Kurban Ini, Kurban Umatmu.... Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (117)

 

Misa Penutupan Reuni Akbar 110 PKN yang mengharu-biru.
Misa Penutupan Reuni Akbar 110 PKN yang kudus sekaligus mengharu-biru. Ist.

Kabut asap tipis sisa kebakaran hutan dan lahan yang sempat menyelimuti alam sekitar sejak subuh, masih tampak menggantung pasrah di sela-sela rimbunnya pepohonan. Namun, seiring berembusnya angin pagi yang sejuk, kabut itu mulai menyusut, menipis, dan memudar, menyingkapkan kemegahan sebuah hari yang bersejarah: Misa Konselebrasi Penutupan Reuni 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN).

Minggu tanggal 6 September 2026. Suasana pagi di lembah Poteng sungguh memikat hati. Seolah-olah alam semesta ikut merestui sebuah perhelatan agung yang jarang terjadi dalam satu abad. Sang surya bersinar terang di ufuk timur. Memancarkan larik-larik cahaya keemasan yang hangat. Perlahan-lahan menghalau hawa dingin yang mendekap gedung gereja tua yang anggun itu. 

Baca Kelopak Mawar yang Terkoyak: Bukan di Pemangkat Tertambat Cintanya! | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (116)

Gedung gereja tua yang sarat akan nilai sejarah itu telah berubah menjadi lautan manusia. Umat dan alumni dari berbagai generasi datang berbondong-bondong dengan sukacita yang meluap. Mereka memenuhi setiap jengkal ruang yang tersedia. Tidak hanya bangku-bangku kayu di dalam panti umat yang terisi penuh hingga berhimpitan. Bahkan tenda-tenda besar yang didirikan di samping kiri dan kanan gereja pun tampak sesak. Tak menyisakan satu pun ruang kosong.

Di pelataran gereja yang luas beraspal. Sebuah perarakan agung sedang bersiap melangkah. Di barisan paling depan. Para putra altar atau misinar dengan jubah putih bersih melangkah dengan takzim yang amat dalam. 

Salah satu dari mereka mengayunkan wiruk dengan ritme yang teratur, mengepulkan asap kemenyan wangi yang membubung tinggi. Mengantarkan doa-doa umat menuju takhta langit. Di sampingnya, beberapa misinar lain membawa lilin-lilin menyala dan salib prosesi dengan sangat khidmat.

Di belakang mereka, mengikuti sebuah barisan panjang yang amat berwibawa: puluhan imam yang datang dari berbagai pelosok daerah. Semuanya merupakan putra-putra terbaik hasil didikan kawah candradimuka Nyarumkop. Mereka mengenakan pakaian sakral kasula putih bersih bersulam benang emas. Berpadu dengan stola merah yang anggun. Pralambang pengorbanan dan kesetiaan penuh pada panggilan ilahi. 

Baca Oevaang Oeray, Anak Seminari dengan Jurus-Rahasia Surat-surat Politiknya | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (115)

Beberapa fotografer sibuk mengabadikan momen bersejarah itu dari berbagai sudut, mengunci kenangan suci ini ke dalam lensa kamera.

Perarakan megah itu bergerak perlahan. Diiringi oleh hentakan kaki dan liukan gemulai para penari yang membawakan tarian adat Dayak sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Satu per satu. Dengan langkah yang mantap namun penuh kerendahan hati, tangan terkatup khidmat di dada, dan kepala tertunduk penuh rasa hormat. Para pastor melangkah beriringan memasuki pintu utama gereja menuju altar suci untuk berkonselebrasi bersama Mgr. Agustinus Agus.

Cahaya lampu temaram di dalam gedung gereja tua itu menerpa barisan para pastor yang kini telah berdiri mengelilingi altar. Aroma harum kemenyan yang memenuhi ruangan berpadu dengan petikan sape dan nyanyian paduan suara yang menggelegar. Menciptakan suasana liturgi yang begitu agung, megah, sekaligus menghujam jauh hingga ke dasar sanubari siapa saja yang hadir.

Namun, di tengah kemegahan liturgi yang sedang berlangsung,. Suasana mendadak terasa mencekam bagi salah seorang pastor yang berdiri di barisan altar. Waktu seolah-olah berhenti berputar. 

