Gunung Poteng: Sihir Pesona dan Daya Magisnya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (103)
![]() |
| Siapa warga PKN yang belum pernah menaklukkan puncak, setidaknya menginjak lembah dan lereng Gunung Poteng? Ist. |
Gunung Poteng, ya Poteng
Gunung Poteng, ya Poteng
Gunung Poteng jalan ke Singkawang…
Kalau hujan hujan sekali, sayang!
biar kami bertudung kain
kalau buang buang sekali, sayang!
biar kami cari yang lain
Gunung Poteng, ya Poteng..............
La la la..... (sembari ngurut dada sakit hati)
Senandung itu bergema merdu. Membuat berdiri bulu roma. Laksana alunan buluh perindu ditiup seribu bidadari. Alunan musik alami, menembus kabut waktu dan mengetuk dinding-dinding Padepokan Wisma Widya.
Bagi setiap pasang mata alumni yang kini telah melintasi empat penjuru angin merantau di belahan dunia fana, lirik ini bukan semata-mata rangkaian kata, melainkan sebuah mantra gaib.
Baca Dua Malam Hiburan Reuni Akbar 110 Tahun PKN Membuka Pintu Masa Lalu - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)
Sebuah sumpah setia bahwa sejauh apa pun pedang takdir membawa mereka melangkah, hati mereka akan selalu tertambat di bawah lambaian pohon cemara, guguran bunga Angsana keemasan, dan perlindungan abadi sang Gunung Poteng.
Sebuah syair kuno yang sederhana, namun mengandung getaran gaib yang sangat kuat! Syair ini bukan hanya melukiskan keindahan alam pegunungan yang berliku menuju Singkawang, melainkan sebuah kidung penghormatan terhadap roh kebebasan sang dara Poteng.
Di zaman modern kelak, seorang pendekar seni bernama Dominica Gemar, dan kemudian para pemusik muda seperti Monank Stevevai, akan merajut kembali melodi gaib ini ke dalam gubahan modern agar anak muda tidak kehilangan obor sejarah mereka. Namun pada masa ketika cerita ini berlangsung, syair itu adalah mantra kedisiplinan yang hidup di dada dua tokoh sakti yang menguasai jagat persilatan Nyarumkop!
Baca Misionaris yang Bertaruh Nyawa, Menabur, Menyiram, dan Memelihata PKN - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)
Namun pembaca budiman!
Sebelum kita masuk lebih jauh ke sihir pesona Gunung Poteng, mari kita kembali ke legenda purba gunung bagai susu ibu ini yang dituturkan turun-temurun.
Kisah tentang hilangnya dara jelita Poteng ke dalam pusaran kabut putih ratusan tahun berselang, rupanya bukan sekadar menjadi dongeng pengantar tidur bagi anak-cucu di wilayah Singkawang. Jagat persilatan terus berputar laksana roda pedati. Zaman berganti, namun hawa sakral yang menyelimuti Cagar Alam Raya Pasi tidak pernah luntur barang seujung rambut pun.
Di kaki Gunung Poteng yang berdiri megah di kawasan Nyarumkop, kini tegak sebuah asrama perguruan yang tersohor ke seluruh pelosok pulau. Perguruan SMA St. Paulus Nyarumkop, begitulah orang-orang zaman baru menyebutnya.
Di tempat inilah, benih-benih eng-hiong (pendekar muda) digembleng dengan disiplin baja yang luar biasa keras demi membentuk jiwa-jiwa rohani yang suci.
Baca Sihir Band PTHB Tainam Menggelora Jiwa Muda dan Mengusik Tidur Malam Kami - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (96)
Apabila malam telah melabuhkan tirainya yang hitam dan angin pegunungan mulai bersuling di sela-sela dinding kayu asrama, terkadang terdengar alunan suara petikan dawai sampek yang menyayat hati. Itulah suara jonggan dan kondan, lagu rakyat khas Dayak Kalimantan Barat yang telah melegenda
Tempat pemandian siapatah?
Ada pula syair jonggan demikian:
Gunung Poteng, ya Poteng…
Gunung Poteng, ya Poteng…
Gunung Poteng tempat pemandian.”
Senandung lama itu kembali mengalun riak di sela kepulan kabut pagi, menggelitik rasa ingin tahu di dalam sanubari setiap insan yang mendengarnya. Memang, para pembaca yang budiman, bait-bait bersahaja dari tanah Dayak Kalimantan Barat itu segera melemparkan sebuah teka-teki gaib yang menyelimuti cadas-cadas sunyi di cagar alam purba tersebut.
Baca Teringat Benny Nungkat yang tak Ingin Menyendiri - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (92)
Pemandian siapakah gerangan yang tersembunyi di balik jeram-jeram berlumut dan riak air Sungai Sekabu yang dingin menusuk tulang? Apakah tempat itu merupakan telaga suci tempat turunnya para bidadari bertubuh elok dari kahyangan, yang sengaja menyisir rambut sutra mereka di bawah lindungan pohon cemara kala rembulan purnama bersinar terang?
Pertanyaan demi pertanyaan bertiup bersama angin gunung, menggelayut laksana misteri yang tak kunjung terpecahkan oleh akal manusia fana. Sungguh, mata siapakah yang pernah menyaksikan dengan jelas kelebatan selendang sutra putih atau rona kecantikan makhluk halus penyembah kesucian di telaga terpencil itu?
Ataukah semua itu hanyalah seulas tabir gaib yang sengaja ditenun oleh alam untuk menyembunyikan keagungan batin sang dara Poteng yang telah lenyap ditelan pusaran kabut ratusan tahun silam?
Tak seorang pun pendekar sakti atau ahli nujum dari empat penjuru angin yang sanggup memberikan jawaban pasti, sebab rahasia telaga itu tetap terkunci rapat di dalam keheningan abadi Gunung Poteng.
Namun bagi para cantrik dan pendekar muda yang kini tengah menggembleng diri di Padepokan Wisma Widya, syair jonggan ini bukan lagi sekadar dongeng pengantar tidur atau pemantik rasa penasaran semata.
Baca Pak Slamet: Butuh Jawa Beda dengan Butuh Dayak yang Bikin Kelas Grrr - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (90)
Di balik untaian nadanya yang penuh teka-teki mistis, senandung tersebut telah menjelma menjadi seutas tali batin yang sangat kuat, mengikat ingatan mereka pada kesucian hidup dan keteguhan rohani yang sedang ditempa di bawah disiplin baja Perguruan Nyarumkop.
Biarlah misteri bidadari itu tetap menjadi milik sang gunung, karena bagi sepasang naga sakti yang mengawasi padepokan, kemurnian jiwa para muridnya jauh lebih berharga daripada memburu bayangan gaib di dalam air pemandian yang sunyi.
Tangsel ketika gulita membekap malam, 6 Oktober 2026.

0 Comments