Riuh Rendah Sebuah WAG : Dari Asrama Sekabu ke Gelanggang Digital: Pendekar, Bidadari, dan Belarasa Nyarumkop
![]() |
| WAG "REUNI AKBAR (MAGNA REUNIO) 110 TAHUN PKN" yang kian riuh rendah usai reuni akbar 110 tahun PKN. Pintu yang membuka sejuta kenangan, kisah kasih, dan dendam asmara yang tak sampai. Ist. |
Seusai Reuni Akbar 110 Tahun PKN, 4–6 September 2026. Gelanggang persaudaraan itu kembali ramai. Kali ini bukan di Asrama Sekabu, Widya, atau Bhineka, melainkan di sebuah gelanggang tanpa dinding bernama WAG "REUNI AKBAR (MAGNA REUNIO) 110 TAHUN PKN" dengan 705 anggota tercatat.
Di sana renungan rohani bersanding dengan jurus silat, kisah Jaka Tarub bersilang dengan gurauan tentang bidadari, dan secangkir kopi menjadi pembuka percakapan yang tak kunjung usai.
Zaman telah berganti, tetapi jiwa persaudaraan para pendekar Nyarumkop masih menyala.
WAG yang Kian Hidup Seusai Reuni
Di dunia persilatan lidah dan dunia nyata sesungguhnya. Waktu boleh berlalu, rambut boleh memutih, dan para pendekar boleh berpencar ke empat penjuru angin. Namun, ikatan batin yang ditempa di gelanggang yang sama tidak mudah diputuskan oleh jarak ataupun waktu.
Baca Gunawan - Masri | Reuni Dua Sahabat Alumni PKN setelah Setengah Abad
Teknologi telah mengubah cara para alumni berjumpa, tetapi tidak menghapus bahasa pergaulan yang terbentuk selama hidup bersama. Nama-nama lama kembali disebut, kelakar antarsahabat muncul lagi, dan pengalaman masa lalu menemukan jalan untuk hadir di tengah kehidupan sekarang. Seperti dahulu di asrama, percakapan mengalir dari perkara serius menuju gurauan. Bedanya, kini para alumni tidak perlu berkumpul di ruang makan atau halaman asrama. Sebuah pesan di telepon genggam sudah cukup untuk membuka kembali pintu persaudaraan.
Dari Renungan Iman ke Belarasa
Senin pagi, 12 Oktober 2026, percakapan bermula dengan renungan "Kencan Dengan Tuhan" berdasarkan Efesus 6:1-3 tentang kewajiban anak menghormati orang tua.
Kisah Jean, seorang wanita muda yang enggan bangun dari balik selimut untuk membeli baterai jam alarmnya, mengawali percakapan tentang kehidupan sehari-hari. Masri Sareb kemudian mengajak Pardi menikmati pisang goreng Bodokssembari nyeruput secangkir kopi pagi.
Pukul 07.34.
Iskandar membagikan tulisan berjudul "Iman Pembuktian". Ia mengkritik sikap orang yang rajin berdoa, tetapi masih menuntut Tuhan bertindak sesuai kehendaknya. Ia menghubungkan gagasan tersebut dengan pencobaan Yesus setelah berpuasa empat puluh hari dan keraguan Tomas terhadap kebangkitan Kristus. Menurut Iskandar, sikap kritis memang diperlukan, tetapi dapat menjadi penghalang iman apabila berubah menjadi tuntutan pembuktian terus-menerus.
Baca Guru Jawa Berhati Nyarumkop | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (118)
Masri mengapresiasi tulisan itu sebagai bacaan yang menyegarkan rohani. Iskandar menyambut pujian tersebut dengan rendah hati. Ia mengaku berusaha membagikan ilham rohani yang muncul dalam dirinya. Ia juga menyebut dirinya pendosa yang ingin meneladani orang Niniwe dalam pertobatan dan ketaatan, lalu menutup pesannya dengan doa berkat.
Masri menghubungkan pertukaran pemikiran itu dengan nilai inti PKN. Menurutnya, memberi dan menerima merupakan wujud belarasa, tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga melalui kekayaan rohani. Tulisan Iskandar menjadi contoh pemberian semacam itu: pemikiran dibagikan, dihargai, lalu memperkaya kehidupan bersama.
Pendekar Widya dan Pedang Hek Liang Lie
Namun, gelanggang digital ini bukan tempat bertukar renungan semata. Pukul 07.51, seorang anggota melontarkan kalimat, “Jurus Pendekar Widya dihadang dengan Pedang Hek Liang Lie. Bram jadi pendekar,” disertai emoji tertawa. Istilah persilatan tersebut segera menghidupkan suasana.
