Pak Nungkat - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (3)

Pak Nungkat (duduk), ibu dan anak-anaknya. Keluarga yang memberi asupan gizi anak-anak asrama. Ist.
Pak Nungkat (duduk), ibu dan anak-anaknya. Keluarga yang memberi asupan gizi anak-anak asrama pada ketika itu. Ist.

Matahari pagi telah lewat dari puncaknya. Menjelang siang, cahayanya mulai menyengat lembah di kaki Gunung Poteng, membuat udara Nyarumkop terasa lebih terang sekaligus lebih tua. Pepohonan berdiri diam dalam panas. Sementara di kejauhan gunung seperti menyimpan sesuatu yang tidak tergesa-gesa hendak dikatakannya.

Siang itu, 4 September 2026. Seusai Pembukaan Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN). Saya kembali ke rumah Pak Nungkat. Letaknya kini persis di bawah Wisma Emaus.

Saya datang bersama Akim, Erna, dan Mega. Tidak ada janji besar di sana. Kami hanya ingin melihat kembali sebuah rumah yang pernah begitu dekat dengan masa kanak-kanak. Seakan waktu, untuk sesaat, memberi kami izin membuka kembali pintu yang telah lama tertutup.

Baca Tubuh yang Ditulis Kata: Filosofi di Balik Sampul Born to Write

Ada tempat yang setelah puluhan tahun tidak lagi kita datangi, tetapi diam-diam tetap kita bawa. Rumah Pak Nungkat adalah salah satunya.

Dahulu, anak-anak asrama datang ke sana tanpa banyak pikir: bermain, bercakap, dam membantu pekerjaan. Atau hanya menunggu seseorang bertanya dengan suara yang khas. Suara seorang bapak yang tidak pernah membuat kami merasa sebagai orang asing: “Sudah makan?”

Barangkali waktu itu kami belum mengerti bahwa sebuah pertanyaan sederhana dapat menyimpan begitu banyak kasih.

Kami mengira rumah hanyalah tempat orang tinggal. Kelak kami tahu, rumah juga bisa berarti tempat seorang anak yang jauh dari keluarganya merasa, untuk beberapa jam, bahwa ia masih mempunyai keluarga.

Baca Bang Adri dan Kopi Panas Pagi Itu yang Membuka Cerita tentang Celana Panjang

Ada tempat-tempat yang tidak tercatat dalam peta, tetapi menetap dalam ingatan. Rumah Pak Nungkat salah satunya. Dulu anak-anak asrama biasa menyeberang ke sana. Ada yang mencari anak-anak Pak Nungkat, ada yang datang untuk bermain dan bercakap-cakap. Ada juga yang datang karena alasan paling jujur: lapar.

Dari rumah itu biasanya terdengar suara Pak Nungkat, “Sudah makan?” Dulu kami menganggapnya pertanyaan biasa. Sekarang, setelah puluhan tahun, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang disimpan waktu khusus untuk kami. Ia bukan hanya bertanya tentang makanan, melainkan tentang keadaan kami, anak-anak yang jauh dari orangtua.

Baca Nyarumkop: Kisah Kasih di Sekolah (1)

Saya masih dapat membayangkan dapurnya. Kak Tres menggoreng pisang. Minyak mendesis. Seorang anak perempuan menyiapkan teh. Kami menunggu sambil bercakap-cakap dan tertawa.

Aroma pisang goreng memenuhi rumah. Waktu itu semuanya terasa biasa. Baru kemudian kami tahu, ingatan sering menyimpan justru hal-hal kecil yang tidak kita anggap penting ketika mengalaminya.

Ibu Nungkat menerima kami seperti anak sendiri. Kami boleh duduk, makan, bermain, atau membantu pekerjaan. Anak-anak Pak Nungkat pun tidak menunjukkan keberatan ketika kasih sayang orangtua mereka dibagikan kepada kami. Rumah itu seolah tidak mengenal batas yang tegas antara anak kandung dan anak asrama.

Sebelas Nama yang Tinggal di Rumah Itu

Di rumah itulah dahulu tumbuh sebelas anak Pak Nungkat: Corry Nungkat, Maria Nungkat, Theresia Nungkat, Marcia Nungkat, Welly Nungkat, Monika Yuliana Nungkat, Benny Nungkat, Theo Nungkat, Natalis Nungkat, Rosalina Nungkat, dan Liberty Nungkat.

Nama-nama itu bagi orang lain mungkin hanya sebuah daftar. Bagi kami, ia adalah suara, wajah, tawa, dan gerak sebuah rumah yang pernah menjadi bagian dari masa kecil.

