Di Sini Cinta Pertama Bersemi : Mereka yang kemudian Menikah - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (14)

 

Di Sini Cinta Pertama Bersemi
PKN: di sini cinta pertama bersemi. Ist.

Pagi itu. Kabut belum seluruhnya pergi dari Nyarumkop. Ia masih bergantung. Kemudian merayap perlahan menyusuri lekukan lembah Gunung Poteng. Seperti seseorang yang belum rela meninggalkan percakapan semalam. Udara dingin mengalir di antara pepohonan.

Rerumputan halaman masih menyimpan sisa embun.
Dari kejauhan. Gereja tua itu berdiri dengan salib di puncaknya. Jalan setapak yang tersusun dari keping-keping batu mengarah kepadanya. Seperti sebuah kalimat yang belum selesai diucapkan.

Baca Nyarumkop 1982 dan Seseorang yang Pergi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (13)

Mungkin di jalan itu. Puluhan tahun lalu. Seorang anak lelaki pernah berjalan sambil pura-pura tidak melihat seorang gadis. Atau sebaliknya. Ia mungkin mempercepat langkah ketika berpapasan. Mungkin ia sengaja melontarkan sebuah ledekan, hanya untuk mendengar suara yang disukainya.

Tidak ada yang istimewa. Tidak ada musik. Tidak ada bunga jatuh dari langit. Hanya dua anak sekolah, sebuah halaman seluas hati. Lalu pagi yang dingin menantikan fajar.

Tetapi bukankah hidup sering menyembunyikan takdirnya dalam hal-hal yang tampak sepele?

***

Kita baru mengetahui arti sebuah pertemuan setelah pertemuan itu menjadi masa lalu. Kita baru mengerti. Betapa berharganya seraut wajah setelah ia berpuluh tahun hanya tinggal dalam ingatan.

Dan kita sering baru tahu. Bahwa seseorang pernah penting bagi hidup kita ketika waktu sudah berlari terlalu jauh untuk ditarik kembali.

Baca Undangan Makan Malam Mgr. Agus: Tiga Puluh Orang dan Sebuah Jalan Kaki - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (12)

Nyarumkop tahu tentang semua itu....
Sejak 1916, anak-anak dari berbagai pelosok Kalimantan datang ke lembah ini untuk menuntut ilmu. Mereka datang membawa koper, pakaian, bahasa kampung, nama keluarga, juga kerinduan kepada rumah.

Di sini mereka belajar membaca buku dan membaca dunia. Mereka belajar berhitung, tetapi mungkin tidak pernah diajari bagaimana menghitung kehilangan. Mereka belajar sejarah, tetapi tidak pernah tahu bahwa kelak mereka sendiri akan menjadi bagian dari sejarah sekolah ini.

Justina Hendry dan Selembar Gambar Kusam yang Menjumput Kenangan Lama - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (11)

Di antara sela-sela pelajaran dan pekerjaan rumah. Kehidupan menyelipkan kurikulumnya sendiri. Ada persahabatan. Ada kecemburuan kecil. Ada pertengkaran yang segera dilupakan. Ada tawa yang sampai sekarang masih terdengar dalam ingatan. Dan ada sesuatu yang mula-mula tidak disebut cinta karena terlalu muda untuk diberi nama.

Saling ledek. Begitulah, mungkin, cinta kadang memasuki kehidupan manusia: tidak sebagai pengakuan, melainkan sebagai gangguan kecil. Seseorang mengusili seseorang yang lain. Yang diusili pura-pura marah. Besok mereka bertemu lagi. Lusa masih saling mencari. Hari-hari berjalan. Sekolah selesai. Mereka berpisah.

Kemudian hidup membawa mereka ke kota-kota yang berbeda.

Ada yang bertahun-tahun tidak bertemu. Ada yang hampir lupa. Ada yang mungkin mengira kisah itu telah selesai bersama bunyi bel terakhir di sekolah. Tetapi waktu rupanya mempunyai cara sendiri untuk mengoreksi kesimpulan manusia. Yang kita kira selesai kadang hanya sedang menunggu bab berikutnya.

