Gereja Sanggau : Kenangan Itu Selalu Kuingat | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (122)

 

Gereja Sanggau: Kenangan itu selalu kuingat
Gereja Sanggau: Kenangan itu selalu kuingat. Dok. Ist.

Gereja Sanggau yang tinggal dalam kenangan ini saksi kemeriahan Ekshibisi & Tour Natal 1978 di Sanggau. Di sini tertinggal kenangan magisnya panggung seni anak Nyarumkop. Juga serunya tanding volley putra di lapangan terbuka, di atas rumput hijau, depan gereja yang tinggal kenangan.

Jagat persilatan literasi dan sejarah terus berputar laksana roda pedati fana. Namun, ingatan akan sudut-sudut tanah Sanggau Kapuas pada penghujung tahun 1978 tetap terpatri mati di dalam dinding sanubari. 

Bangunan boleh roboh, ingatan: tidak!

Di atas sebidang tanah berbukit landai yang ditumbuhi rerumputan hijau. Berdiri dengan megahnya Gereja Hati Kudus Yesus Sanggau. 

Baca Rentak Musik dan Volley PKN Sanggau Plus 1978: Promosi Jitu Zaman Itu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (105)

Bangunan putih beratap merah dengan menara lonceng besi yang menjulang tinggi di sampingnya itu menjadi saksi bisu dari sebuah siasat promosi paling jitu yang pernah diukir oleh para pendekar muda Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN).

Pagi itu. Ketika sang surya mulai condong ke barat menyisakan semburat merah yang membakar ufuk langit. Tiga unit minibus colt-diesel melaju kencang membelah debu jalanan yang beterbangan. 

Rombongan pengembara dari kaki Gunung Poteng ini dipimpin langsung oleh kepala pasukan yang teramat sakti prinsipnya: Pendekar Tan Un Mao, alias Pastor Petrus Rostandy. Sang guru besar yang biasanya terkenal segarang macan tutul di dalam benteng padepokan Wisma Widya. Seketika berubah watak menjadi begitu teduh dan penuh belarasa saat mendampingi anak-anak asuhnya di bumi perantauan fana.

Baca Telaga Biru Sekabu dan Rahasia Para Bidadari Mandi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (104)

Setibanya di Sanggau. Setelah urusan penginapan diatur oleh Pak Surajiyo di atas loteng sunyi berlantai kayu,. Para cantrik langsung bersiap menghadapi ajang unjuk ketangkasan fisik. 

Permainan olahraga volley  yang mengikat

Tepat di lapangan tanah yang membentang di depan fasad megah Gereja Sanggau. Perhelatan olahraga dimulai. Pertandingan volley putra digelar dengan penuh keseruan dan sorak-sorai yang membelah angkasa.

Baca Darurat Nafas: Tetapkan Status sebagai Bencana Nasional dan Pastikan Tidak Berulang Lagi! - Siaran Pers tentang Karhutla di Kalimantan yang Mestinya Agenda Utama Negara

Di barisan belakang Nyarumkop, benteng pertahanan dikawal kokoh oleh Petrus Kanisius yang bertindak sebagai wasit, bersama Honoratus Vitalis, Kasianus Julin, H. Y. Maliki, Albinus, Darmo, Florentinus Anis, dan Thadeus Yus. Mereka bahu-membahu menahan gempuran Team SMPK Sugiyopranoto Sanggau yang mengandalkan kelincahan Yosef Joko Sintrajaya alias Ajok tepat di depan F. Anis.

Ketika fajar Minggu pagi menyingsing membawa kesegaran embun murni, keheningan tepian Kapuas bumo Daranante-Babai Cinga, Sanggau seketika pecah oleh alunan agung Misa Kudus. Misa dipimpin oleh Pastor Petrus Rostandy di dalam gereja. N

amun, keajaiban sejati dari misi promosi ini baru memuncak saat malam tiba melabuhkan tirainya yang hitam pekat. 

Ruangan suci di dalam gereja tua yang sarat nilai sejarah itu seketika berubah menjadi lautan manusia. 

Umat dan penonton dari berbagai generasi datang berbondong-bondong, duduk berhimpitan di atas bangku-bangku kayu demi menyaksikan malam pentas kesenian.

