Buih-Buih di Sungai Sekabu | Roman dengan Setting Sekabu dan Nyarumkop

Buih-Buih di Sungai Sekabu

Toni Morisson, peraih Nobel bidang sastra, suatu ketika pernah mengeluarkan kata-kata adiluhung: bahwa sesungguhnya setiap anak manusia yang lahir di kolong langit ini menyimpan satu kitab rahasia yang belum sempat tersurat, tiada lain dan tiada bukan adalah riwayat perjalanan hidupnya sendiri.

Kini, Justina Hendry dengan segala keteguhan hatinya datang untuk menggenapi bait-bait petuah sakti tersebut. Bagaikan seorang ahli ramuan yang mumpuni, ia tidak membeberkan lembaran masa lalu secara telanjang. 

Baca Adversity Quotient | Buku yang Mengubah Arah Angin dan Pandangan Hidup Saya (13)

Sang pengarang telah meracik kembali saripati perjalanan darah mudanya. Memadukannya dengan bumbu olahan sastra yang tinggi, sehingga mewujud menjadi sebuah kisah yang separuh fiksi namun tetap mengalirkan getaran kebenaran yang sejati ke dalam sukma para pembaca.

Setting Sekabu, WW, WB, dan Nyarumkop

Takdir telah menggariskan langkah seorang gadis berusia enam belas tahun bernama Tina untuk menjejak tanah Nyarumkop, sebuah dunia yang sama sekali asing dan memutus segala yang pernah ia tahu tentang kehidupan.

Di bawah langit Nyarumkop yang angkuh, kehangatan rumah yang ia tinggalkan (suara Ibu yang memanggil dari balik dapur, derit pintu kayu tua yang menyambut kepulangan, serta aroma kopi pagi yang setia menyapa fajar) harus dikubur dan disimpan rapi di dalam lubuk hati paling dalam. 

Kehidupan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan Asrama Sekabu, atau yang lebih akrab disebut Wisma Rini, berjalan dengan hukumnya sendiri: lebih tegas, lebih teratur, dan jauh lebih sunyi. Di sinilah gemblengan lahir dan batin itu dimulai. Di balik dinding-dinding kayu yang kaku, dentang lonceng yang mengikat waktu, dan tatapan disiplin para suster yang tak terbantahkan, sekeping hati remaja mulai bergolak mencari arah, menghadapi badai rasa dan kebingungan asmara yang tidak pernah diajarkan di dalam ruang kelas.

Baca Justina Hendry: Anak Remaja yang Nangis Bombai Bawah Naungan Pohon Kamboja - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (26)

Bagaikan seorang petualang belia yang terjebak di persimpangan rimba raya, Tina mendapati jalannya dikepung oleh tiga getaran pemuda yang memiliki sifat, pembawaan, dan jurus pendekatan yang saling bertolak belakang. Pemuda pertama adalah Doni, sesosok elang yang terluka oleh ketatnya aturan asrama. Tubuhnya lebih tinggi dari rata-rata anak laki-laki seusianya, bahunya agak lebar, dan caranya berjalan menunjukkan kedewasaan. 

Doni menyukai Tina secara terbuka, mencari kesempatan untuk berada di dekatnya, mulai dari kerja bakti, masa minggu di gereja, hingga menyapa di koperasi sekolah. Namun, titah suster asrama yang melarang kedekatan itu membuat kepak sayapnya terpangkas. Dengan senyum pahit di bawah pohon kamboja, Doni memilih mundur demi menjaga kehormatan sang gadis, menyisakan sekeranjang tanya dan rasa bersalah yang belum sempat terjawab. Pemuda kedua adalah Anton, sang pemilik tatapan mata membara yang duduk beberapa baris di belakang bangku Tina di dalam kelas. Tatapannya bukan iseng biasa, melainkan tatapan dalam yang menuntut perhatian namun justru membuat Tina merasa ngeri dan tidak nyaman. 

Melalui selembar surat cinta yang ditulis secara rapi namun terburu-buru, Anton menumpahkan seluruh isi dadanya secara telanjang. Alih-alih memetik simpati, kejujuran yang terlalu terbuka ini justru membuat Tina mengambil langkah seribu untuk mundur dan menutup pintu hatinya.

