Rentak Pukulan Drum yang Menemukan Tiap Celah Nada | Belajar Plus dari Murry (6)

 

  • Penulis (kanan) bergambar, eh... foto bareng Murry sebelum Koes Pus performance di Summarecon Plaza, 2013.
Kasmuri, lelaki yang kita kenal sebagai Murry, adalah getaran yang menyusup ke dalam kalbu setiap kali jemarinya mulai menyentuh kulit drum.
Murry bukan semata pemukul ritme. Raga dan seluruh jiwanya seorang penyair kehidupan yang meniupkan ruh baru ke dalam tubuh Koes Plus. 

Baca Ketika Tonny Menjemput Takdir Murry | Belajar Plus dari Murry (5)

Ketika Nomo Koeswoyo memilih meletakkan stik drumnya pada tahun 1968, sejarah seolah menahan napas. Tonny Koeswoyo, dengan ketajaman intuisi seorang maestro sekaligus kepiawaian pendekar pilih tanding, mengambil langkah berani yang kelak mengubah peta musik Nusantara. Ia memanggil Murry, seorang pemuda luar yang dibesarkan oleh band Patas Surabaya, untuk masuk ke dalam lingkaran inti trah Koeswoyo. Kehadiran Murry bukan hanya menggantikan yang hilang, melainkan menjadi penanda lahirnya sebuah era baru yang penuh energi, warna, dan vitalitas.

Murry: Kitab kearifan yang terbuka

Bagi saya, entah bagi Anda. Perjalanan hidup Murry adalah sebuah kitab kearifan yang terbuka. 

Hidup ini senyatanya terlalu gersang jika hanya dihabiskan untuk mengunyah rutinitas harian yang menjemukan. Jiwa manusia harus berani melompat lebih tinggi, mengejar capaian prestasi berupa kebaikan atas nama kemanusiaan serta merawat nilai-nilai kehidupan yang sejati. Murry mengajar kita bukan dengan khotbah muluk-muluk di atas mimbar, melainkan dengan laku hidup yang nyata. 

Baca Murry Mengubah Hambatan Menjadi Peluang dan Badai Dinasti Keluarga Koeswojo | Belajar Plus dari Murry (4)

Manusia modern sering kali terjebak dalam ilusi kemegahan, mengira bahwa kontribusi haruslah sesuatu yang raksasa. Padahal, lewat setiap ketukan jemarinya, Murry membuktikan bahwa dalam hal-hal kecil dan sederhana pun, kita memikul tanggung jawab moral untuk memberikan dampak positif. Di mana pun kaki berpijak, memberi nilai tambah pada sesuatu yang sudah baik bukanlah pilihan, melainkan sebuah kewajiban suci sebagai manusia.

Misteri ketukan "Salah" yang memukau dunia

Mari kita tengok jurus andalannya di atas panggung. Sebagai seorang penabuh drum, kepiawaian Murry sebetulnya tidak kalah jika ditandingkan dengan jagoan-jagoan barat seperti Ringo Starr dari The Beatles atau Charlie Watts dari The Rolling Stones. 

Keistimewaan Murry terletak pada keunikan pukulannya yang aneh tapi nyata. Jika didengar sekilas oleh telinga awam, ketukan drumnya kadang-kadang terdengar "seolah-olah salah" atau meleset dari pakem. Namun justru di situlah letak kejeniusannya! 

Baca Arsitektur Dayak dalam Pose Sampul Kaset Jadul Koes Plus | Belajar Plus dari Murry (3)

Rentak ketukan yang nyeleneh itu justru melahirkan sinkopasi, warna ritmis, dan keindahan bunyi yang mengagumkan. Cobalah pasang telinga baik-baik pada lagu-lagu legendaris era 1974 seperti "Kelelawar," "Pelangi," "Bunga di Tepi Jalan," atau "Bujangan." Di sana kita akan mendengar bagaimana gebukan drum Murry begitu energik, bertenaga, sekaligus penuh luapan jiwa. Murry bukan hanya pekerja musik, ia adalah pujangga serbabisa yang otaknya dialiri mata air kreativitas tanpa henti. Gerakannya secepat kilat. Ketika album ke-10 Koes Plus kekurangan satu lagu cadangan, Murry hanya butuh waktu sekejap mata untuk merenung, memetik dawai, dan melahirkan lagu "Bujangan" yang abadi hingga hari ini.