Acara Tetap Memikul Kayu di Jungkit, Sidomet, dan Sungai Tangket - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (114)

Jubah putih dan stola merah yang dikenakannya terasa begitu berat. Bukan karena kainnya, melainkan karena beban kenangan yang tiba-tiba merangsek masuk tanpa ampun, menghimpit dada dengan rasa sunyi yang menyayat.

Ketika pandangannya menyapu lautan umat yang berjubel hingga ke pintu keluar. Matanya terpaku pada sekelompok anak muda berambut panjang urakan yang berdiri di koridor samping. Gaya khas remaja zaman baru yang penuh pemberontakan itu mendadak menjadi sebuah pintu gerbang magis.

Seketika itu juga, jiwanya seakan ditarik paksa oleh pusaran angin waktu yang teramat kuat. Panti altar, suara nyanyian umat, dan kehadiran Sang Uskup mendadak kabur. Digantikan oleh bayang-bayang masa lalu yang telah terkubur selama puluhan tahun. 

Jiwa sang pastor melompati jembatan waktu, kembali ke masa remajanya di bumi Nyarumkop. Suatu masa di mana ia belum menjadi seorang abdi Tuhan, melainkan hanya seorang pemuda biasa yang menyimpan gejolak rasa yang teramat dahsyat.

***

Flash-back batin sang pastor membawanya kembali ke tahun 1980-an.
Saat itu kompleks Persekolahan Katolik Nyarumkop adalah sebuah dunia yang sunyi namun hidup. Didera oleh kabut tebal yang selalu memeluk kaki Gunung Poteng. 

Suasana malam di tempat itu sering kali terasa begitu mencekam, di mana desau angin pegunungan menyapu atap-atap sirap dengan suara mirip rintihan sukma yang gelisah. Di sanalah ia berada. Seorang remaja laki-laki pilihan yang terpilih untuk masuk ke SMA Seminari Nyarumkop. 

Sebagai seorang calon pastor. Ia dididik dalam kedisiplinan asrama yang ketat. Diajar untuk selalu menjaga pandangan, menjaga ucapan. Dan yang paling utama: menjaga wibawa alias jaim (jaga imej) di hadapan siapa pun, terutama di hadapan lawan jenis.

Namun, takdir manusia bukanlah selembar kertas kosong yang bisa diatur sepenuhnya oleh aturan asrama. Tepat di seberang tembok asrama seminari, berdiri kompleks SPG (Sekolah Pendidikan Guru) Santa Maria.

Di sanalah tempat berkumpulnya para dara jelita yang sedang dididik untuk menjadi guru. Dan di antara sekian banyak siswi SPG yang berwajah anggun. Ada satu nama yang berhasil menembus benteng pertahanan batin sang calon pastor. Ia adalah Eviana Dolorosa, seorang gadis berwajah seputih pualam. Dengan sepasang mata bening yang selalu menyiratkan keteduhan, dan rambut hitam panjang yang selalu dikepang dua dengan rapi.

Dunia persilatan batin memang penuh dengan jebakan yang tak kasat mata. Godaan terindah bukanlah hantu yang menakutkan, melainkan seraut wajah yang sanggup menggetarkan dawai-dawai hati yang paling suci.

***

Kisah kasih mereka adalah sebuah gita cinta yang lahir dalam kesunyian yang paling dalam. Mereka tidak seperti remaja di luar sana yang bisa bebas berjalan berdua. Bergandengan tangan di bawah lampu kota. Atau saling bertukar surat setiap malam.

Aturan Nyarumkop kala itu laksana hukum besi yang tak boleh dilanggar. Setiap kali mereka berpapasan di jalan setapak berbatu yang membelah keheningan desa. Antara kompleks Seminari dan SPG. Sang pemuda akan berjalan dengan dada dibusungkan. Pandangan lurus ke depan. Mencoba sekuat tenaga mempertahankan imej sebagai seorang calon imam yang suci dan tak tergoda duniawi.