Di bawah naungan jendela kaca vertikal yang menjulang tinggi di dalam gereja. Panggung hiburan berlangsung teramat semarak dan menghanyutkan perasaan. Hadirin duduk di bangku gereja yang biasanya untuk Misa. Namun malam itu berubah menjadi sukacita dunia.

Paduan Suara Nyarumkop menggelegar dahsyat membawakan lagu "Nyarumkop Song". Suasana seketika mencair laksana es diterpa sang surya saat Selly melantunkan suara emasnya lewat lagu "Semua Sama" karya Koes Plus, disusul petikan rancak irama Amerika Latin dari Gunawan yang membawakan "Una Paloma Blanca".

Baca Pak Lopak, Maafkan Anak-anak PKN yang Belum Bayar! | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (121)

Di tempat yang sama. Tepat di depan altar. Terseliplah sebuah fragmen batin yang teramat menggelikan sekaligus menyentuh sukma dari kelompok Duo Sareb Brothers. Masri, seorang bocah ingusan yang saat itu tengah diguncang hebat oleh badai puber akil balig. Ia nekat maju ke depan panggung mencoba meniru lengkingan pita suara Charles Hutagalung lewat lagu "Inikah" dari album The Mercy's. 

Ketika suara pubernya bergetar hebat. Dan nyaris tergelincir jatuh ke dalam jurus sumbang pada nada-nada terjal, sang abang, H.Y. Maliki, yang bersiap di belakang dengan sigap langsung menyahut dan meneruskan not-not tertinggi. Sebuah tipu muslihat panggung yang indah, di mana sang abang bertindak bagai juru selamat yang khusus disewa untuk menutup malu!

Promosi PKN ketika itu

Siasat promosi padepokan lewat unjuk ketangkasan volley di halaman depan. Juga keluhuran seni di dalam altar Gereja Sanggau ini terbukti amat mustajab. 

Rentak musik dan kepolosan rasa yang dialirkan malam itu berhasil membius rasa takjub di dada para pemuda belia setempat. Mereka itu Yanto, Agus Benedi, Titin, hingga Paolus Hadi—bupati Sanggau di masa depan. 

Baca Baca Suster Adriana, Kenangan Itu Selalu Kuingat.... | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (119)

Tatapan mata mereka terkunci rapat. Dan sejak malam yang magis di Gereja Sanggau itulah. Benih kerinduan menuntut ilmu ke Persekolahan Katolik Nyarumkop mulai tumbuh subur di dalam sanubari mereka.

Kenangan itu selalu kuingat

Tiap kali melintasi jalan berkelok yang membentang di atas riak Sungai Engkakal yang mengalir tenang. Pandangan mata ini selalu tertuju pada sebuah bangunan megah yang berdiri dengan anggunnya. 

Sebuah gereja katedral bergaya modern dengan sentuhan etnik lokal yang kental kini tegak menantang langit. Memamerkan kemajuan zaman yang tak tertahankan. Namun, bagi selembar jiwa yang pernah ditempa oleh waktu. Kemegahan arsitektur baru itu perlahan memudar. Tergantikan oleh bayang-bayang masa lalu yang datang mengetuk dinding ingatan.

Di dalam alam pikiran yang ditarik mundur oleh kabut nostalgia. Ujud katedral modern itu seketika runtuh dan menjelma kembali menjadi sebuah bangunan gereja tua yang bersahaja. Di tempat suci yang sarat akan nilai sejarah itulah. Seolah waktu berhenti berputar dan membiarkan kenangan lama bersemi kembali. 

Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Telinga ini seakan senantiasa mendengar senandungsayup dari lagu legendaris milik Panbers, sebuah kidung bertajuk "Gereja Tua" yang nadanya mengalun syahdu membelah keheningan sunyi di sekitar kapel.

Bait demi bait dari lagu tua itu meluncur, membawa serta getaran rasa yang teramat mendalam dan menggetarkan sukma.

Di tengah sapuan angin sore yang bertiup dari lereng pegunungan. Bayangan peristiwa puluhan tahun berselang. Kembali hadir dengan sangat nyata di depan mata. 

Lalu sebuah bisik sanubari lirih. Meresapi sisa-sisa napas senja yang mengunci fragmen kebersamaan masa remaja yang takkan pernah layu digilas roda zaman.

Tanganmu kupegang erat-erat, kenangan itu kuingat....

Masri Sareb Putra
Pagi tanpa matahari, 16 Oktober 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.