah sistem yang dianggap tidak memiliki empati pada rakyat miskin. Wajah mereka di media massa menjadi sasaran caci maki kolektif. Mereka adalah target yang mempersatukan jutaan kepala yang sedang frustrasi.

Takdir sejarah tak terhindarkan

Model amuk massa ini sebenarnya memiliki alur yang linier dan mekanis. Frustrasi kolektif akibat perut lapar dan ketidakadilan relatif akan berpadu dengan polarisasi terhadap musuh bersama. Kondisi padat ini kemudian dihantam oleh satu pemantik tunggal. Hasil akhirnya adalah sebuah ledakan amuk massa yang dahsyat.

Clifford Geertz dan James C. Scott pernah merekam dinamika lokal ini dengan sangat jeli dalam studi mereka tentang masyarakat agraris. Scott memperkenalkan konsep perlawanan tersembunyi yang disebut infrapolitics. Rakyat kecil yang tertindas jarang melakukan pemberontakan terbuka jika risiko yang dihadapi terlalu besar. Mereka memilih jalur belakang. Mereka melakukan sabotase kecil, menyebarkan gosip politik, atau berpura-pura patuh di depan penguasa.

Namun, kepatuhan palsu itu memiliki batas kedaluwarsa. Perlawanan yang awalnya tersembunyi di balik dinding-dinding rumah penjelata akan selalu pecah menjadi amuk terbuka jika semua syarat sosiologisnya terpenuhi. Kita harus ingat satu hal penting. Perut yang lapar tidak otomatis melahirkan sebuah revolusi sosial. Banyak masyarakat di belahan dunia yang tetap diam dalam kemiskinan mereka. Mereka pasif karena kontrol sosial negara terlalu ketat atau karena rasa putus asa mereka sudah terlalu dalam hingga mematikan kehendak untuk melawan.|

Baca Kehutanan Bukan Lagi Penguasa Kawasan, Melainkan Penjaga Masa Depan

Cerita sosiologis menjadi lain jika rasa lapar itu bertemu dengan rasa ketidakadilan yang akut. Cerita berubah total ketika penderitaan fisik diorganisasi oleh kesadaran bahwa mereka sedang ditipu oleh elite penguasa. Kemarahan itu tidak lagi tersebar liar, melainkan terfokus pada satu musuh bersama yang jelas. Lalu, di tengah situasi panas tersebut, sebuah pemicu moral yang tepat datang menghantam.

Ketika semua titik itu terhubung, tidak ada lagi kekuatan di dunia yang bisa menahan laju massa.

Teori-teori sosiologi dari Gurr, Dollard, Jasper, hingga Scott bukan sekadar deretan teks di atas kertas akademis. Mereka adalah rumus matematika sosial yang nyata. Amuk massa, dengan demikian, bukan lagi sebuah kebetulan sejarah yang aneh. Amuk massa adalah sebuah takdir sejarah yang logis, dingin. 

Amum massa itu tak terhindarkan ketika keadilan telah lama mati di sebuah negeri.

Jakartam 22/10-2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.