Bunga Pancit (Spathodea Tulipifera ) yang Jatuh di Halaman | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (123)
Suasana lalu lintas "WAG REUNI AKBAR (MAGNA REUNIO) 110 TAHUN PKN" mendadak riuh rendah. Layar ponsel berkedip tanpa henti. Ratusan notifikasi beruntun masuk, memicu gelombang nostalgia yang luar biasa di antara para alumni.
Obrolan yang semula biasa-biasa saja. Berubah menjadi panggung kenangan yang ramai dan penuh keseruan saat mereka mulai membahas pernak-pernik masa lalu di tanah Nyarumkop.
Baca Gereja Sanggau : Kenangan Itu Selalu Kuingat | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (122)
Segalanya bermula ketika nama Wisma Widya dan keindahan alam di tepian Sungai Sekabu mencuat kembali ke permukaan. Ruang siber itu langsung dipenuhi canda tawa, haru, dan romantisme masa remaja yang tak ada duanya.
Riuh canda di tepian Sekabu
Layar obrolan langsung dipenuhi sahutan bertubi-tubi. Cerita tentang "bunga" pujaan hati yang mekar di dekat Wisma Widya memicu ingatan kolektif yang jenaka. Supardi dan Susanto Chin langsung mengetik baris-baris kalimat penuh godaan, mengingatkan kembali bagaimana para pemuda zaman dulu harus pasang mata dan telinga.
Baca Rentak Musik dan Volley PKN Sanggau Plus 1978: Promosi Jitu Zaman Itu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (105)
"Jangan sembarangan melirik bunga di sana," kelakar mereka di grup. Ada bayang-bayang Pak Ketapel yang siap siaga dengan bidikan jatuhnya yang legendaris dari jendela sekolah.
Rosalina Nungkat dan Hiyasinta ikut menimpali dengan emotikon tertawa, mengenang bagaimana riuhnya suasana asrama putri jika ada pemuda nekat yang mencoba mendekat. Suasana WAG benar-benar hidup, laksana menghidupkan kembali lorong-lorong waktu Persekolahan Katolik Nyarumkop yang penuh cerita tersembunyi.
"Bunga pancit bang, berawal dari kata mancit (dipencet keluar air, kalo pancet berawal dari kata mancet/pacet…kak @ADRIANA ASLIA tolong bantu jelaskan bahasa diri’ koa," Rosalina memberi konteks. Ia coba menjelaskan asal usul mengapa bunga itu disebut demikian.
Gema Bhineka di tanah Nyarumkop
Di tengah riuhnya candaan romantis, kimbundavid mengingatkan grup tentang esensi mendalam dari berkumpulnya mereka di WAG Magna Reunio ini. Nyarumkop bukan hanya tempat memadu kasih atau tempat menuntut ilmu. Tempat ini adalah miniatur Indonesia. Semangat Bhineka telah mengakar kuat di setiap sudut barak dan ruang kelas sejak puluhan tahun silam.
Baca Telaga Biru Sekabu dan Rahasia Para Bidadari Mandi - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (104)
Dari berbagai latar belakang suku dan daerah, mereka dipersatukan di bawah satu payung persaudaraan PKN yang sakral. Riuh rendah obrolan mengenai toleransi, kebersamaan masa lalu saat makan satu meja di ruang makan asrama, hingga gotong royong menjelang perayaan besar, mengalir deras membuat dada para alumni berdesir hangat. Rasa rindu memuncak seketika.
Baju bergetah kena bunga pancit
Obrolan makin seru saat todomangatur sirait membuka kembali kisah perjuangan fisik yang paling ikonik di Nyarumkop: adagium tentang "Baju Bergetah Kena Bunga Pancit".
Baris teks di WAG mengalir cepat mendeskripsikan bagaimana pengorbanan anak-anak asrama zaman dulu.
Demi memetik perhatian atau berniat mencuri pandang ke arah Wisma Widya. Mereka harus rela menembus semak belukar yang rapat.
Baca Darurat Nafas: Tetapkan Status sebagai Bencana Nasional dan Pastikan Tidak Berulang Lagi! - Siaran Pers tentang Karhutla di Kalimantan yang Mestinya Agenda Utama Negara
Kain baju yang semula bersih terpaksa ternoda oleh getah pohon rimba yang pekat dan ditempeli bunga pancit yang lekat berduri kecil.
Noda getah hitam di baju itu bukanlah sebuah aib. Namun, merupakan bukti nyata, sebuah tanda kehormatan bahwa mereka pernah berjuang mati-matian dan tidak pernah maju dengan tangan kosong dalam merebut sebuah perhatian.
Bunga pancit yang jatuh di halaman
Sebagai penutup keramaian obrolan hari itu. Masri Sareb melempar bait-bait kalimat puitis yang membuat seisi grup terenyuh. Judul "Bunga Pancit yang jatuh di halaman" mendadak diusulkan menjadi sebuah karya yang harus dibukukan untuk mengenang 110 tahun PKN.
Bunga pancit yang gugur dan jatuh di atas tanah basah halaman Widya disepakati sebagai simbol runtuhnya ego masa muda.
Baca Pak Lopak, Maafkan Anak-anak PKN yang Belum Bayar! | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (121)
Noda getah di baju bisa hilang dicuci waktu. Namun kenangan bersemi di tanah Nyarumkop akan melekat abadi sampai mati. Bahkan terbawa hingga ke dalam mimpi-mimpi sepi di hari tua. Riuh obrolan malam itu pun menyisakan rasa haru yang mendalam.
Seorang senior bernama Marcellus Basso hanya bisa mengangguk pasrah penuh rasa bangga. Sementara Evy terdiam di ujung layar. Ia memeluk erat gawai miliknya dengan mata yang berkaca-kaca menahan rindu pada gerbang suci Persekolahan Katolik Nyarumkop.
Sementara anggota WAG yang lain. Meski tidak komen. Namun sekulum senyum senantiasa menghias wajah. Tiap kali WAG "asrama dan sekolah bersama" membunyikan dering "ting".
Bunga pancit menjadi anak kunci. Yang membuka kembali pintu kenangan Nyarumkop yang tertutup rapat puluhan tahn silam.
Masri Sareb Putra
Siang bolong, 21 Oktober 2026.

0 Comments