Murry Menambah Kekuatan bukan Beban pada "Ya Fatimah" | Belajar Plus dari Murry (19)

Fatimah. Bukan hanya nama di lirik lagu. Ia menjadi bayangan yang kami bawa pulang, yang kami bisikkan pelan. Nama yang kami dendangkan bersama tanpa pernah mengaku kepada siapa wajah yang sesungguhnya kami maksud.

Di ujung tahun 1977. Ketika debu halaman SMA Nyarumkop masih menempel di sepatu, dan angin musim kemarau membawa bau daun jambu yang mengering, sebuah nama beredar di antara kami seperti kode rahasia.

Baca Pukulan yang Seolah Salah dalam “Kembali ke Jakarta” | Belajar Plus dari Murry (18)

Salah satu nomor Koes Plus yang paling sering kami nyanyikan. Ciang moi, tinggi semampai, langkahnya ringan. Di antara deretan murid SPG yang lalu-lalang, ia lewat seperti angin yang tidak ingin ditinggal begitu saja. Kami, anak-anak remaja yang degil dan penuh rahasia, menjadikan lagu itu milik kami. Judulnya “Ya Fatimah”, tapi dalam dada masing-masing, nama itu sudah berganti wajah. Pacar diam-diam. Bayangan di perjalanan pulang. Impian yang belum berani diucapkan.

Kenangan di Halaman Sekolah

Setiap kali reff itu naik, “Ya Fatimah, ya Fatimah…”, suara kami menyatu, sementara pikiran kami berpisah jalan. Satu nama, banyak wajah. Halaman sekolah yang berdebu, derit sepeda di jalan setapak, bayang-bayang pohon jambu yang menari di sore hari, semuanya ikut bergetar. Lagu itu tidak hanya terdengar. Ia menempel di langkah kaki, di degup dada, di rahasia yang kami simpan sendiri-sendiri.

Ketukan Kudus di Ujung Stik Kasmuri | Belajar Plus dari Murry (17)

Bertahun-tahun kemudian, ketika lagunya kembali muncul di tengah kesunyian, yang datang bukan hanya wajah itu. Yang lebih kuat adalah denyut di balik melodi. Denyut yang lahir dari tangan seorang drummer yang jarang dibicarakan panjang, padahal tanpa dirinya Koes Bersaudara tidak akan pernah menjadi Koes Plus. Ia adalah Murry.

Sederhana namun kokoh

Permainan drum Murry dalam “Ya Fatimah” berdiri seperti rumah yang dindingnya lurus dan tiangnya kuat. Tidak ada ukiran berlebihan. Tidak ada ornamen yang memaksa mata. Pola dasarnya 4/4 yang bersih. Kick di ketukan satu dan tiga. Snare tegas di dua dan empat. Hi-hat merata, sedikit terbuka, memberi rasa mengalir. 

Pola itu hampir tidak berubah dari awal hingga akhir. Kestabilan itulah tulang punggungnya.Tempo berada di sekitar seratus tiga puluh detak setiap menit. Tidak terburu-buru, tidak juga menahan. Cukup untuk membuat kaki ikut mengetuk, cukup untuk menjaga rindu agar tidak menjadi ratapan. Fill yang ia masukkan singkat, tepat di peralihan bait ke reff, atau di ujung frasa yang seolah ingin ditahan sebentar. Kombinasi snare dan tom yang sederhana. Tidak rumit. Tidak meminta perhatian. Hanya memberi napas dan dorongan agar lagu terus melangkah.

Belajar Plus dari Murry dalam "Ya Fatimah" ini

Murry duduk di belakang. Ia tidak pernah maju ke depan panggung. Namun justru dari situ kekuatannya terasa. Ia mengerti arti “Plus” dengan cara yang jarang dimiliki orang. Bukan penambahan yang membebani, melainkan penopang yang membuat segalanya berdiri lebih tegak. Di bagian bait, pukulannya tertahan, memberi ruang bagi cerita. Ketika reff naik, tekanan snare dan kick sedikit bertambah. Bukan ledakan. Hanya dorongan halus yang membuat dada ikut berdegup.

Baca Keberanian Menghentak Pertama dalam "Penyanyi Muda" | Belajar Plus dari Murry (15)

Ia menyisipkan sedikit gigi rock ke dalam tubuh lagu yang manis, tanpa merusak kelembutannya. Lagu tetap ringan, namun punya tulang. Tanpa permainan itu, “Ya Fatimah” mungkin tetap indah, tetapi akan kehilangan denyut yang membuatnya menempel di hati anak-anak yang degil di tahun 1977. Murry tidak mencoba menjadi bintang. Ia membuat lagu itu sendiri yang bersinar.

Di balik pilihan itu tersimpan filosofi yang dalam. Murry seolah mengajarkan bahwa kehadiran yang paling berharga sering kali bukan yang paling mencolok. Ada kekuatan dalam menahan diri. Ada kemuliaan dalam memberi ruang bagi yang lain untuk bersuara. Ia memilih menjadi fondasi, bukan menara. Ia memilih menjadi denyut, bukan sorotan. Dalam dunia yang semakin ramai saling merebut perhatian, sikap itu terasa seperti perlawanan yang sunyi namun kokoh.