Namun, sungguh dusta jika dikatakan hatinya tidak bergetar! Setiap kali langkah kaki mereka semakin dekat, jantung sang pemuda akan berdegup kencang laksana tabuh genderang perang. Dan Eviana Dolorosa, sang dara SPG. Ia selalu berjalan menunduk malu, mencengkeram buku-buku pelajarannya dengan erat. Tetapi, tepat di detik saat tubuh mereka sejajar, sepasang mata mereka akan saling beradu selama satu atau dua detik. Hanya sekejap. Namun dalam kedipan yang singkat itu. Ada aliran listrik hangat yang menyengat sukma mereka masing-masing. Ada sebuah pengakuan tanpa kata yang tercipta di antara keduanya: Aku jatuh hati kepadamu.

Bulan berganti bulan, rasa yang dipendam itu kian membara laksana api di dalam sekam. Lahirnya tampak tenang, tertutup oleh jubah kedisiplinan asrama. Namun di dalam sanubari, getarannya sanggup meruntuhkan benteng iman yang paling kokoh sekalipun. Sang pemuda tersiksa dalam doa-doanya di kapel. 

Di hadapan salib sunyi yang mencekam di kegelapan malam, ia menangis, memohon agar bayangan wajah Eviana Dolorosa dihilangkan dari pikirannya demi panggilan sucinya. Namun, semakin ia mencoba melupakan, semakin dalam pula seraut wajah manis itu terpahat di dinding hatinya. Di sisi lain, Eviana Dolorosa pun merana dalam sepi asramanya. Ia tahu siapa pemuda itu, seorang calon pastor yang hidupnya telah dikuduskan. Mencintainya adalah sebuah keindahan yang terlarang. Sebuah dosa manis yang tak boleh diwujudkan.

Hingga tibalah hari itu....
Sebuah sore yang kelabu di bawah rintik hujan tipis di kaki Gunung Poteng. Sore yang kelak akan disesali sepanjang hayat oleh dua anak manusia ini.

Didorong oleh rasa rindu yang sudah membuncah hingga ke ubun-ubun, and kesadaran bahwa masa sekolah mereka akan segera berakhir, sang pemuda Seminari mendadak kehilangan akal sehatnya. Ia memutuskan untuk membuang semua gengsi jaim-nya yang selama bertahun-tahun ini ia agungkan. Ia tidak ingin menggunakan perantara kawan, dan ia teramat tabu untuk meminta bantuan mak comblang yang biasanya sibuk kasak-kusuk di antara asrama putra and putri.

Dengan langkah yang gemetar and nafas yang memburu, ia nekat menerobos batas wilayah tak kasat mata. Ia mencegat langkah Eviana Dolorosa yang berjalan sendirian di bawah rindangnya pohon pelindung, saksi bisu di sudut jalan setapak yang sepi.

Eviana Dolorosa terkejut setengah mati. Ia menghentikan langkahnya. Payung yang dipegangnya hampir saja terlepas. Untuk pertama kalinya. Mereka berdiri sedemikian dekat, hingga sang pemuda bisa mencium aroma harum minyak rambut kemiri khas yang menguar dari tubuhnya.

"Eviana..." suara pemuda itu bergetar hebat, berat, dan parau, tertahan oleh dinding-dinding kaul yang mulai retak di dalam jiwanya.

Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya menatap pemuda itu dengan sepasang mata yang bening namun seketika menyimpan badai misteri yang mendalam. Wajahnya yang seputih pualam. Mendadak bersemu merah laksana awan sungsang sepetang di kaki langit.

"Aku... aku tahu siapa diriku, dan aku tahu ke mana jalan hidupku akan melangkah," sang pemuda memulai kalimatnya dengan terbata-bata, air matanya sendiri mulai menggenang di pelupuk mata karena menahan rasa yang teramat perih.

"Namun, aku takkan bisa hidup dengan tenang jika tidak mengatakan ini kepadamu. Bertahun-tahun aku memandangmu dari kejauhan. Bertahun-tahun aku menahan getaran ini sendirian di dalam kapel yang sepi. Hari ini. Di hadapan bumi Nyarumkop yang dingin ini. Aku ingin menyatakan bahwa aku... aku teramat mencintaimu, Eviana. Aku menjatuhkan hatiku padamu, sepenuhnya."

Sungguh aneh watak seorang dara! Ditampik rasa sayang bersarang di dada. Diterima rasa malu menyumbat kerongkongan. Seperti burung merpati yang merindukan ranting, ingin hinggap tapi takut terjerat oleh jaring sutra.

Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Mendengar pengakuan yang begitu besar, jujur, dan telanjang dari mulut sang calon pastor. Jantung Eviana Dolorosa berdegup laksana tabuh jenderal maju perang. Seluruh persendiannya terasa lemas. Hatinya melonjak kegirangan. Jiwanya berteriak dengan sangat kencang: Aku juga mencintaimu! Aku mau menjadi pendamping hidupmu!

Namun, oh, malangnya nasib! Sifat pemalu khas perawan zaman itu yang terlampau tebal, ditambah ketakutan yang luar biasa akan merusak masa depan panggilan suci sang pemuda, membuat lidah Eviana Dolorosa mendadak kelu. Membeku laksana es di puncak gunung. Ia hanya bisa menatap pemuda itu dengan tatapan mata yang sayu penuh air mata, mulutnya terbuka namun tak ada satu pun kata yang keluar. Ia ingin mengiyakan, namun gengsi dan rasa malu menahannya. Sikapnya menjadi begitu membingungkan; ia mau, teramat mau. Tetapi tingkah lakunya menunjukkan penolakan karena rasa malu yang berlebihan. Ia mau-mau tapi malu.

Sang pemuda, yang mengira diamnya gadis itu dan tatapan bingung itu adalah sebuah penolakan halus. Mendadak hatinya hancur berkeping-keping. Ia merasa harga dirinya runtuh, dan ia merasa bahwa cintanya hanyalah sebuah bertepuk sebelah tangan yang memalukan.

"Maafkan aku, Eviana... maafkan kelancanganku," desis sang pemuda dengan air mata yang akhirnya tumpah membasahi pipinya. Ia berbalik membelakangi sang gadis, menyembunyikan wajahnya yang hancur.

Eviana Dolorosa ingin mengejar. Ia ingin menarik jubah pemuda itu dan berteriak, "Jangan pergi! Aku mau!", namun kakinya seolah terpaku ke dalam bumi. Ia hanya bisa berdiri terpaku, menangis dalam diam menyaksikan punggung sang pemuda yang perlahan-lahan menjauh. Lalu menghilang di balik kabut tebal Nyarumkop yang dingin dan mencekam.

Pertemuan sore itu tidak pernah membuahkan kata sepakat. Mereka tidak pernah resmi "jadian" sebagai sepasang kekasih. Sejak hari itu, dengan hati yang terluka merana. Keduanya memilih untuk saling menjauh, mengunci rapat-rapat perasaan tersebut sedalam mungkin ke dalam dasar samudera batin mereka. Mereka membawa rasa itu sebagai sebuah rahasia suci yang tak pernah diceritakan kepada siapa pun. Bahkan kepada sahabat terdekat sekalipun. 

Baca Gosewinus, OFM Cap. dan Visi Edukasi "Nyarumkop Song" yang tak Lekang Zaman - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (101)

Sang pemuda akhirnya melangkah maju dengan hati yang mati rasa terhadap cinta duniawi. Menyerahkan seluruh hidupnya ke atas altar suci untuk ditahbiskan menjadi seorang pastor. Sementara Eviana Dolorosa, dengan sisa-sisa kehancuran hatinya. Ia menyelesaikan sekolahnya di SPG. Pergi meninggalkan Nyarumkop. Dan menempuh jalan hidupnya sendiri yang sepi di tempat yang jauh.

Gita cinta mereka yang bersemi sekejap itu. Kini telah tamat sebelum sempat dimulai.

***

"Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan..."

Suara bariton yang agung dari Mgr. Agustinus Agus di mimbar altar seketika memecahkan lamunan panjang sang pastor. Jiwanya terlempar kembali ke realitas masa kini, Minggu, 6 September 2026. Sang pastor mengerjapkan matanya yang tanpa dasar telah basah oleh sebutir air mata kecil di sudutnya. Ia menarik napas dalam. Berusaha menguasai kembali emosinya sebagai salah seorang konselebran dalam perayaan liturgi yang seagung itu.

Kini tibalah saat yang paling sakral dalam Misa Konselebrasi: Liturgi Ekaristi dan ritus Komuni Suci. Umat yang luar biasa banyak itu mulai bergerak membentuk barisan yang panjang dan rapi. Mengular dari pintu luar hingga menuju ke depan altar untuk menyambut Tubuh Kristus.