Sebagian dari mereka kemudian menikah.

Barangkali di situlah hidup memperlihatkan humornya. Anak-anak yang dahulu datang ke Nyarumkop untuk mencari ilmu ternyata menemukan sesuatu yang tidak tertulis dalam buku pelajaran. Mereka menemukan seseorang yang kelak menjadi teman seperjalanan. Dari bangku sekolah menuju pelaminan.

Dari saling ledek menuju saling menjaga. Dari masa muda menuju usia yang membuat rambut perlahan memutih.

Alexius Alex: Penyanyi yang "Tersesat" menjadi Pastor - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (10)

Pertanyaan tentang mereka kemudian muncul di WAG “REUNI AKBAR (MAGNA REUNIO) 110 TAHUN PKN”: Siapa saja alumni Persekolahan Katolik Nyarumkop yang menikah dengan sesama alumni?

Pertanyaan yang kelihatannya sederhana itu ternyata masuk ke sebuah keluarga besar beranggotakan 772 orang. Sebuah jumlah yang, kalau seluruhnya tiba-tiba berbicara bersamaan, barangkali lebih riuh daripada halaman Nyarumkop pada jam istirahat.

Di situlah sejarah kecil PKN menemukan bentuknya yang baru....
Anak-anak Wisma Widya, yang dahulu hidup dalam disiplin asrama putra, kini bertemu kembali dengan anak-anak perempuan dari Wisma Rini Sekabu dalam sebuah rumah virtual. Dulu jarak antara kedua wisma dijaga oleh aturan, mata pengawas, dan mungkin juga oleh firasat bahwa masa muda mempunyai rasa ingin tahu yang kadang lebih cepat daripada nasihat.

Dahulu, bertandang ke wilayah seberang bukan perkara sederhana. Suster bisa memandang dengan tatapan yang membuat langkah mendadak kehilangan keberanian. Pastor pengawas asrama pun tentu mempunyai cara sendiri untuk mengingatkan bahwa ada batas yang jangan dilampaui. Sebab pertemuan anak lelaki dan anak perempuan yang terlalu akrab bisa segera dicurigai sebagai sebuah dosa kecil.

Dari dosa kecil, pikiran zaman itu dapat melompat jauh: awal mula ular yang licik menggoda Hawa. Lalu Hawa mengajak Adam dan manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Pikiran suster dan pastor dipakai mengukur anak-anak remaja yang ingin tahunya besar. Apa boleh buat. Waktunya memang belum tiba. Tunggu saja mereka itu lengah!

Maka saya mulai membuat senarai.

Mula-mula hanya beberapa nama. Lalu sebuah nama memanggil nama yang lain. Sebuah pasangan membangunkan ingatan tentang pasangan berikutnya. Kawan-kawan mulai ikut mengingat.

Ada nama yang muncul setelah puluhan tahun tersimpan di sudut kepala. Ada cerita yang kembali bersama tawa. Ada pula nama yang ketika disebut membuat orang berhenti sejenak, seolah sedang membuka pintu sebuah kamar lama di dalam dirinya.

Pak Lo Pak yang Es Lilin dan Mi Pansit-nya Kami Jarah dengan Tipu Daya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (9)

Hingga 12 September 2026, lebih dari 40 pasangan alumni PKN telah tercatat menikah. Mereka saling menerimakan sakramen perkawinan. Saya jadi teringat pelajaran agama dari Suster Paula. Dulu, dengan keyakinan seorang murid yang merasa sudah tahu jawabannya, saya mengatakan bahwa" pastorlah yang menerimakan sakramen perkawinan". Salah! Suster Paula segera membetulkan. Bukan pastor, melainkan kedua mempelai. Pastor hanya menjadi saksi dan memimpin upacara. Rupanya saya dulu keliru menempatkan pemeran utama.

