Rentak Drum Meningkah "Melati Biru", Bunga yang Salah Warna | Belajar Plus dari Murry (16)
Angin senja membawa perlahan bau tanah basah. Aroma daun yang baru diguyur hujan, dan bau asap kayu dari dapur. Di ujung pulau Kalimantan. Di kampung yang belum mengenal listrik. Malam selalu datang lebih cepat.
Cahaya hanya datang dari pelita minyak. Api kecil itu bergoyang pelan di dalam semprong kaca, membuat bayangan orang bergerak di dinding papan. Kadang, di rumah yang lebih berpunya, tampak jelas berkas cahaya strom king. Suaranya mendesis halus, tapi cahayanya lebih terang. Membuat orang-orang yang lewat menoleh sejenak dengan rasa iri yang samar.
Baca Keberanian Menghentak Pertama dalam "Penyanyi Muda" | Belajar Plus dari Murry (15)
Di tengah gelap yang akrab itu. Radio transistor milik ayah kami, Tjawang, menjadi pusat dunia. Radio kesayangan ayah hidup dari batu baterai yang dijaga betul-betul. Setiap malam, setelah makan, radio itu dinyalakan. Suaranya serak, kadang hilang sejenak, lalu muncul lagi. Dari situlah, di antara bunyi jangkrik dan desau angin di daun pisang, lagu itu mengalun.
Bunga yang salah warna
Bukan melati putih yang biasa menghiasi pagar rumah atau diletakkan di atas nisan. Melati biru. Sebuah bunga yang tidak pernah ada di kebun mana pun di kampung itu, tapi hidup abadi di dalam syair.
Melati sejak dahulu adalah bunga putih. Putihnya bersih seperti hati yang belum dicemari dusta. Putihnya sederhana seperti orang desa yang berbicara apa adanya. Namun ketika lagunya diberi nama "Melati Biru", seolah ada tangan yang memaksa kita menatap sesuatu yang indah tapi salah tempat.
Baca Murry yang Play for the Song dalam Kidung Cinta "Hatiku Hatimu" | Belajar Plus dari Murry (14)
Biru di sini bukan warna langit pagi, bukan pula warna laut yang tenang. Biru di sini adalah warna yang membuat bunga itu menjadi asing. Seperti harapan yang datang dengan wajah manis, tapi di dalamnya tersimpan ketidaksesuaian. Seperti cinta yang dilayangkan dengan penuh kemeriahan, tapi ternyata bukan yang ditunggu.
Lirik itu sendiri seperti orang yang sedang bergumam pelan di bawah cahaya pelita:
Cantik ala bunga-bunga tanpa rias.
Angin senja sejuk manja tiada pula.
Ku terlena dalam mimpi hidup ini.
Cinta datang ku terima bunga ini.
Lalu tiba-tiba suara itu berubah menjadi penolakan yang tegas, hampir seperti sumpah:
Jangan lagi… jangan lagi kau kirimkan.
Ku tak mau oo… melati biru.
Di sinilah letak pedihnya. Bukan karena bunga itu jelek. Justru karena ia indah. Tapi indah yang salah warna. Indah yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Seperti seseorang yang datang membawa hadiah mahal, tapi hadiah itu justru membuat penerimanya merasa tidak nyaman.
Baca Rentak Irama Drum Desember yang tak Terjebak Overplaying | Belajar Plus dari Murry (13)
Di kampung yang gelap itu, ketika radio transistor ayah Tjawang memainkan lagu ini, orang-orang diam. Anak-anak berhenti bermain. Ibu-ibu yang sedang menganyam tikar mengangkat wajah. Ayah-ayah yang baru pulang dari ladang menatap api pelita dengan pandangan jauh. Lagu itu seperti menyentuh sesuatu yang tidak terucapkan. Bahwa di dunia ini ada keindahan yang harus ditolak, meski hati sempat ragu.
Album yang lahir di musim peralihan
Pada Oktober 1978. Di bawah label Purnama, Koes Plus merilis album yang berdurasi tiga puluh dua menit satu detik itu. Genre yang dibawanya pop dan rock, sederhana namun hangat. Album ini berdiri di antara "Bersama Lagi" yang terbit sebelumnya dan "Cubit-cubitan" yang menyusul kemudian. Di tengah alur produksi yang padat itu, "Melati Biru" hadir dengan kelembutan yang berbeda. Ia tidak berteriak. Ia lebih memilih berbisik.
Di kampung jauh di ujung Kalimantan. Orang tidak peduli dengan label atau nomor katalog. Yang mereka tahu hanyalah suara yang keluar dari radio transistor. Suara yang membuat malam terasa lebih panjang, lebih dalam, lebih penuh kenangan.
Rentak yang menahan
Di balik syair yang lembut itu, ada Murry yang duduk di belakang drum. Ia tidak memukul keras-keras seperti orang yang ingin menunjukkan kekuatan. Ia memukul seperti orang yang tahu bahwa lagunya harus tetap berjalan dengan tenang, meski di dalamnya ada penolakan.
Kick-nya stabil. Seperti detak jantung orang yang sedang menahan marah. Snare-nya masuk tepat di tempatnya, tidak lebih, tidak kurang. Hi-hat terbuka sedikit, memberi ruang bagi vokal untuk bernapas. Tidak ada fill yang berlebihan. Tidak ada aksi yang meminta perhatian. Hanya irama yang setia menjaga agar lagu itu tidak goyah.