Pemuda ketiga, yang datang bagai angin malam yang tenang namun menghanyutkan, adalah Andi. Pemuda kurus dari SMA Seminari ini sejatinya hanya bertindak sebagai pengantar surat milik Anton. Kulitnya gelap manis dengan garis rahang yang tegas, pembawaannya irit bicara, dan ia memiliki kebiasaan unik selalu memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. Andi jarang tersenyum kepada orang baru, namun senyumnya yang sedikit itu justru memiliki daya pikat sedalam samudra, yang secara perlahan mampu mengabaikan dan menghapus bayangan Anton dari benak Tina.

Keindahan dan kekuatan dari roman fiksi ini terpancar nyata melalui untaian kalimatnya yang sangat puitis, mengalir tenang, namun sanggup menyayat sukma dan menyimpan filosofi hidup yang mendalam tentang pencarian jati diri remaja:

"Di usia enam belas tahun, di tempat yang jauh dari rumah, aku mulai belajar bahwa perasaan tidak selalu datang dengan keterangan yang jelas. Kadang ia muncul seperti kabut pagi di lereng Nyarumkop: lembut, samar, dan sulit digenggam."

Kalimat tersebut menggambarkan dengan sangat apik betapa polos, gamang, dan rapuhnya jiwa seorang gadis remaja saat pertama kali bersentuhan dengan riak asmara di tengah kesunyian asrama. Di sisi lain, pembaca juga akan dihadapkan pada kepedihan cinta dan rasa cemburu yang membakar rasa, sebagaimana yang tercermin dari keluhan Anton ketika surat cintanya bertepuk sebelah tangan:

"Surat itu untukmu. Kasihku untukmu. Kenapa malah Andi yang bercerita banyak tentang kamu?"

Hingga pada akhirnya, setelah melewati dilema persimpangan jalan asrama, pembaca disadarkan bahwa kedekatan sejati tidak selalu membutuhkan untaian kata-kata manis atau janji yang menggebu-gebu, melainkan keheningan yang saling memahami, seperti yang terjadi di antara Tina dan Andi:

"Aku mulai belajar bahwa perasaan tidak selalu membutuhkan banyak kata. Kadang ia cukup hadir dalam keheningan, dalam langkah yang berdampingan, dan dalam tatapan yang sempat bertemu sebelum akhirnya berpisah."

Kini, matahari telah lama tenggelam di balik megahnya lereng Nyarumkop, menyisakan kegelapan malam yang pekat sekaligus menyimpan beribu rahasia yang belum terucap. Ketika surat demi surat beralih tangan, ketika rasa cemburu mulai membakar sukma, siapakah sebetulnya yang berhasil memenangkan getaran suci di lubuk hati sang gadis? Apakah Doni sang pemuda dewasa yang gigih mendamba, Anton yang menaruh harap lewat untaian kata, ataukah Andi (si pengantar surat misterius yang namanya kini justru lebih sering hadir mengisi ruang-ruang kosong di pikiran Tina)? 

Lembar demi lembar kisah dalam roman ini bukanlah cerita cinta picisan biasa, melainkan sebuah mahakarya yang mendalam. Di dalamnya terdapat benturan yang hebat antara cita-cita suci menjadi seorang guru, keteguhan mematuhi aturan asrama, serta gejolak darah muda yang mencari arah di tengah kesunyian tanah Dayak. Waktu terus berjalan, dan janji rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh Tina dan adik kelasnya, Mina, di ruang studi yang redup perlahan-lahan akan menuntut jawaban yang sama sekali tak terduga oleh pembaca. Kisah ini bahkan membentang jauh melintasi waktu, menembus batas penantian tujuh tahun, hingga momen berdansa setelah hampir empat pukul tahun lamanya.

Mari kita nikmati salah satu opening roman ini pada chapter 2

opening roman ini pada chapter 2
Opening bab 2, halaman 15 untuk kita cicipi citarasa nuansa sastranya.

Jangan biarkan rasa penasaran Anda menggantung dan hanyut begitu saja di tepi Sungai Sekabu! Ikuti setiap embusan angin lereng, detak jantung yang berdebar kencang, serta kejutan takdir yang membentang luar biasa dalam novel utuh Buih-Buih di Sungai Sekabu karya Justina Hendry. Miliki bukunya sekarang juga, selami keindahan bahasanya, dan temukan sendiri ke mana riak buih takdir ini akan melabuhkan muara cintanya yang abadi!

