Deliana Winki: Duta Dayak lewat Sape

Deliana Winki, populer dengan Delly, adalah pemain sape' . Sumber gambar: https://rri.co.id/pontianak

Deliana Winki, populer dengan Delly, adalah pemain sape' perempuan asal Kampung Tahak, Ketapang, Kalimantan Barat. Melalui musik tradisional Dayak, ia mengampanyekan pelestarian hutan, hak masyarakat adat, dan memperkenalkan budaya Dayak ke panggung dunia.

Duta Dayak lewat Sape'

Bagi banyak orang, musik adalah hiburan. Bagi Delly, musik adalah panggilan jiwa sekaligus bahasa perjuangan.

Di setiap petikan sape', ia menghadirkan suara yang tidak selalu dapat diucapkan dengan kata-kata: ratapan hutan yang terus menyusut, kegelisahan masyarakat adat yang kehilangan ruang hidup, sekaligus kebanggaan atas kekayaan budaya Dayak yang diwariskan turun-temurun.

Baca Poline Bala, Prof. Dr. │ Perempuan Kelabit yang Mengubah Cara Dunia Memahami Dayak

Di tangannya, sape' tidak sekadar menghasilkan melodi, melainkan menjadi medium yang menghubungkan manusia dengan alam, leluhur, dan identitasnya.

Kehidupan Awal

F. Deliana Winki, yang akrab disapa Delly, berasal dari Kampung Tahak, Desa Balai Pinang, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Ia lahir dan dibesarkan dalam lingkungan masyarakat Dayak Simpang, sebuah komunitas yang masih memegang teguh nilai-nilai adat, gotong royong, serta penghormatan kepada hutan sebagai sumber kehidupan.

Sejak kecil Delly hidup di tengah bentang alam Kalimantan yang kaya akan sungai, pepohonan, dan kehidupan masyarakat adat yang begitu dekat dengan alam. Baginya, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan, melainkan ruang hidup yang menyimpan sejarah, budaya, dan masa depan masyarakat Dayak.

Kedekatan dengan lingkungan itulah yang kemudian membentuk kepekaannya terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat adat, mulai dari kerusakan hutan hingga hilangnya hak-hak atas tanah leluhur.

Baca Subandrio, S.H., M.H., Wabup Sekadau, Masuk Senarai Buku "101 Tokoh Dayak Jilid 4"

Di lingkungan keluarganya, seni tradisi bukan sesuatu yang asing. Musik dan budaya hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Meski demikian, Delly tumbuh dengan satu pertanyaan sederhana yang kelak mengubah jalan hidupnya: mengapa hampir semua pemain sape' adalah laki-laki?

Pendidikan

Ketertarikan Delly terhadap sape' mulai tumbuh ketika ia masih duduk di kelas VI sekolah dasar. Saat itu ia menyaksikan pertunjukan musik sape' dan menyadari bahwa hampir tidak ada perempuan yang memainkannya. Kondisi tersebut justru menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus tekad untuk mempelajari alat musik tradisional yang selama ini identik dengan masyarakat Dayak Kenyah, Kayan, dan Iban, meskipun dirinya berasal dari Dayak Simpang.

Keinginannya mendapat dukungan penuh dari keluarga. Ayahnya bahkan membuatkan sebuah sape' sederhana agar putrinya dapat mulai belajar. Berbekal alat itu, Delly menempuh perjalanan belajar secara otodidak. Ia menghabiskan banyak waktu mendengarkan, mengamati, lalu mengulang setiap nada hingga jari-jarinya terbiasa menari di atas dawai.

Baca Eva Epti dan Perjuangannya menuju Domia Sanggau 2026

Ketika memasuki bangku sekolah menengah atas, Delly mulai mengikuti pelatihan secara lebih serius. Pembelajaran yang awalnya lahir dari rasa penasaran berkembang menjadi dedikasi yang terus diasah. Sejak itu kemampuan musikalnya semakin matang hingga menjadikannya salah satu pemain sape' perempuan yang dikenal di Kalimantan Barat.

Keterampilan dan Keahlian

Keahlian utama Delly adalah memainkan sape', alat musik tradisional yang menjadi salah satu ikon kebudayaan Dayak di Pulau Borneo. Namun, kemampuannya melampaui aspek teknis bermusik. Ia berhasil menjadikan sape' sebagai media komunikasi budaya, pendidikan publik, sekaligus advokasi sosial.

Melalui setiap penampilannya, Delly menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan Kalimantan, mempertahankan hak-hak masyarakat adat, dan menghargai kearifan lokal yang diwariskan para leluhur. Baginya, musik mampu menembus batas bahasa, agama, suku, maupun negara.

Ia percaya bahwa sape' memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Menurut keyakinannya, sape' bukan sekadar alat musik, melainkan memiliki "roh" yang memilih siapa yang sungguh-sungguh layak memainkannya. Ketika pemain dan alat musik telah menyatu, melodi yang lahir dipercaya mampu menghadirkan ketenangan, menyelaraskan hubungan manusia dengan alam, bahkan menjadi bagian dari proses penyembuhan batin.

Baca Alena Murang: Penjaga Warisan Sape' dan Suara Dayak Kelabit di Pentas Dunia

Selama hampir lima tahun aktif sebagai pemain sape', Delly terus memperluas panggungnya. Ia memanfaatkan media pertunjukan maupun ruang digital untuk memperkenalkan musik Dayak kepada masyarakat yang lebih luas. Setiap petikan dawai menjadi narasi tentang Kalimantan yang hijau, masyarakat adat yang bermartabat, serta budaya Dayak yang kaya akan nilai kemanusiaan.

Legasi, Motivasi, dan Inspirasi

Perjalanan hidup Delly menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan melalui pidato panjang ataupun demonstrasi. Sebuah alat musik tradisional pun dapat menjadi sarana perjuangan yang kuat apabila dimainkan dengan hati dan tujuan yang jelas.

Sebagai perempuan Dayak, Delly berhasil menembus batas-batas stereotip yang selama ini melekat pada dunia musik tradisional. Ia membuktikan bahwa perempuan bukan sekadar penikmat budaya, melainkan juga pewaris, penjaga, sekaligus pengembang tradisi.

Delly menghadirkan wajah baru perjuangan masyarakat adat. Ia memilih nada sebagai bahasa advokasi, melodi sebagai jembatan dialog, dan seni sebagai cara membangun kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga hutan serta menghormati hak-hak masyarakat adat.

Baca Cornelis Soroti Peran-aktif Koperasi dalam Kebijakan Biodiesel: Petani Harus Jadi Pelaku Utama Hilirisasi Sawit

Ia meyakini bahwa musik sape' bersifat universal. Keindahan bunyinya dapat dinikmati siapa pun, lintas budaya dan lintas negara. Karena itu, cita-citanya sederhana tetapi besar: membawa sape' dan budaya Dayak semakin dikenal di panggung dunia tanpa kehilangan akar dan nilai-nilai yang melahirkannya.

Legasi terbesar Delly bukan semata kemahirannya di alam memainkan sape', melainkan keberhasilannya mengubah alat musik tradisional menjadi suara nurani bagi alam Kalimantan. 

Dari sebuah kampung kecil di pedalaman Ketapang, petikan sape' yang Delly  mainkan kini bergema sebagai pesan bahwa budaya akan tetap hidup selama ada generasi yang bersedia mencintai, memainkan, dan memperjuangkannya.

Periset dan penulis │ Masri Sareb Putra

0 Comments

Type above and press Enter to search.