Rentak yang dibangun Murry di "Melati Biru" adalah rentak yang tahu diri. Ia tidak mencoba menguasai ruang. Ia justru menciptakan ruang. Setiap pukulan kick terasa seperti napas yang ditarik pelan. Setiap ketukan snare seperti titik yang menandai bahwa keputusan sudah diambil. Hi-hat yang terbuka memberi kesan udara yang masih bergerak. Seolah lagu itu belum selesai meski penolakan sudah diucapkan.
Murry seperti pendekar tua dalam cerita silat. Ia tahu kapan harus menarik napas, kapan harus menahan, kapan harus memberi tekanan. Ia tidak perlu memamerkan jurus rumit. Cukup dengan ketepatan dan rasa, seluruh bangunan lagu tetap berdiri kokoh.
Dalam banyak lagu Koes Plus, permainan drum Murry sering menjadi tulang yang tak terlihat. Ia tidak menonjol, tapi tanpa dia lagu akan terasa goyah. Di "Melati Biru", tulang itu terasa sangat jelas. Irama yang ia bangun membuat penolakan dalam syair tidak terdengar marah, melainkan tenang dan pasti. Seperti orang yang sudah lama memikirkan keputusannya, lalu mengucapkannya tanpa gemetar.
Ada kelembutan yang aneh dalam cara Murry memainkan lagu ini. Kelembutan yang justru membuat penolakan terasa lebih dalam. Seolah ia sedang berkata bahwa menolak tidak harus dengan suara keras. Menolak bisa dilakukan dengan tenang, dengan irama yang stabil, dengan hati yang sudah mantap.
Belajar plus dari Murry
Dari cara Murry memainkan lagu ini, ada pelajaran yang dalam.
Pertama, bahwa kekuatan tidak selalu harus ditunjukkan dengan suara yang keras. Kadang kekuatan justru tampak dari kemampuan menahan. Di dunia yang penuh orang yang ingin didengar, Murry memilih untuk tidak memaksa. Ia membiarkan lagunya berbicara sendiri. Ia tidak berusaha menjadi pusat perhatian. Justru karena itu, permainannya tetap dikenang puluhan tahun kemudian.
Kedua, bahwa ruang kosong dalam musik sama pentingnya dengan bunyi. Murry memberi ruang bagi vokal dan gitar untuk bernapas, sehingga penolakan dalam lirik bisa terdengar jelas tanpa harus diteriakkan. Di banyak lagu, orang cenderung mengisi semua ruang dengan bunyi. Murry justru berani membiarkan keheningan kecil. Keheningan itu menjadi tempat di mana perasaan pendengar bisa masuk. Di situlah letak keajaibannya.
Ketiga, bahwa kesederhanaan yang dikerjakan dengan ketelitian jauh lebih berharga daripada kerumitan yang dipamerkan. Pola yang ia mainkan relatif sederhana, tapi dikerjakan dengan rasa yang tepat. Itulah yang membuat lagu ini tetap hidup hingga puluhan tahun kemudian. Banyak orang mengejar rumit karena takut dianggap biasa. Murry menunjukkan bahwa biasa yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh justru bisa menjadi luar biasa.
Baca "Ibu dan Lagunya" yang Bikin Malam Saya Ingat Mama | Belajar Plus dari Murry (9)
Murry tidak sedang memamerkan kepandaiannya. Ia sedang melayani lagu. Dan dalam melayani itu, ia justru meninggalkan jejak yang sulit dilupakan. Ada sesuatu yang sangat “plus” dalam cara ia bekerja. Ia tidak mengambil ruang milik orang lain. Ia justru memberi ruang agar yang lain bisa bersinar. Ia tidak memaksakan dirinya untuk lebih keras dari yang dibutuhkan. Ia justru menahan, agar keseluruhan menjadi lebih utuh.
Belajar dari Murry berarti belajar untuk tidak selalu ingin menonjol. Belajar untuk tahu kapan harus menahan. Belajar untuk menghargai ruang kosong. Belajar untuk mengerjakan yang sederhana dengan ketelitian yang dalam. Itulah yang membuat seseorang tetap “plus”, meski zaman terus berubah, meski banyak orang berlomba menjadi lebih keras, lebih ramai, lebih mencolok.
Warisan yang tersembunyi
Melati Biru adalah peringatan bahwa tidak semua yang indah harus diterima. Ada keindahan yang datang dengan warna yang salah. Ada perhatian yang dibungkus manis, tapi di dalamnya tersimpan ketidakjujuran. Ada harapan yang dilayangkan dengan penuh gemerlap, tapi ternyata bukan yang kita nantikan.
"Senja demi Senja", Jurus Tabuh Keroncong sang Maestro yang Keluar Pakem | Belajar Plus dari Murry (11)
Dan di balik penolakan itu, di kampung yang gelap di ujung Kalimantan, ada rentak drum Murry yang terus berdetak stabil lewat radio transistor ayah Tjawang. Seolah berbisik di antara cahaya pelita yang bergoyang: hidup harus tetap berjalan, meski ada bunga yang harus ditolak, meski ada harapan yang harus dilepas.
Lagu itu terus mengalun di malam-malam yang panjang. Anak-anak yang dulu mendengarnya di bawah cahaya pelita kini sudah dewasa. Beberapa di antara mereka masih mengingat bagaimana radio transistor itu bergetar pelan di atas meja kayu. Bagaimana suara Murry di drum membuat penolakan dalam lagu terasa tenang, hampir seperti doa.
Baca "Ibu dan Lagunya" yang Bikin Malam Saya Ingat Mama | Belajar Plus dari Murry (9)
Demikianlah "Melati Biru".
Sebuah lagu tentang bunga yang tidak pernah tumbuh di bumi, tapi tumbuh abadi di dalam hati mereka yang pernah merasakan sesuatu yang indah… namun salah warna.
(Bersambung)
0 Comments