Baca Di Nyarumkop Tertinggal Hatinya: Kisah Kasih di Sekolah (2)

Ada Welly yang kami cari ketika datang. Ada Benny yang namanya akrab di telinga anak-anak asrama. Ada Kak Theresia yang tangannya sibuk menggoreng pisang. Ada Monika Yuliana dan Rosalina yang ketika itu masih kecil. Ada Corry, Maria, Marcia, Theo, Natalis, dan Liberty yang bersama-sama membentuk kehidupan sebuah keluarga besar. Mereka bukan tokoh dalam cerita besar. Mereka justru bagian dari cerita kecil yang membuat masa muda kami terasa mempunyai rumah.

Ketika masih muda, kita mengira waktu adalah sesuatu yang panjang dan tersedia. Kita menunda kunjungan, menunda bertanya kabar, menunda mengatakan terima kasih. Kita menyangka rumah dan orang-orang yang kita kenal akan selalu ada. Baru ketika kembali setelah puluhan tahun, kita sadar bahwa waktu tidak pernah membuat janji seperti itu.

Yang mengharukan, sebelas anak itu tumbuh di tengah rumah yang pintunya tidak hanya terbuka untuk keluarga mereka sendiri. Mereka melihat anak-anak asrama datang dan pergi, duduk di ruang yang sama, ikut menikmati makanan yang sama, dan menerima perhatian yang sama. Tidak ada catatan tentang siapa mendapat berapa. Tidak ada perhitungan tentang kasih sayang. Seolah-olah sejak awal mereka telah belajar bahwa rumah akan menjadi lebih luas ketika hati penghuninya tidak sempit.

Mungkin kami dahulu tidak menyadarinya. Kami datang sebagai anak-anak yang membutuhkan. Mereka menerima kami sebagai teman, sebagai saudara, tanpa banyak pertanyaan. Hari-hari itu berlalu begitu saja. Tetapi waktu mempunyai kebiasaan yang aneh: ia membuat sesuatu yang dahulu tampak biasa menjadi sangat berharga ketika semuanya telah jauh.

Baca Panitia Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) yang tak Banyak Duduk

Kini ketika nama-nama itu disebut kembali, saya seperti melihat rumah tersebut hidup lagi. Ada langkah kaki anak-anak, suara percakapan dari dalam rumah, bunyi minyak di penggorengan, cangkir teh yang diletakkan di meja, dan suara Pak Nungkat yang bertanya dari suatu sudut, “Sudah makan?”

Begitulah sebuah keluarga kadang-kadang masuk ke dalam sejarah hidup orang lain tanpa pernah bermaksud demikian.

Anak-anak Pak Nungkat mungkin tidak pernah tahu bahwa keberadaan mereka telah menjadi bagian dari kenangan banyak anak asrama. Mereka hanya menjalani masa kecil sebagaimana anak-anak lain menjalani hidupnya. Tetapi bagi kami, nama-nama mereka menjadi penanda sebuah rumah yang pernah menerima kami ketika kami jauh dari rumah sendiri.

Mereka yang Tidak Pulang

Ada satu bagian dari masa itu yang baru terasa pedih ketika dikenang sekarang. Ketika liburan tiba, sebagian anak asrama pulang ke kampung halaman. Mereka membawa tas, pakaian, oleh-oleh yang mungkin sudah dibungkus sejak beberapa hari sebelumnya. Mereka tahu akan ada ayah dan ibu yang menunggu, meja makan yang mereka kenal, suara adik atau kakak di rumah. Tetapi tidak semua anak mempunyai cerita kepulangan seperti itu.

Sebagian tetap tinggal di asrama. Hari-hari liburan yang bagi orang lain terasa seperti kebebasan justru menjadi hari-hari yang panjang bagi mereka. Ketika suasana asrama mulai sepi, mereka tahu bahwa teman-temannya sedang berada di rumah masing-masing.

Pada saat seperti itulah rumah Pak Nungkat menjadi tempat yang berbeda. Kami datang, membantu menebas rumput, membersihkan pekarangan, atau mengerjakan pekerjaan lain. Setelah itu ada makanan, ada percakapan, ada orang dewasa yang memperhatikan kami.

Saya sering berpikir, mungkin mereka tidak sedang mencari makanan semata-mata. Anak yang lapar dapat menahan lapar untuk beberapa waktu. Tetapi anak yang rindu rumah membutuhkan sesuatu yang lain. Ia membutuhkan suara yang bertanya apakah ia sudah makan. Ia membutuhkan seseorang yang tidak membuatnya merasa bahwa ketidakhadirannya di rumah adalah sebuah kesalahan. Dan di rumah Pak Nungkat, kami menemukan itu tanpa harus memintanya.

Baca Panitia Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) yang tak Banyak Duduk

Karena itu, ketika mengingat masa tersebut hari ini, hati terasa campur aduk. Ada syukur karena pernah diperlakukan begitu baik, tetapi ada juga getir yang sulit disingkirkan.

