Cornelis Dorong Pemberdayaan Desa dan Optimalisasi Lahan Produktif di Landak

Cornelis Dorong Pemberdayaan Desa dan Optimalisasi Lahan Produktif di Landak
Cornelis mendorong pemberdayaan masyarakat desa dan melakukan optimalisasi lahan produktif di wilayah Landak. Ist.

Anggota DPR RI Cornelis menekankan pemberdayaan desa, pemanfaatan lahan produktif, serta pentingnya legalitas tanah dalam kunjungan reses di Landak.

Cornelis, anggota DPR RI Daerah Pemilihan Kalimantan Barat I kembali turun langsung ke desa dalam masa reses. 

Baca Strategi Politik Dayak Inklusif di Kalbar: Pelajaran dari Memoar Cornelis

Kunjungan ke Desa Tonang, Kabupaten Landak, bukan sekadar agenda formal; melainkan bagian dari upaya membumikan kebijakan sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya kemandirian berbasis potensi lokal.

Di tengah warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani tradisional, Cornelis tampil dengan gaya komunikasi yang lugas dan membumi. Tidak berjarak. Tidak bertele-tele. Pesan yang dibawa sederhana, tetapi mendasar: desa harus berdaya, masyarakat harus mandiri, dan tanah tidak boleh dibiarkan tidur.

Reses menyentuh desa pedalaman

Kunjungan ke Desa Tonang menjadi potret bagaimana masa reses dimanfaatkan untuk menyerap aspirasi sekaligus menyampaikan edukasi langsung kepada masyarakat. Dalam forum terbuka bersama warga, Cornelis tidak hanya mendengar keluhan; tetapi juga memberikan pandangan konkret tentang arah pembangunan desa.

Baca Bukit Cornelis di Ngabang: Identitas Dayak Kembali ke Ruang Publik

Isu yang dibahas tidak tunggal. Ia menyentuh aspek kesehatan, keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), serta lingkungan hidup. Namun, benang merah dari seluruh pembahasan tetap mengarah pada satu hal: bagaimana masyarakat desa dapat berdiri di atas kaki sendiri melalui pengelolaan sumber daya yang dimiliki.

Cornelis memahami bahwa desa-desa di pedalaman Kalimantan Barat memiliki tantangan khas, seperti akses terbatas, infrastruktur belum merata, serta ketergantungan pada pola ekonomi tradisional. Karena itu, pendekatan yang digunakan bukan instruksi dari atas; melainkan dorongan dari dalam.

Kalau desa kuat, negara kuat. Namun, kekuatan itu tidak datang dari luar. Ia harus tumbuh dari masyarakat itu sendiri.

Edukasi warga: dari kesehatan hingga lingkungan

Dalam dialog dengan warga, Cornelis menekankan pentingnya keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kualitas hidup. Ia mengingatkan bahwa kesehatan masyarakat merupakan fondasi utama produktivitas.

Warga diimbau untuk menjaga pola hidup bersih dan sehat, memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan penyakit. Dalam konteks kamtibmas, ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga stabilitas sosial di lingkungan masing-masing.

Baca Transmigran Kuasai Pasar Sayur Keliling di Kalimantan Barat

Perhatian tidak berhenti di situ. Isu lingkungan turut menjadi sorotan. Cornelis mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan akan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat desa, terutama yang bergantung pada alam.

Kalau hutan rusak, sungai tercemar, yang pertama merasakan dampaknya adalah masyarakat desa sendiri.

Karena itu, ia mendorong praktik pengelolaan lahan yang bijak; tidak merusak, tetapi tetap produktif. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan, terutama di wilayah Borneo yang selama ini dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia.

Tanah sebagai aset ekonomi dan identitas

Puncak dari pesan yang disampaikan Cornelis terletak pada soal tanah. Ia menegaskan bahwa tanah adalah aset utama masyarakat desa; bukan hanya dalam arti ekonomi, tetapi juga sosial dan kultural.

Di hadapan warga, ia menyampaikan pesan yang tegas.

Urus rumah dan tanahmu. Punya tanah, tanam. Tanam karet, jagung, ubi, sawit; apa saja yang bisa menghasilkan. Kalau dibiarkan menganggur, bisa diambil negara.

Pernyataan ini bukan sekadar peringatan; melainkan ajakan untuk bertindak. Menurut Cornelis, banyak lahan di desa yang belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, jika dikelola dengan baik, lahan tersebut dapat menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan.

Ia juga mengingatkan bahwa tanah memiliki dimensi identitas, terutama bagi masyarakat adat di Borneo. Tanah bukan sekadar ruang ekonomi; tetapi juga ruang hidup yang menyimpan sejarah, budaya, dan hubungan leluhur.

Karena itu, menjaga tanah berarti menjaga jati diri. Kehilangan tanah bukan hanya kehilangan aset; tetapi juga kehilangan pijakan identitas.

Di samping pemanfaatan, Cornelis menyoroti pentingnya legalitas. Ia mengimbau warga untuk mengurus sertifikat tanah, memastikan batas wilayah, dan memiliki dokumen resmi sebagai bukti kepemilikan.

Baca Dayak di Titik Hijau Pulau Kalimantan

Tanah tidak bisa bertambah. Karena itu, statusnya harus jelas secara hukum.

Langkah ini dinilai penting untuk mencegah konflik agraria, baik dengan sesama warga maupun dengan pihak luar, termasuk korporasi.

Cornelis dorongan kemandirian dan arah politik kebangsaan

Dalam bagian lain, Cornelis menegaskan bahwa kemandirian masyarakat tidak boleh bergantung pada bantuan pemerintah semata. Bantuan hanya bersifat stimulan; bukan solusi utama.

Kemandirian dimulai dari rumah dan tanah sendiri. Jangan menunggu, lakukan sekarang.

Baca Ladang Orang Dayak antara Fakta dan Tuduhan tanpa Dasar

Pesan ini menegaskan perubahan paradigma; dari ketergantungan menuju inisiatif, dari menunggu menjadi bergerak, dari pasif menjadi produktif.

Di sisi lain, Cornelis juga menyampaikan bahwa kegiatan turun ke desa merupakan bagian dari arahan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Arahan tersebut menekankan pentingnya kedekatan kader partai dengan masyarakat, sekaligus menjaga soliditas politik nasional.

Cornelis juga mengaitkan hal ini dengan dukungan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang dinilai membutuhkan partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan.

Pendekatan yang digunakan tidak bersifat retoris. Cornelis memilih untuk membumikan isu-isu besar, seperti agraria, kedaulatan pangan, dan keadilan sosial, ke dalam realitas sehari-hari masyarakat desa.

Bagi masyarakat Dayak di pedalaman Borneo, isu-isu tersebut bukan konsep abstrak. Ia hadir dalam bentuk tanah yang harus dijaga, ladang yang harus ditanam, dan kehidupan yang harus dipertahankan.

Baca Hutan Adat bukan Hutan Negara

Kunjungan ke Desa Tonang menjadi contoh bagaimana politik, jika dijalankan dengan pendekatan langsung dan kontekstual, dapat menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Tidak berhenti pada wacana; tetapi mendorong tindakan.

Pesan yang dibawa Cornelis sederhana, tetapi memiliki implikasi panjang: urus tanah, kelola dengan baik, dan bangun kemandirian dari apa yang dimiliki. Dari desa, perubahan itu dimulai.

Penulis: X-5/Tim
Editor: Rangkaya Bada

0 Comments

Type above and press Enter to search.