Spesifikasi Mahakarya Roman LLD

Temukan jawaban dari gejolak rasa yang tumbuh laksana kabut pagi di lereng Sekabu ini dalam lembar-lembar penuh pesona puitis. Buku ini merupakan persembahan berharga bagi siapa saja yang pernah merindukan kenangan asrama dan keteguhan cita-cita.

Halaman persembahan

Yang menarik, halaman persembahan roman ini tertulis demikian:

Kupersembahkan kepada:
Semua saja yang pernah menghuni Wisma Rini Sekabu, Wisma Widya, Bhineka, dan Nyarumkop.

Yang dahulu, kini, dan yang akan datang.
Buat semua nama yang tak pernah lekang dan senantiasa ada, tersimpan di sudut-sudut hati ini.

Tentang Pengarang: Justina Hendry

Novel ini merupakan karya debut yang lahir dari jemari Justina Hendry, seorang perempuan kelahiran Pontianak. Langkah petualangannya dimulai ketika ia lulus dari bangku SMP dan memutuskan merantau demi menuntut ilmu di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Nyarumkop pada tahun 1986. Di balik tembok-tembok kokoh yang kerap dijuluki "penjara suci" Sekabu inilah, lembar-lembar kisah kasih dan perjuangan hidupnya mulai tumbuh. Bagai bunga Sekabu yang kokoh menantang arus sungai, seluruh kenangan manis dan getir di tanah Nyarumkop itu kini bersemi kembali dalam baris-baris puitis roman ini.


Pengarang: Justina Hendry
Justina Hendry (kini memilih hidup di Los Angeles); alumna SPG (masuk 1986) yang ngarang roman dengan setting Sekabu, PKN, dan Nyarumkop ini. Keren habis, dengan gaya berkisah sehari-hari, kadang kocak, apa adanya.

Buih-Buih di Sungai Sekabu sejatinya adalah sebuah rangkaian kisah nyata tentang anak sekolahan asal Pontianak yang nekat merantau demi mengejar cita-cita luhur dan masa depan. Justina pernah merasakan kepedihan yang mendalam hingga menangis tergugu di bawah bayang-bayang pohon kamboja asrama karena ditinggalkan oleh sahabat karibnya. Namun, air mata itu tidak membuatnya goyah. Peristiwa memilukan tersebut justru menempa mentalnya menjadi sekeras baja, selaras dengan prinsip dan motto hidup yang selalu ia genggam erat: Born for Adversity; bahwa manusia sejati memang dilahirkan untuk tangguh menghadapi setiap tantangan takdir.

Baca Justina Hendry: Peserta Reuni Terjauh Melintas Benua Membawa Sang Bunda - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (73)

Pada awal proses kreatifnya, Justina sempat dirayapi rasa tidak percaya diri dan merasa mustahil untuk bisa melahirkan sebuah karya sastra. Namun, jalannya diterangi oleh kehadiran Masri Sareb Putra, seorang sastrawan terkemuka dari Angkatan 2000 yang sekaligus bertindak sebagai editor novel ini. Sang editor memberikan dorongan semangat terbaik melalui sebuah kalimat magis yang membakar tekad sang penulis:

"Kalau ada novel yang pengin banget kamu baca tapi belum pernah ditulis sama orang lain, maka kamulah yang harus menulis buku itu."

Detail Informasi Novel "Buih-Buih di Sungai Sekabu"

Atribut Buku
Judul NovelBuih-Buih di Sungai Sekabu
PenulisJustina Hendry
EditorMasri Sareb Putra
PenerbitLembaga Literasi Dayak (LLD)
Tahun Terbit2026
Tebal Buku150 Halaman
Jumlah Bab21 Bab
GenreRoman / Fiksi Sejarah
Latar TempatNyarumkop, Asrama Sekabu, Wisma Rini, Sungai Sekabu
Tokoh UtamaTina, Andi, Anton, Doni, Mina

📖 Informasi & Pemesanan  Buku: Emanuel Sareb

Buku

• Kontak Pembelian (LLD): 0815-8518-5168

0 Comments

Type above and press Enter to search.