Nilai-nilai yang ia tanamkan melalui permainan drumnya tidak pernah diucapkan secara langsung, namun terasa jelas. Kerendahan hati. Ketepatan. Kesediaan untuk melayani. Kesadaran bahwa sebuah karya yang baik lahir dari kerjasama, bukan dari dominasi. Murry tidak pernah memaksakan kehadirannya. Ia menyesuaikan diri dengan kebutuhan lagu. Ketika lagu membutuhkan kelembutan, ia menahan.

Ketika lagu membutuhkan dorongan, ia memberi tekanan yang cukup. Tidak lebih. Tidak kurang. Itulah disiplin yang jarang diajarkan di mana pun, namun sangat dibutuhkan dalam kehidupan.

Ada edukasi tersembunyi yang bisa dipetik dari cara Murry bermain. 

Pertama, bahwa menjadi penting tidak selalu berarti harus berada di depan. Kadang posisi di belakang justru memberi pengaruh yang lebih lama dan lebih dalam. 

Baca "Ibu dan Lagunya" yang Bikin Malam Saya Ingat Mama | Belajar Plus dari Murry (9)

Kedua, bahwa kesederhanaan yang tepat jauh lebih kuat daripada kerumitan yang berlebihan. Fill yang singkat dan fungsional dalam “Ya Fatimah” justru membuat reff lebih menonjol. Ia tidak bersaing dengan vokal. Ia menopangnya. 

Ketiga, bahwa energi yang baik adalah energi yang memberi napas, bukan yang menyita napas. Murry memberi dorongan tanpa membuat lagu terengah-engah. Ia menjaga keseimbangan.

Keempat, dan mungkin yang paling penting, Murry mengajarkan tentang kehadiran yang setia. Ia tidak absen dari tugasnya. Ia tidak mencari kesempatan untuk menonjol. Ia hadir secara utuh di posisinya, dari awal hingga akhir lagu. Dalam kehidupan, sikap seperti itu jarang dihargai dengan gemerlap, namun sangat menentukan apakah sebuah perjalanan bisa sampai ke tujuan atau tidak. Banyak orang ingin menjadi bintang. Sedikit yang bersedia menjadi denyut yang membuat bintang itu bisa tetap menyala.

"Senja demi Senja", Jurus Tabuh Keroncong sang Maestro yang Keluar Pakem | Belajar Plus dari Murry (11)

Dalam “Ya Fatimah”, semua nilai itu berpadu. Lagu tentang rindu dan kenangan menjadi lebih hidup karena ada tangan yang menopangnya dengan setia. Anak-anak remaja di Nyarumkop dulu bisa mendendangkannya dengan bebas karena ada fondasi yang stabil di bawahnya. Mereka bisa menyimpan wajah masing-masing di balik satu nama karena lagu itu memberi ruang, bukan mengekang. Dan ruang itu, sebagian besar, lahir dari permainan drum yang sederhana, tepat, dan penuh kesadaran.

Murry tidak pernah menulis buku tentang filosofi. Ia tidak berpidato tentang nilai-nilai. Ia hanya duduk di belakang set drum dan bermain. Namun dari cara ia bermain, kita bisa membaca pelajaran yang jauh lebih dalam daripada banyak kata. Bahwa menjadi “Plus” berarti menambah kekuatan tanpa menambah beban. Bahwa menopang lebih mulia daripada menguasai. Bahwa denyut yang stabil sering kali lebih tahan lama daripada sorotan yang menyilaukan.

Satu nama, banyak wajah

Ketika kami mendendangkan lagu itu di halaman SMA Nyarumkop, kami tidak tahu bahwa denyut yang membuat langkah kami lebih ringan berasal dari tangannya. Ia memberi ruang bagi kami untuk menyimpan wajah masing-masing di balik satu nama. Ia tidak meminta perhatian. Ia hanya memberi denyut. Dan denyut itu ternyata lebih tahan lama daripada sorotan apa pun.

Baca "Ibu dan Lagunya" yang Bikin Malam Saya Ingat Mama | Belajar Plus dari Murry (9)

Halaman sekolah itu mungkin sudah berubah. Pohon jambu mungkin sudah diganti bangunan baru. Wajah-wajah yang dulu lewat sudah menyebar ke berbagai arah. Namun setiap kali “Ya Fatimah” terdengar kembali, denyut itu masih sama. Masih stabil. Masih tepat. Masih membuka ruang bagi kenangan untuk masuk dan duduk sejenak.

Satu nama. Banyak wajah. Satu rentak. Banyak rahasia. Dan di belakang semuanya, tangan Murry yang setia menopang, tanpa pernah meminta untuk dikenang.

(Bersambung)

Masri Sareb Putra
Tangsel pagi 07 November 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.