Kidung kaum Marhaen dan harmoni jiwa

Jika kita selami lebih dalam, ada tiga lagu gubahan Murry yang secara khusus mampu menggetarkan relung hati dan mencuri perhatian lintas generasi. 

Pertama, tembang berjudul "Pa Tani" yang digubah dalam langgam Jawa. Ketika lagu ini mengalun, jiwa kita serasa diajak mudik, pulang menjenguk hamparan sawah di pedesaan yang damai dan asri. 

Melalui liriknya yang bersahaja, Murry memotret keringat dan ketekunan kaum marhaen, para petani yang setia merawat bumi. Mendengar "Pa Tani," hati yang panas oleh hiruk-pikuk kota mendadak menjadi adem dan teduh. Tak heran, setiap kali berada di depan layar karaoke, lagu inilah yang kerap saya lantunkan sebagai bentuk penghormatan pada kesederhanaan itu.

Baca Bukan hanya Koes Plus Mania | Belajar Plus dari Murry (2)

Kedua, lagu "Cincin Bermata Biru". Di sini Murry memamerkan kelenturan seninya dengan mengawinkan pop dan sentuhan keroncong yang mendayu-dayu. Kisah cinta yang ia tulis begitu puitis dan menusuk ke dalam sukma. 

Jika biasanya dalam lagu-lagu seperti "Penyanyi Muda," "Desember," atau "Besi Tua" Murry hanya kebagian tugas melempar vokal di bait pembuka lalu disahut beramai-ramai oleh Yon, Yok, dan Tonny, maka dalam "Cincin Bermata Biru" ini Murry bernyanyi secara utuh. Suaranya yang jujur mengiringi melodi keroncong yang romantis, membuktikan kepiawaiannya meramu genre musik yang berbeda menjadi satu harmoni yang aduhai. 

Ketiga adalah tembang melankolis berjudul "Desember". Lagu ini bagaikan sebuah jendela gaib yang seketika melemparkan kita ke masa lalu. Liriknya sarat nuansa nostalgia, memeluk kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah kita lewati dalam perjalanan hidup. "Desember" membawa kedamaian bagi jiwa-jiwa yang merindukan pelukan masa lalu.

Menginspirasi lewat hal sederhana

Koes Plus, yang digawangi oleh para pendekar musik asal Tuban dan Surabaya ini, memang telah menempati maqam yang tak tergantikan dalam babad sejarah musik Indonesia. Puncaknya, mari kita kenang sebuah mahakarya spiritual ciptaan Murry yang termaktub dalam album Kasidah Koes Plus tahun 1974, sebuah tembang puji-pujian bertajuk "Ya Allah." 

Lewat melodi yang menyayat hati dan lirik yang sarat kepasrahan, "Ya Allah" bukan hanya urusan industri hiburan. Lagu ini adalah sebuah jembatan batin, sebuah doa puitis yang menghubungkan makhluk dengan Sang Khalik.

Waktu boleh bergulir. Zaman bisa berganti. Namun keajaiban magis lagu ini tetap memancar, merangkul generasi demi generasi untuk tetap memelihara nilai keagamaan, keindahan, dan kehangatan iman di dalam dada. 

Murry telah menuntaskan tugasnya di dunia fana ini. Ia membuktikan bahwa menginspirasi dunia dan meninggalkan jejak positif tidak harus lewat pedang atau kekuasaan, melainkan bisa lewat hal bersahaja: ketukan drum dan ketulusan bermusik.
(bersambung)

Masri Sareb Putra
Tangsel ketika gulita memeluk malam 03 November 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.