Pukul 08.49, Masri menanggapi dengan memuji ide dan jurus Pardi yang dianggapnya liar dan melesat cepat. Ia mengusulkan gelar “bocah tua nakal” bagi Pardi dalam To Liong To, kisah persilatan yang dikenal para penggemar cerita silat. Masri lalu mengaitkannya dengan masa PKN. Menurut kelakarnya, kenakalan mereka dahulu sudah habis, sedangkan Pardi justru baru memulainya. Ia menambahkan gurauan tentang mata udang dan ikan untuk melihat bidadari mandi di Sungai Sekabu.
Baca Yang Terindah yang Termurni, Nyanyian Senja di Gereja Tua | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (117)
Bahasa persilatan menjadi kode persahabatan. Pendekar, pedang, dan jurus bukan merujuk pada pertarungan sungguhan, melainkan menjadi cara para alumni saling menggoda dengan bahasa yang akrab bagi mereka. Seperti kehidupan asrama dahulu, canda semacam ini menghidupkan kembali kedekatan yang dibentuk oleh pengalaman bersama.
Jaka Tarub, Bidadari, dan Secangkir Kopi
Pintu nostalgia yang terbuka setelah reuni membawa percakapan ke kisah Jaka Tarub dan para bidadari. Seseorang berseloroh bahwa mata Justina mestinya tidak terfokus pada kopi, melainkan pada para Jaka Tarub. Pertanyaan segera menyusul, “Mana Jaka Tarub-nya, Bang?” Ada yang menjelaskan bahwa gambar itu hanya ilustrasi, sembari berharap dapat segera terhubung dengan seseorang sebagai pelepas rindu di Negeri Paman Sam.
Lelucon tentang kopi ikut meramaikan suasana. “Kopi yang secawan lagi siapa yang punya?” tanya seorang anggota. Jawaban jenaka pun muncul, “Jaka Tarub-nya.” Evy mendapat pujian karena kepandaiannya merangkai gurauan. Ketika seseorang bertanya ke mana tokoh yang dimaksud tinggal sekarang, anggota lain menyahut, “Siapa? Bidadari atau Jaka Tarub?” Jawaban bahwa yang dimaksud adalah sang bidadari disertai emoji tertawa dan jempol.
Seorang anggota kemudian berseru bahwa WAG mereka semakin seru. Seusai reuni, kisah-kisah lama bermunculan, termasuk rahasia yang selama ini jarang dibicarakan. Ketika sebuah gambar Pardi turut menjadi bahan percakapan, muncul komentar singkat, “Keren tatonya itu, Pardi.” Dari kopi, Jaka Tarub, dan bidadari hingga tato, obrolan terus mengalir dengan canda yang akrab.
Asrama Lama, Persaudaraan Baru
Kehidupan WAG REUNI AKBAR (MAGNA REUNIO) 110 TAHUN PKN memperlihatkan kesinambungan antara pengalaman asrama dan pergaulan digital. Dahulu, para penghuni Sekabu, Widya, dan Bhineka bertemu secara langsung. Mereka belajar, makan, bercanda, dan membangun persahabatan dalam keseharian. Kini, ruang digital memungkinkan percakapan itu berlanjut tanpa harus menunggu reuni berikutnya.
Dengan 705 anggota tercatat, WAG tersebut menjadi tempat berbagi pengalaman dan gagasan. Ada yang mengirimkan renungan Kitab Suci, ada yang menawarkan pemikiran rohani, dan ada pula yang menghidupkan suasana dengan kisah pendekar serta bidadari. Setiap pesan memberi warna tersendiri pada kehidupan komunitas itu.
Baca Kelopak Mawar yang Terkoyak: Bukan di Pemangkat Tertambat Cintanya! | Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (116)
Pada galibnya, teknologi hanyalah sarana. Yang membuat WAG itu hidup ialah orang-orang di dalamnya, dengan perhatian, humor, dan kesediaan untuk tetap terhubung. Nilai belarasa yang ditegaskan Masri menemukan bentuknya dalam percakapan sehari-hari. Memberi dan menerima dapat berupa bantuan materi, doa, pemikiran, atau gurauan yang membuat sahabat lama tertawa.
Asrama Sekabu, Widya, dan Bhineka boleh tinggal dalam kenangan sebagai tempat pembentukan persaudaraan. Namun, semangatnya tidak berhenti di sana.
Kini di gelanggang digital yang terus berkelindan dengan kehidupan nyata, persaudaraan itu menemukan rumah baru. Jarak boleh memisahkan para alumni dan usia boleh bertambah, tetapi satu pesan di WAG terkadang cukup untuk membuktikan bahwa ikatan lama masih terpelihara. Sebab, pendekar sejati tidak hanya dikenang karena jurusnya, tetapi juga karena kesetiaan menjaga persaudaraan.

0 Comments