Puluhan tahun kemudian, daftar pasangan alumni itu seperti mengembalikan pelajaran lama tersebut kepada ingatan. Mereka pernah sama-sama menjadi murid, menghafal doa, mungkin juga sama-sama pernah salah menjawab pertanyaan guru. Lalu hidup mempertemukan mereka di tempat yang lebih serius daripada ruang kelas. Mereka saling memilih dan saling menerimakan sakramen. Pastor berdiri di depan altar, tetapi dua manusia itulah yang mengucapkan ya. Saya akhirnya mengerti pelajaran Suster Paula: dalam perkawinan, pastor bukan pemain utamanya. Ia hanya saksi yang berpakaian resmi. Yang berani berkata "Ya," dan kemudian harus hidup dengan jawaban itu sampai tua, adalah kedua mempelai.

Tetapi angka 40 itu bukan yang paling menarik.

Yang menarik adalah apa yang berada di belakang angka tersebut: lebih dari 40 perjalanan dua manusia. Lebih dari 40 pertemuan. Lebih dari 40 cara cinta menempuh jalan yang berbeda. Ada yang mungkin dimulai dengan ledekan. Ada yang tumbuh dalam persahabatan. Ada yang baru menemukan keberanian setelah bertahun-tahun berpisah.

Sebab cinta, seperti waktu, tidak selalu bekerja menurut rencana manusia.

Dan mungkin Nyarumkop mengajarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kisah tentang sekolah dan percintaan. Bahwa hidup pada akhirnya bukanlah kumpulan tanggal, melainkan pertemuan.

Kita bertemu orang-orang tertentu pada waktu tertentu. Kita berpisah. Kita berjalan jauh. Sebagian kembali. Sebagian tidak. Namun setiap pertemuan meninggalkan sesuatu meski kadang baru kita sadari ketika semuanya telah berlalu.

Baca Supardi dan Tugas Mulia Mendorong Gerobak Bulgur ke Wisma Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (5)

Lihatlah halaman Nyarumkop hari ini. Rumput masih tumbuh. Pohon-pohon masih berdiri. Gereja masih menghadap halaman. Jalan batu masih menuju pintunya. Tetapi anak-anak yang dahulu berlari di sana telah menjadi orang-orang dengan cerita masing-masing. Tempatnya masih ada. Waktunya tidak.

Mungkin itulah yang membuat kenangan terasa begitu indah sekaligus menyakitkan. Kita dapat kembali ke sebuah tempat, tetapi tidak dapat kembali ke umur yang pernah kita jalani di sana.

Kita dapat memanggil nama seseorang, tetapi tidak dapat memanggil kembali suara masa mudanya. Kita dapat bertemu lagi, tetapi tidak dapat mengulang pertemuan pertama.

Yang tersisa adalah cerita. Dan karena itulah senarai pasangan alumni PKN ini akan kita buka perlahan-lahan. Bukan hanya untuk mengetahui siapa menikah dengan siapa. Melainkan untuk melihat kembali bagaimana manusia pernah muda, pernah bercanda, pernah jatuh cinta, pernah berpisah, lalu menemukan jalan masing-masing menuju hari ini.

Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Kisah kasih di sekolah PKN ini akan dinarasikan secara bersambung di media kita ini. Ikuti dengan saksama. Sebab mungkin, di antara lebih dari 40 pasangan itu. Ada nama yang pernah kita kenal. Ada wajah yang pernah kita tunggu di halaman sekolah. Atau seseorang yang dahulu kita ledek tanpa pernah menyangka bahwa puluhan tahun kemudian, namanya akan kembali muncul dalam sebuah senarai.

Dan jika itu terjadi, jangan buru-buru menertawakan masa lalu.

Barangkali masa lalu hanya sedang mengetuk pintu. Meminta kita mengingat bahwa pernah ada suatu waktu ketika hidup terasa panjang, cinta belum bernama. Dan masa depan masih seluas halaman Nyarumkop pagi itu.
(bersambung)

Masri Sareb Putra

Ketika subuh jatuh pada 12/09-2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.