Keheningan yang mencekam kembali merayap di dalam gereja. Hanya diiringi oleh denting syahdu instrumen lagu komuni yang menyayat kalbu. Sang pastor turun dari panti imam. Tangannya memegang sibori emas berisi hosti kudus. Ia berdiri tegak untuk membagikan komuni kepada umat.

Satu per satu umat maju dengan tangan terkatup di dada. Mereka menerima hosti. Lalu kembali ke tempat duduk dengan khidmat. Hingga akhirnya. Barisan itu membawa seorang wanita lanjut usia tepat berdiri di hadapan sang pastor.

Wanita itu mengenakan pakaian kebaya anggun yang sederhana, tubuhnya sedikit membungkuk dimakan usia, dan rambutnya yang dahulu hitam lebat kini telah memutih seutuhnya, berubah menjadi warna keperakan yang indah. Namun, ketika wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap ke arah sang pastor untuk menyambut komuni. Waktu seolah-olah meledak menjadi jutaan kepingan kaca di dalam dada sang pastor.

Sepasang mata itu!
Meskipun sudut-sudutnya kini telah dipenuhi kerutan keriput usia senja. Kilauan dan keteduhan di dalam bola mata itu sama sekali tidak berubah. Itulah sepasang mata bening milik Eviana Dolorosa. Sang dara SPG Nyarumkop yang puluhan tahun lalu pernah hancurkan dan hidupkan hatinya!

Mata mereka bertemu. Kali ini bukan lagi satu atau dua detik di jalan setapak berbatu, melainkan sebuah tatapan mendalam di hadapan altar suci Tuhan. Di detik itu. Eviana Dolorosa menatap seraut wajah di depannya yang kini telah bergaris tua namun tetap memancarkan wibawa kesucian seorang imam. Jiwa dewasa wanita itu seketika didera oleh sebuah hantaman ombak penyesalan yang teramat dahsyat. Begitu perih hingga sanggup membuat jantungnya terasa berhenti berdetak.

Penyesalan adalah racun batin yang paling pahit di masa tua. Ia tidak mengeluarkan darah setetes pun, namun perihnya tiada obat di kolong langit yang mampu menyembuhkan! Seperti awan hitam yang telat mencurahkan hujan pada tanah yang terlanjur tandas menjadi gurun kering.

Air mata Eviana Dolorosa mendadak menetes tanpa suara, membasahi pipinya yang telah berkerut. Hatinya menjerit. Meratap. Dan menangis sejadi-jadinya di dalam dada yang sesak. Kenapa dulu aku begitu bodoh? Kenapa dulu aku harus dibelenggu oleh rasa malu yang tak berguna? Kenapa aku jaim?

Puluhan tahun ia hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah dan rindu yang tak berkesudahan. 

Menyaksikan pemuda yang dahulu menembaknya dengan penuh keberanian kini telah berdiri sebagai seorang pastor yang suci. Hancur batinnya. Air matanya kini menetes kian deras, membasahi kerutan di wajah senjanya, melambangkan sebuah duka yang tak lagi tertampung oleh raga. Ia menyesal setengah mati karena sepanjang hidupnya. Ia tidak pernah memberi kebahagiaan, walau hanya secuil rasa manis asmara atau sebuah kata "Ya" yang tulus kepada sang pastor di masa remajanya dahulu. Ia telah membiarkan pria yang dicintainya melangkah ke jalan sunyi imamat dengan membawa luka penolakan yang keliru. Coba saja waktu itu aku punya secuil keberanian untuk membuang rasa maluku... Coba saja aku genggam tangannya sore itu... tentu jalan sejarah hati kami tidak akan sekejam ini!

Getaran batin yang dialami Eviana Dolorosa rupanya begitu dahsyat hingga memancar keluar, merayap melalui udara suci gereja dan menyengat jemari sang pastor. Tangan sang pastor yang memegang hosti kudus mendadak bergetar hebat. Jantungnya bergemuruh, seluruh kenangan di bawah pohon saksi bisu puluhan tahun lalu seolah menuntut balasan. Namun, ia adalah seorang imam. Ia telah mengikat janji suci di hadapan Tuhan untuk tidak lagi memiliki cinta duniawi.