Mengapa anak-anak harus belajar menjadi kuat sedemikian dini? Mengapa ada anak yang harus mencari rumah kedua hanya karena rumah pertamanya begitu jauh atau tidak dapat didatangi? Pertanyaan itu mungkin tidak memiliki jawaban sederhana. Tetapi kami tahu, pada masa itu, sebuah keluarga bernama Nungkat telah membantu membuat hari-hari yang sepi menjadi sedikit lebih manusiawi.

Dan mungkin itulah yang paling kami ingat: bukan bahwa kami pernah diberi makan, melainkan bahwa ketika sebagian orang pulang, masih ada sebuah rumah yang tidak mengusir kami.

Ketika Kami Kembali

Puluhan tahun berlalu. Anak-anak yang dahulu menyeberang dari Wisma Emaus kini telah menjadi orang dewasa. Rambut yang dahulu hitam mulai memutih. Wajah berubah. Suara berubah.

Ada yang telah menjadi orangtua, ada yang telah kehilangan ayah dan ibu, ada yang telah kehilangan saudara, dan ada yang mungkin tidak pernah lagi kembali ke tempat masa kecilnya.

Lalu Reuni Akbar membawa kami pulang.

Siang 4 September 2026 itu. Saya bersama Akim, Erna, dan Mega berdiri kembali di tempat yang dahulu begitu akrab. Kami kemudian mengunjungi rumah Kak Tres dan Bang Willi ke arah Jalan Eria.

Kami duduk dan bercerita. Nama-nama lama disebut satu demi satu. Cerita yang puluhan tahun tersimpan seperti menemukan pintunya sendiri. Kami tertawa, tetapi beberapa kali percakapan berhenti. Ada nama yang ketika disebut tidak lagi mempunyai suara untuk menjawab.

Di situlah saya merasakan betapa mahalnya waktu. Ketika masih muda, kita mengira waktu adalah sesuatu yang panjang dan tersedia. Kita menunda kunjungan, menunda bertanya kabar, menunda mengatakan terima kasih. Kita menyangka rumah dan orang-orang yang kita kenal akan selalu ada. Baru ketika kembali setelah puluhan tahun, kita sadar bahwa waktu tidak pernah membuat janji seperti itu.

Baca Nyarumkop yang Tidak Pernah Benar-Benar Ditinggalkan

Pak Nungkat telah pergi. Tetapi rumah yang pernah dibukanya masih menyimpan gema kehidupannya.

Dalam ingatan kami, ia masih berdiri sebagai lelaki yang bertanya apakah kami sudah makan. Ibu Nungkat masih hadir dalam kemurahan hatinya. Anak-anaknya masih hidup dalam nama-nama yang kami sebut. Dan kami, anak-anak asrama itu, masih membawa sesuatu dari rumah tersebut tanpa pernah sadar kapan kami menerimanya.

Mungkin itulah sebabnya pertemuan hari itu begitu mengharukan. Kami tidak sedang mengulang masa lalu.

Kami sedang menyadari bahwa masa lalu telah ikut membentuk siapa kami sekarang. Ada orang-orang yang mungkin tidak pernah tahu betapa besar pengaruh sebuah kebaikan kecil terhadap hidup orang lain.

Pak Nungkat barangkali salah satunya.

Dulu ia hanya membuka pintu. Sekarang kami tahu, bagi anak-anak yang jauh dari rumah, sebuah pintu yang terbuka dapat menjadi lebih dari tempat berteduh. Ia dapat menjadi tanda bahwa dunia belum sepenuhnya dingin.

Dan dari ruang paling dalam dalam ingatan, suara itu seperti terdengar lagi, “Sudah makan?”

Kini kami tahu, pertanyaan itu bukan semata-mata tentang makanan. Ia adalah cara sederhana seorang manusia berkata kepada anak-anak yang jauh dari rumah: kamu tidak sendirian.

Barangkali itulah yang membuat sebuah rumah dapat bertahan lebih lama daripada dindingnya. Bukan karena kayunya, bukan karena alamatnya, melainkan karena pernah ada hati yang membuat orang lain merasa diterima di dalamnya.

Rumah Pak Nungkat telah lama berubah, orang-orangnya telah menua, sebagian telah pergi. Tetapi bagi kami, pintunya masih terbuka dalam ingatan.

Dan mungkin manusia memang tidak selalu meninggalkan warisan dalam bentuk nama besar. Kadang ia hanya meninggalkan sebuah pertanyaan yang terdengar sederhana: “Sudah makan?” Tetapi bagi seorang anak yang jauh dari rumah, pertanyaan itu bisa berarti satu hal yang sangat besar: masih ada yang menunggu kita.

Masri Sareb Putra
Pontianak, jelang malam ketika belum dapat terbang 09-09-2026.

0 Comments

Type above and press Enter to search.