Cincin Bermata Biru yang Bikin Haru | Belajar Plus dari Murry (7)

Dunia musik Nusantara kembali bergulir memutar roda waktu, membawa kita pada sebuah malam sunyi di studio rekaman pada awal Mei 1982. 

Di sudut ruangan. Sebuah perangkat drum modern berdiri angkuh. Seolah menantang tradisi luhur musik keroncong yang biasanya mengalun tenang tanpa ketukan mesin barat. Namun malam itu, seorang pendekar musik bernama Kasmuri, atau yang lebih kondang dengan nama Murry, telah bersiap di atas singgasana drumnya. 


Di tangan kanannya, ia memegang sepasang stik drum bagaikan seorang satria yang menggenggam sepasang pedang pusaka. Di jarinya, seolah ada bayangan sebuah benda magis yang menjadi ruh dari pertempuran batin ini: Cincin Bermata Biru, sebuah lagu mahakarya ciptaan Tonny Koeswoyo yang termaktub dalam album Pop Kroncong.

Rentak Pukulan Drum yang Menemukan Tiap Celah Nada | Belajar Plus dari Murry (6)

Jika pembaca budiman menengok ke belakang, biasanya Murry bertindak bagaikan seorang prajurit garda depan yang melemparkan umpan-umpan vokal tajam. Tengok saja pola aransemen dalam tembang Penyanyi Muda, Desember, atau Besi Tua. 

Di sana Murry hanya menyulut api di bait pembuka, lalu dengan sigap disahut oleh kombinasi suara tiga pendekar Koeswoyo lainnya: Yon yang melengking merdu, Yok yang mantap, dan Tonny yang penuh wibawa. Namun, dalam "Cincin Bermata Biru", terjadi sebuah keajaiban yang jarang di dunia persilatan musik Indonesia. Murry maju seorang diri ke tengah gelanggang. Ia mengambil alih vokal utama secara penuh, menyanyikan lagu itu utuh dari bait pertama hingga ketukan terakhir.

Kejujuran rasa dari balik tirai sunyi

Saat suaranya mulai keluar dari balik tenggorokan, terdengarlah sebuah vokal yang tidak mengejar kesempurnaan teknik bernyanyi, melainkan sebuah kejujuran emosi yang mengiris kalbu. Suara Murry mengalun lirih, membawakan lirik tentang kerinduan mendalam: "Cincin bermata biru yang kau berikan padaku, melingkar di jari manisku, tanda kasih sayangmu...". 

Baca Ketika Tonny Menjemput Takdir Murry | Belajar Plus dari Murry (5)

Gaya menyanyi ini terasa begitu lugas, apa adanya, dan langsung menyentuh realitas perasaan pendengarnya. Murry tidak sedang pamer kesaktian olah vokal, ia hanya ingin bercerita tentang janji setia dan bintang-bintang di langit yang menjadi saksi rindu. Rasa haru yang membuncah dari vokal solonya ini bagaikan air telaga jernih di tengah hutan yang sunyi, menenangkan sekaligus membuat hati penikmatnya terenyuh mendalam.

Di balik vokal yang mendayu-dayu itu, tersimpan sebuah pergolakan filsafat bermusik yang sangat dalam. Sebuah perenungan eksistensial yang akrab dalam melihat bagaimana kebudayaan rakyat, seperti keroncong, adalah jeritan kaum papa yang mencari keindahan di tengah penderitaan hidup. Keroncong asli adalah detak jantung keheningan, di mana ritme tidak dipaksakan oleh pukulan kulit lembu, melainkan dianyam secara mistis oleh bersahut-sahutannya dawai Ukulele Cak dan Cuk. 

Baca Murry Mengubah Hambatan Menjadi Peluang dan Badai Dinasti Keluarga Koeswojo | Belajar Plus dari Murry (4)

Ketika drum modern dimasukkan ke dalamnya, ada bahaya besar bahwa jiwa keroncong yang rapuh dan sakral itu akan tergilas oleh modernitas besi dan simbal yang bising. Di sinilah Murry melakukan sebuah "laku tirakat" atau asketisme bermusik.

Jurus sunyi sang penakluk ego

Murry menolak menjadi drummer yang serakah. Ia mengerti bahwa untuk menghidupkan jiwa "Cincin Bermata Biru", ia justru harus "mematikan" egonya sendiri.

Di atas kursi drumnya. Murry ia menjelma menjadi seorang pertapa yang mengendalikan nafsu. Gaya gebukan drumnya dalam lagu ini adalah wujud nyata dari kearifan lokal yang menahan diri (restraint). 

