Undangan Makan Malam Mgr. Agus: Tiga Puluh Orang dan Sebuah Jalan Kaki - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (12)

Undangan Makan Malam Mgr. Agus: Tiga Puluh Orang dan Sebuah Jalan Kaki
Undangan makan malam Mgr. Agus: 30 yang tak dapat saya penuhi. Ist.

Saya masih ingat angka itu: tiga puluh. Mgr. Agustinus Agus sendiri yang mengucapkannya kepada saya di serambi pastoran Nyarumkop. Pada siang bolong, 4 September 2026 waktu reuni akbar PKN mulai menanjak.

 “Nanti malam, makan di rumah saya. Masri, kamu ajak tiga puluh teman, ya!”

Saya tentu mengiyakan. Masa kepada seorang uskup saya mengatakan tidak sanggup? Lagi pula, saya mengenal Agus bukan baru kemarin.

Justina Hendry dan Selembar Gambar Kusam yang Menjumput Kenangan Lama - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (11)

Kami sudah bersahabat sejak awal 1980-an. Ketika ia masih pastor muda dan baru pertama kali bertugas sebagai pastor paroki Sekadau.

Waktu itu saya siswa asrama Seminari Passionis St. Gabriel Sekadau, kelas III. Setelah pindah dari Nyarumkop. Kami berkawan dalam perkara-perkara sederhana: main bulutangkis, memancing, dan berburu burung.

Hutan-hutan Sekadau ketika itu masih murah hati. Burung masih banyak. Saya menemaninya masuk hutan, memancing, dan berburu.

Kini. Setelah puluhan tahun berlalu. Saya merasa justru perkara-perkara sederhana semacam itulah yang paling awet dalam ingatan. Kita sering lupa percakapan, tetapi sulit melupakan seseorang yang pernah berjalan bersama kita.

Alexius Alex: Penyanyi yang "Tersesat" menjadi Pastor - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (10)

Hubungan kami kemudian menemukan bentuk lain. Pada 2017, saya menulis biografinya, Audite Episcopo Tuo (Dengarkanlah Uskupmu!) bertepatan dengan 40 tahun imamat dan 20 tahbisan uskupnya. Peluncuran buku itu berlangsung ramai di Hotel Star, Pontianak.

Saya menulis perjalanan hidup seorang uskup dengan tanggal, peristiwa, kesaksian, dan berbagai bahan yang diperlukan sebuah biografi.

Tetapi di balik semua itu. Bagi saya Agus tetap seorang sahabat lama, pastor muda yang dahulu bermain bulutangkis, memancing, dan masuk hutan bersama saya. Karena itu, ketika ia meminta saya mengajak tiga puluh teman untuk makan malam, saya menganggapnya sebagai permintaan seorang kawan lama.

Mgr. Agus juga seorang senior yang salah satu terlama sekolah di Nyarumkop: 7 tahun.

***

Masalahnya baru terasa ketika saya mulai mencari orang. Saya mengajak Justina Hendry, lalu menengok ke sana-kemari mencari kawan-kawan dekat. Akim, misalnya, entah ke mana. Mencari sosok tambun di tengah kerumunan Nyarumkop ternyata tidak semudah yang saya kira.

Saya melihat kiri, melihat kanan. Orang ada, tetapi tiga puluh belum juga tampak. Saya mulai menghitung kira-kira. Satu, dua, tiga, lalu hitungan saya sendiri kehilangan semangat. Saya mulai curiga. Tiga puluh rupanya lebih mudah diucapkan daripada diwujudkan. Agus tinggal mengatakan tiga puluh. Saya yang harus mencari tiga puluh orangnya.

***

Belum selesai soal orang. Muncul soal kendaraan. Kami mencari mobil, tetapi tidak mendapatkannya. Di situlah angka tiga puluh mulai berubah menjadi lelucon. Tiga puluh orang tidak terkumpul, kendaraan pun tidak ada. Akim belum ditemukan. Pada akhirnya yang benar-benar tersedia hanya tiga orang: saya, Justina, dan Br. Cimes (di belakangnya, orang kerap memplesetkan nama bruder Kapusin asal jangkang itu dengan: ciuman mesra).


