Dayak Wajib Menikmati Booming Sawit di Tanah Warisan Moyangnya

Sawit dan Kesempatan Orang Dayak Menikmati Booming Emas Hijau
Dayak, penduduk asli Kalimantan, wajib menikmati booming sawit di tanahnya. Ist.

Oleh Rangkaya Bada

Di Borneo, tanah yang sejak lama menjadi ibu yang menyusui kehidupan orang Dayak. Kini berdiri tegak barisan pohon sawit. Menjanjikan kekayaan. 

Bersamaan dengan kenikmatan booming sawit, sekaligus terbesit  kegelisahan. “Emas hijau” itu mengalirkan devisa. Membuka jalan baru. Menghadirkan listrik. 

Dayak jangan jadi penonton pasif

Akses yang dulu hanya angan. Namun di balik gemuruh mesin dan grafik pertumbuhan. Ada tanya yang tak bisa lagi ditunda. Apakah orang Dayak sungguh menjadi tuan di tanahnya sendiri. Atau hanya penonton. Berdiri di pinggir ladang yang dahulu diwarisi leluhur?

Baca Perempuan Dayak di Kebun Sawit

Ledakan sawit hari ini tidak berhenti pada angka ekonomi. Ini soal martabat. Soal arah hidup. Sejarah seperti membuka celah. Memberi ruang bagi orang Dayak untuk berdiri. Mengelola. Menentukan nasibnya sendiri. 

Tetapi peluang tanpa kesadaran dan kecakapan mudah berubah menjadi jerat. Halus. Nyaris tak terasa. Tanah dilepas. Hutan ditanggalkan tanpa hitung panjang. Yang tertinggal bukan kesejahteraan. Melainkan kehilangan yang tak terganti. 

Di titik ini pilihan menjadi terang. Hanyut dalam arus. Atau berdiri tegak. Mengambil peran dengan cerdas. Memastikan “emas hijau” menjadi berkat. Bukan petaka.

Kisah pak Apui

Di tepian Sungai Kapuas yang airnya masih keruh membawa lumpur tanah merah. Pak Apui berdiri di tengah kebun sawitnya yang hijau mengkilap di bawah terik matahari Kalimantan Barat

Baca Deforestasi di Kabupaten Melawi Saat ini

Tangan kasarnya memegang tandan buah segar (TBS) yang baru dipanen, matanya menyipit menatap deretan pohon sawit yang dulu adalah hutan belantara. “Dulu kami cuma punya ladang padi dan karet,” katanya sambil tersenyum tipis, suaranya berat seperti akar pohon yang menembus tanah liat. 

“Sekarang? Sawit ini yang bikin kami bisa kirim anak ke sekolah di Pontianak. Tapi, apakah kami benar-benar menikmati boom ini?”

Itulah pertanyaan yang menggantung di hati ribuan petani sawit mandiri di Kalimantan. Dari Sanggau tempat saya lahir, hingga ke Melawi, Ketapang, bahkan hingga Kutai Timur di timur. 

Booming sawit bukan sekadar cerita harga CPO yang naik turun di pasar global. Boleh dikatakan bahwa sawit adalah revolusi yang mengubah wajah Borneo. Sejak awal 2000-an. Luas perkebunan sawit di Kalimantan meledak. 

Baca Dayak di Titik Hijau Pulau Kalimantan

Data Kementerian Pertanian menunjukkan, kontribusi petani mandiri. Mereka yang bukan plasma perusahaan yang mencapai hampir 40 persen dari total produksi nasional. 

Petani sawit mandiri membuka lahan swadaya, menanam dengan bibit seadanya, dan bertarung melawan fluktuasi harga tanpa jaring pengaman perusahaan besar.

Saya ingat betul, saat masih kecil di Jangkang Benua, Sanggau, sawit masih dianggap “tanaman orang kota”. 

Kini di setiap kampung Dayak, betang-betang lama berdiri berdampingan dengan rumah panggung baru yang atapnya dari genteng dan seng. Hasil jual TBS. Banyak rumah orang Dayak tak ubah dan tak kalah dengan rumah orang kota.

Booming sawit ini membawa uang, jalan aspal, listrik, bahkan motor-motor besar yang melintas di jalan tanah merah. Tapi di balik gemerlap itu. Ada cerita yang lebih dalam: petani mandiri seperti Pak Jhonius yang harus “wajib menikmati” boom ini, bukan sekadar bertahan.

Apa yang membuat sawit menjadi boom

Permintaan dunia akan minyak nabati yang murah dan serbaguna. Indonesia jadi raja CPO, dan Kalimantan adalah ladang utamanya. Tapi petani mandiri bukanlah penerima manfaat utama. 

Petani mandiri kerap sering terpinggirkan dari rantai nilai hilirisasi; pabrik-pabrik pengolahan yang kini digalakkan pemerintah. Harga TBS di tingkat petani bisa anjlok hingga Rp800 per kg saat panen raya, sementara di pabrik bisa tiga kali lipat. 

“Kami jual basah, mereka yang untung kering,” keluh Lingkin.

Kini sawit boleh dikataka booming. Dengan harga a rp 3.000/TBS; untung masih ada. Bahkan lebih dari cukup. "Tiga tahun belakangan, harga sawit di Kalimantan stabil," kisah Sarto, petani sawit mandiri di Sanggau. "Pokoknya, jangan di bawah rp 2.000/kilo TBS-lah!" katanya. "Maish ada song!"

Baca Hutan Adat bukan Hutan Negara

Namun, di sinilah letak kewajiban itu: menikmati boom berarti tidak pasrah. Saya pernah mendengar cerita dari petani di Melawi yang mulai merintis koperasi kecil. Mereka tidak lagi menjual ke tengkulak, tapi langsung ke pabrik mitra. 

Hasilnya? Pendapatan naik 30 persen dalam setahun. Itu bukan keajaiban. Itu pilihan sadar untuk mengubah nasib.

Kalimantan bukan lagi hutan belantara semata. Ia adalah lanskap sawit yang hijau, tapi juga rapuh. Banjir, kemarau panjang, hama, semuanya mengancam. 

Petani mandiri yang mandiri sejati adalah mereka yang belajar membaca tanah, membaca pasar, dan membaca masa depan. Booming sawit bukan akhir cerita. Ini awal dari babak baru di mana petani Kalimantan harus berdiri tegak, bukan sekadar penonton.

Di akhir hari, saat matahari terbenam di balik deretan sawit, Pak Satroni duduk di teras rumahnya. Anaknya yang kuliah di Pontianak menelepon, menceritakan kuliahnya. “Bapak, sawit kita ini emas hijau,” katanya. 

Baca Emas atau Tanah? Rangkuman Diskusi di Grup WAG “Literasi Dayak”

Ya, emas hijau. Tapi emas itu harus digali dengan tangan yang pintar, bukan sekadar cangkul biasa. 

Bagaimana petani sawit mandiri di Kalimantan wajib menikmati booming sawit ini sepenuhnya? 

Inilah pangkal-ujung diskusi kita. Mari menjadikan Dayak turut menikmati booming sawit!

0 Comments

Type above and press Enter to search.