Alih-alih menggebu-gebu memamerkan kecepatan tangan, Murry memilih pendekatan defensif yang luar biasa presisi. Ia memindahkan roh perkusif cak-cuk ke atas instrumen modern dengan kelembutan seorang ibu yang membelai anaknya.

Baca Arsitektur Dayak dalam Pose Sampul Kaset Jadul Koes Plus | Belajar Plus dari Murry (3)

Ketika lagu mulai mengalir, tangan kiri Murry bergerak dengan kecepatan yang terukur namun luar biasa halus. Ia tidak menghantam membran snare drum dengan kekuatan penuh yang bisa meruntuhkan keheningan, melainkan menggunakan jurus

Cross-Stick atau Rim Click. Stik drum diletakkan melintang di atas membran. Lalu bagian pinggiran besi (rim) diketuk dengan bagian pangkal stik. Takkk...! Takkk...! Takkk...! Suara yang keluar terdengar klik, rapi, dan kering, bagaikan ketukan senjata rahasia yang mengenai sasaran dengan jitu tanpa menimbulkan ledakan besar. Teknik ini bertindak sebagai perisai tak kasatmata yang melindungi alur melodi flute dan vokal dari gangguan kebisingan.

Puncak kesaktian sang maestro

Sementara itu, kaki kanannya bergerak statis, menghentak pedal bass drum hanya pada ketukan pertama (downbeat) atau pola one-three yang konstan. Setiap dentuman bass drum ini bersekutu dengan betotan bas Yok Koeswoyo, bertindak sebagai jangkar bumi yang menjaga agar aransemen pop-keroncong modern era 80-an ini tidak melayang kehilangan pijakan. 

Hal yang paling mengagumkan adalah bagaimana Murry mengendalikan jurus fill-in (isian drum) miliknya. 

Baca Bukan hanya Koes Plus Mania | Belajar Plus dari Murry (2)

Bagi seorang drummer kelas dunia, melewatkan bagian lagu tanpa isian tom-tom yang rumit adalah hal yang sulit. Namun Murry, dengan tingkat kesaktian batin yang sudah mencapai puncaknya, menahan semua itu. Isian drum hanya dibiarkan muncul sesekali sebagai transisi manis menjelang bait chorus. Itu pun dilakukan dengan pukulan tom-tom yang minimalis dan diakhiri dengan ketukan simbal crash yang segera diredam lembut menggunakan tangannya. Sedemikian rupa, sehingga getaran suaranya tidak merusak suasana kedukaan cinta yang sedang dibangun.

Pada galibnya, "Cincin Bermata Biru" bukan hanya lagu Pop Keroncong pengisi waktu. Lagu ini adalah medan laga tempat bertemunya tradisi dan modernitas, tempat di mana Murry membuktikan bahwa kehebatan tertinggi seorang manusia bukan terletak pada seberapa keras ia mampu berteriak atau seberapa hancur ia mampu memukul lawannya. 

Tatkala malam kian sunyi, kegelapan laksana jubah hitam misterius yang menyelimuti jagat raya. Di tepi kolam, kodok-kodok mulai membunyikan genta malam berpadu tembang surgawi jutaan serangga, sebuah simfoni alam yang menggetarkan sukma, mengingatkan manusia akan fana dan megahnya kehidupan. 

Dalam keheningan malam yang magis itu. Bersemayam seorang pendekar pena. Jiwanya mengembara ke masa silam, namun raganya tertambat pada roda zaman modern.

Lagu malam itu kerap menyusup, mengisi celah batinnya yang sepi, membakar semangat membara laksana lwekang (tenaga dalam) yang mengalir deras di jalur meridian. Maka, bergeraklah jemari sang pendekar. Namun, ia tidak lagi menari di atas kulit lembu penabuh genderang perang, melainkan melesat cepat dan lincah di atas tuts keyboard laptop, memancarkan bayangan gerak jari yang mengejar waktu, merajut takdir lewat untaian kata demi kata.

Baca Murry yang Membuat Koes Bersaudara menjadi: Koes Plus | Belajar Plus dari Murry (1)

Melalui gabungan vokal yang jujur, perenungan budaya rakyat yang sunyi, dan pengendalian jurus batin yang matang layaknya seorang pujangga yang merajut sunyi ke dalam bait puisi, Murry mengajarkan kita tentang filosofi hidup yang sejati. Bahwa keindahan tertinggi sering kali lahir ketika kita memilih untuk menyusutkan ego demi memberi tempat bagi keharmonisan alam semesta.

(bersambung)

Masri Sareb Putra
Tangsel ketika gulita memeluk malam 03 November 2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.