Dengan kekuatan iman yang tersisa dan kasih belarasa yang teramat dalam sebagai seorang gembala, sang pastor menatapnya dengan tatapan yang teramat lembut. Tatapan mata sang pastor seolah berkata: Aku sudah memaafkanmu, Eviana. Semuanya sudah berlalu, dan inilah jalan takdir kita yang terbaik. Jangan menangis lagi...

Sang pastor mengacungkan hosti kudus dengan tangan yang gemetar. Suaranya terdengar parau namun penuh keteguhan roh,
"Tubuh Kristus."

Eviana Dolorosa mengatupkan kedua tangannya di dada. Air matanya kian deras mengalir bagai air bah yang jebol dari bendungannya, membasahi bibirnya yang gemetar saat menjawab dengan bisikan yang terputus-putus,
"Amin."

Hosti kudus diletakkan di atas lidahnya. Sentuhan ujung jari sang pastor yang lembut meninggalkan kehangatan terakhir yang menjalar ke dalam sukmanya. Wanita itu menerima sakramen itu. Lalu berbalik melangkah pergi dengan bahu yang terguncang hebat. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi di tengah keheningan Misa yang mencekam itu.

Ia berjalan kembali ke bangkunya di sudut gereja yang temaram dengan langkah gontai, menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangan. 

Di sana, di balik pilar gereja tua, tangis bombay sang wanita lanjut usia itu tumpah seutuhnya. Jiwanya meratap hebat. Menumpahkan seluruh air mata penyesalan masa mudanya yang kini telah terkunci mati oleh waktu, menyisakan duka paling sunyi yang akan dibawanya sampai ke liang kubur.

Sang pastor menatap punggung tua Eviana Dolorosa yang perlahan menjauh dan menghilang di antara kerumunan umat. Ada rasa perih yang teramat sangat di ulu hatinya. Seolah separuh sukmanya ikut tercerabut pergi bersama langkah kaki sang wanita. Namun sekaligus, ada rasa damai yang aneh. 

Mereka memang tidak pernah jadian. Mereka tidak pernah saling memiliki di dunia. Namun di hadapan altar suci pada Misa Penutupan Reuni 110 Tahun PKN ini. Gita cinta mereka yang bersemi sekejap telah diserahkan sepenuhnya ke dalam restu agung Sang Khalik. 

C'est la vie! Itulah hidup. Di mana emas tulen harus rela dilebur dan dimatangkan di dalam tungku takdir yang sunyi, mencekam, dan penuh air mata.

***

Di antara keagungan liturgi dan riuhnya kidung suci yang bergema menembus langit-langit kapel, ada getaran gaib yang mendadak merayap senyap ke dalam dada dua anak manusia. Tatapan mata yang tak sengaja berpapasan melahirkan sebuah simfoni bisu yang menggetarkan sukma.

Entah mengapa, tiap kali momen khusyuk itu tiba, Eviana Dolorosa merasa jantungnya bagai dihujam jarum halus yang ngilu, rasa yang persis sama juga sedang berkecamuk di dalam batin sang pastor. Ketika alunan persembahan syair dan lagu itu mengalun syahdu memenuh ruang sakral, kidung itu seolah-olah digetarkan khusus hanya untuk mereka berdua saja. Sebuah persembahan mistis yang melarung segenap sisa asmara masa remaja di sekolah guru yang kini mesti diserahkan sepenuhnya ke atas altar kesetiaan yang abadi.

Keduanya sama-sama tahu, kurban itu bukan lagi hanya sekerat roti dan secawan anggur di atas patena emas. Juga sekeping hati, segenggam air mata rindu, dan sebuah cinta yang harus rela dikubur dalam-dalam demi sebuah pengabdian suci yang jauh lebih besar di kolong langit fana ini.

Di bawah langit-langit kapel Nyarumkop yang pagi itu mulai gerah.
Suara umat pun menyatu dalam satu koor mistis yang menggetarkan kalbu. Mengiringi senandung perpisahan batin yang mengharu-biru:

Terimalah, ya Bapa 
kurban ini
kurban umat-Mu.......

Tangsel, menjelang datangnya malam 13/10- 2026.
Based on a true story seperti dikisahkan N.N. kepadaku.

0 Comments

Type above and press Enter to search.