Petrus Sukoco Irianto, Gaya Rambut Lebat Bergelombang Mullet Klasik yang diingat Murid- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (112)
![]() |
| Petrus Sukoco Irianto, sang guru gaya rambut tebal bergelombang model mullet klasik yang diingat murid-murid Ist. |
Sayup-sayup terdengar alunan lagu rakyat jonggan di kejauhan. Laksana selembar sutra suci yang terbang melintasi kabut waktu, mengetuk lembut dinding-dinding sunyi Padepokan Wisma Widya.
Para pembaca yang budiman!
Sebelum kita menengok kisah sang tokoh. Mari kita memutar kembali roda waktu demi memandangi kemegahan alam di kaki Gunung Poteng yang berdiri anggun lencana buah dada ibu yang memberikan kehidupan.
Di kaki gunung yang diselimuti cagar alam itu, berdirilah sebuah perguruan kokoh tempat menggembleng para eng-hiong (pendekar muda).
Di sanalah jalinan takdir seorang pemuda gagah yang berasal dari tlatah Magelang, Jawa Tengah, mulai bertaut erat dengan bumi Borneo. Dialah Pendekar Petrus Sukoco Irianto, seorang ksatria tangguh yang membawa bekal luhur ilmu keagamaan sebagai lulusan Sekolah Tinggi Kateketik (STKat) Yogyakarta tingkat sarjana muda.
Baca Sihir Magis "Susu Ibu" Poteng yang Memanggil Pulang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (110)
Maka bermulalah kisah pengembaraan sang ksatria pena di jagat persilatan peradaban ilmu Nyarumkop!
Tepat pada tanggal 29 Desember 1985. Ketika hawa sakral Cagar Alam Raya Pasi sedang pekat-pekatnya diguyur rintik hujan, langkah kaki sang pendekar untuk pertama kalinya menapak di bumi Nyarumkop. Kehadirannya disambut oleh lambaian mesra pohon cemara dan guguran emas bunga Angsana yang menari ditiup angin pegunungan.
Tiada lama berselang, pada tanggal 6 Januari 1986, ia resmi mencabut pedang pengabdiannya. Ia mulai berdiri di depan kelas untuk mengajar, menyebarkan sari-sari ilmu tata negara serta budi pekerti yang luhur kepada para cantrik di seantero padepokan. Di masa-masa awal inilah, watak ksatria yang sangat bisa diandalkan mulai terlihat nyata. Pada suatu malam yang sunyi, ketika tugas berat melanda Lembah Sekabu, ia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya demi membantu Suhu Pendekar Dion menyusun kitab maklumat SK IKAPKN overnight semalaman suntuk tanpa berkeluh kesah sedikit pun!
Baca RPL Suyadi Kusumaprawira, Jurus Melawan Kantuk di Kelas dan Doa "Bapa Kami" Sebelum Pelajaran yang Dinyanyikan - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (109)
Jikalau pembaca melihat potret masa mudanya, niscaya akan tahu bahwa sang pendekar ini bukanlah orang sembarangan! Wajahnya yang oval dengan guratan rahang tegas memancarkan aura wibawa seorang ahli tata tertib yang sangat disiplin dan detail.
Sepasang matanya hitam tajam, menatap lurus ke depan laksana elang yang sedang mengintai mangsa, memancarkan kecerdasan batiniah yang tinggi. Namun di balik ketegasan itu, garis bibirnya yang mengatup tenang menyimpan kehangatan sedalam samudra, mencerminkan kelembutan rasa seorang pencinta seni dan petualang (travelling).
Model rambut mullet klasik
Lengkap dengan gaya rambut tebal bergelombang model mullet klasik yang sedang masyhur pada masa itu, penampilannya sungguh necis dan berenergi. Sosok guru seperti inilah yang tetap hidup dalam sanubari anak-anak didiknya; meski waktu telah melesat puluhan tahun lamanya dan angin badai kehidupan telah menerpa, bayangan sang guru tidak pernah pudar di dalam dada mereka.
Baca Ketika Sihir Gunung Poteng Memanggil Pulang - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (106)
Waktu terus berjalan laksana air sungai yang mengalir ke samudra. Pada bulan Mei 1988, takdir baik dari pamong kerajaan berpihak kepada sang ksatria. Beliau dinyatakan lolos sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun, urusan dunia fana kerap kali menguji keteguhan hati manusia. Ketika petinggi kerajaan mengeluarkan titah untuk memindahkannya ke Kota Singkawang, Pendekar Petrus dengan tegas menolak!
Hatinya telah tertambat mati dan menyatu dengan keheningan suci bumi Nyarumkop. Karena permohonannya untuk tetap mengabdi di padepokan tidak dikabulkan, ia memilih jalan ksatria yang sunyi: mengundurkan diri dan menanggalkan jubah PNS tersebut demi sebuah kesetiaan tanpa pamrih. Maka untuk menuntaskan dahaga akademisnya, pada tahun 1989 ia berkelana kembali ke kota Yogyakarta untuk menuntut ilmu tingkat tinggi hingga berhasil meraih gelar Sarjana S-1.
Baca Misionaris yang Bertaruh Nyawa, Menabur, Menyiram, dan Memelihata PKN - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (102)
Setelah jiwanya kian matang digembleng oleh pengalaman, lembah kehidupan sang pendekar mulai diramaikan oleh kehadiran tunas-tunas muda sebagai penerus garis keturunannya. Berturut-turut angin waktu membawakan kebahagiaan dengan lahirnya buah hati pertama yang diberi nama Gabriella pada tahun 1994, disusul oleh sang putra bernama Christian pada tahun 1995. Keluarga sang pendekar kian semarak dengan lahirnya putri ketiga, Sekar pada tahun 2000, dan genaplah sudah pasukan berani hidupnya dengan kehadiran si bungsu Phany pada tahun 2001. Tahun-tahun berlalu dengan cepat laksana kedipan mata, hingga akhirnya setelah puluhan tahun melatih dan menempa para cantrik, sang pendekar resmi menunaikan tugas sucinya di depan papan tulis kelas dan memasuki masa pensiun pada tanggal 4 Januari 2018.
Gosewinus, OFM Cap. dan Visi Edukasi "Nyarumkop Song" yang tak Lekang Zaman - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (101)
Namun, seorang ksatria sejati tidak akan pernah benar-benar meletakkan senjatanya sebelum napas terakhir berhenti! Jiwa pengabdiannya yang sedalam samudra membuat sang pendekar kembali turun gunung untuk mengabdikan diri ke yayasan dan kini bertindak sebagai pengawas padepokan.
Tiada heran, dari murid angkatan tahun 1986 hingga anak-anak zaman sekarang; semuanya masih menaruh hormat setinggi langit dan mengenal erat sosoknya.
Menulis kitab
Bahkan kini ia masih terus berkarya di atas meja kerjanya demi merampungkan sebuah kitab pusaka monumental yang diberi judul: Komunitas Pendidikan Persekolahan Katolik Nyarumkop Menghayati Semangat Santo Fransiskus Assisi secara Aktual & Kontekstual.
Kebahagiaannya pun kian lengkap dengan lahirnya seorang cucu mungil yang diberi nama Nindya pada tanggal 22 Maret 2026 lalu. Sungguh sebuah riwayat hidup yang indah dari seorang penjaga gerbang peradaban ilmu di lereng Gunung Poteng!
Based on a true story seperti dikisahkan Justina Hendry kepadaku.
Tangsel malam 8 Oktober 2026.

0 Comments