Pak Lo Pak yang Es Lilin dan Mi Pansit-nya Kami Jarah dengan Tipu Daya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (9)

Jadi, dari tiga puluh menjadi tiga. Dua puluh tujuh orang lenyap entah ke mana bahkan sebelum acara dimulai. Kalau ini laporan pertanggungjawaban sebuah panitia, saya mungkin harus membuat lampiran khusus untuk menjelaskan ke mana perginya 90 persen peserta.

Untunglah kami bertemu Br. Cimes. Ketika kami mengatakan tidak mendapat mobil, ia menjawab dengan tenang, “Jalan kaki bisa!”

Kalimat singkat itu begitu sederhana sehingga tidak ada alasan untuk membantah. Maka berjalanlah kami bertiga dari Wisma Emaus menuju kediaman Mgr. Agus.

Saya masih membawa angka tiga puluh di kepala. Tiga puluh orang yang seharusnya saya bawa, tetapi hanya tiga orang yang berjalan. Gelap sudah membekap kawasan PKN. Kami melangkah dalam malam Nyarumkop yang perlahan menutup seluruh jejak sore.

Sesekali saya masih membayangkan ke mana dua puluh tujuh orang lainnya. Mungkin belum tahu. Mungkin sibuk. Mungkin menunggu kendaraan. Atau mungkin sejak awal mereka memang tidak pernah tahu bahwa mereka termasuk dalam angka tiga puluh yang begitu enteng keluar dari mulut Agus.

“Makannya nanti jam 19.00,” kata Mgr. Agus. Ketika kami tiba, ternyata sudah banyak orang di sana. Saya mulai lega. Setidaknya saya tidak datang sendirian. Tetapi setelah saya perhatikan, tiga puluh tetap tidak juga menjadi tiga puluh. Saya pun menyerah pada matematika malam itu.

Baca Supardi dan Tugas Mulia Mendorong Gerobak Bulgur ke Wisma Sekabu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (5)

Pukul 19.00 kami mulai santap malam. Makanannya luar biasa. Namun, yang membuat malam itu benar-benar istimewa bukan semata-mata hidangan di meja.

Tawa dan canda mengalir. Cerita lama muncul. Nama-nama lama disebut kembali. Wajah-wajah yang puluhan tahun terpisah oleh waktu seolah menemukan jalan pulang ke dalam ingatan.

***

Di luar. Malam Nyarumkop semakin pekat. Di dalam rumah Mgr. Agus, suasana justru semakin hangat. Saya duduk sambil menikmati makanan dan percakapan, lalu teringat kembali masa awal 1980-an: saya masih anak seminari, Agus masih pastor muda.

Kami bermain bulutangkis, memancing, dan masuk hutan bersama. Tidak seorang pun ketika itu tahu ke mana waktu akan membawa kami. Ia menjadi uskup.

Saya menulis biografinya. Dan pada suatu malam di Nyarumkop, saya mendapat tugas membawa tiga puluh orang, tetapi hanya datang bersama dua kawan dengan berjalan kaki.

Bang Adri dan Kopi Panas Pagi Itu yang Membuka Cerita tentang Celana Panjang

Mungkin itulah salah satu kelucuan kecil kehidupan. Manusia senang menghitung: tiga puluh orang, empat puluh tahun imamat, dua puluh tahun sebagai uskup. Tetapi persahabatan mempunyai hitungan sendiri.

Kadang yang tiga puluh itu tidak hadir. Sementara tiga orang yang berjalan dalam gelap justru membawa pulang kenangan yang jauh lebih panjang daripada angka mana pun.
Masri Sareb Putra

Jakarta, siang yang panas, 11/09-2026

0 Comments

Type above and press Enter to search.