Menjaga Sekabu dalam Pusaran Konflik Madura-Dayak 1979 di Sendoreng - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (86)
| Anak-anak Wisma Widya menjaga Sekabu dalam pusaran Konflik Madura-Dayak 1979 di Sendoreng. Ist. |
Preambul:
Gawaiku berdenting di tengah kepulan uap kopi beberapa hari lalu. Sebuah pesan WhatsApp masuk. Dari: Benediktus, kawan lama seangkatanku yang rupanya masih menyimpan rahasia penting dan kenangan kelam masa lalu kami.
"Kawan," demikian ia menulis. "Apakah kau masih ingat? Tahun 1979, kita para darah-muda, bersama-sama menjaga asrama putri Sekabu waktu kerusuhan etnis Dayak-Madura?"
"O.... tentu peristiwa itu tak kan kulupa!" jawabku sekenanya, ingatan langsung terlempar ke masa puluhan tahun lalu saat rambut kami belum memutih.
"Beras kencur anak muda, sok jagoan! Beraninya hanya di muka bunga-bunga yang menghiasi Taman Sekabu pujaan hatinya," balasku lagi sembari terkekeh sendiri, mengingat bagaimana kami bertingkah bak pahlawan di depan para gadis asrama malam itu, padahal jantung kami berdegup kencang seperti genderang perang.
Namun, di balik candaan masa tua kami. Malam itu sesungguhnya adalah malam yang teramat panjang dan berdarah. Beginilah kisah yang tertinggal di tanah Sekabu kala itu...
Peristiwa Sendoreng, Samalantan–Monterado, Kalimantan Barat, 8–15 November 1979.
Malam itu....
Kabut turun lebih rendah dari biasanya di atas pematang sawah Desa Sendoreng.
Baca Pernikahan Silang Dayak-Tionghoa sebagai Bu-tong Literasi Budaya - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (85)
Bau tanah basah bercampur bau rumput yang baru dipotong. Bulan hanya sepotong sabit tipis, seolah takut menatap ke bawah. Di kejauhan, anjing-anjing desa menggonggong sebentar lalu diam total. Diam yang terlalu panjang.
Siang itu terjadilah peristiwa yang menjadi casus belli, sebab-perang....
Asikin bin Asmadin, lelaki Madura berumur empat puluh lima tahun, sedang mengarit rumput untuk sapinya. Gerakannya cepat, celuritnya berkilat-kilat di bawah cahaya redup. Ia tidak melihat Sidik yang berdiri di ujung pematang.
“Hati-hati, Pak… nanti kena padi,” kata Sidik pelan.
Hanya satu kalimat. Tapi di telinga Asikin, kalimat itu seperti tamparan di muka. Ia berhenti. Napasnya memburu. Rasa terhina naik seperti api di dada.
Baca Surat Bertinta Darah dari Ruang Tunas Muda - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (84)
Tanpa banyak bicara, Asikin pulang. Ia mengambil calok, parang panjang berujung melengkung yang biasa dipakai orang Madura untuk carok. Ketika ia kembali, Sidik masih berdiri di situ, tidak menyangka.
Satu sabetan. Hanya satu sabetan saja. Darah memercik ke rumput. Sidik terjatuh, memegang perutnya. Ia masih sempat melihat wajah Asikin yang gelap, sebelum semuanya menjadi kabut.
Baca Tan Un Mao dan Lim Kheng Siang: Dua Resi Sakti PKN dengan Jurus Naga Api - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (83)
Keesokan harinya, Sidik menghembuskan napas terakhir di RS Bethesda Serukam.
Dan dari situ, api mulai menjalar. Kabut tidak pernah benar-benar hilang di Samalantan selama tujuh hari itu.
Berita kematian Sidik menyebar lebih cepat dari angin. Orang-orang Dayak dari kampung sekitar datang dengan parang dan tombak.
Orang-orang Madura dari Monterado datang dengan celurit dan dendam. Rumah-rumah mulai terbakar. Suara teriakan bercampur suara anak-anak menangis. Bau asap dan darah menggantung di udara sampai malam hari.
Di tengah kekacauan itu, Asrama Putri Sekabu berdiri sendirian di tepi hutan. Lebih seratus bilangan anak perawan berjongkok di lantai kayu, napas mereka tertahan.
Di depan mereka berdiri suster biarawati. Jubah putihnya sudah kotor oleh debu dan asap. Di tangannya ada sebilah parang kecil yang gemetar.
“Jangan bunyi,” bisiknya. “Kalau mereka dengar… kita semua habis.”
Di luar, bayangan orang bergerak. Obor-obor menari. Celurit berdenting.
Dari arah hutan. Seorang pemuda muncul. Baju hitamnya basah oleh keringat dan embun. Rambut lurusnya diikat seadanya. Di pinggangnya terselip golok pendek yang sudah tua. Namanya Liong Han. Ia bukan Dayak. Bukan Madura. Ia hanya orang yang datang terlalu terlambat ke tempat yang sudah dipenuhi dendam.
Baca Terkenang Herman Ahie : Apakah Siswa Seminari Punya Pacar? - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (82)
Ia berdiri di depan gerbang bambu asrama. Matanya menyipit menatap kabut.
“Siapa yang berani masuk,” katanya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh angin, “harus melewati aku dulu.”
Tiga orang menyerbu dari kabut.
Liong Han tidak bergerak sampai mereka dekat. Lalu tubuhnya berputar. Jurus pertama yang keluar adalah Hui-eng-bok-thou (elang terbang menyambar kelinci). Goloknya menyambar dari bawah. Satu celurit patah. Yang kedua terkena siku di ulu hati dan terjatuh tanpa suara. Yang ketiga masih sempat mengayun, tapi Liong Han sudah berdiri di belakangnya. Golok hanya menyentuh bahu cukup untuk membuat orang itu menjerit dan kabur ke dalam kabut.
Baca Apakah Siswa Seminari Punya Pacar? - Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (81)
Suster biarawati membuka pintu sedikit. Matanya berkaca-kaca. “Kau… siapa?”
“Liong Han,” jawabnya singkat. “Aku tidak memihak siapa-siapa. Aku hanya tidak mau melihat perempuan dan anak-anak dibakar karena satu sabetan di pematang sawah.”
Dari dalam. Maria Kemangi, gadis tujuh belas tahun, ponakan tokoh adat yang tewas di Sendoreng menatapnya dengan mata yang sudah kosong.
“Pamanku dibacok karena menegur orang yang mengarit rumput. Sekarang mereka datang ke sini… karena kami perempuan.”
Liong Han mengangguk. “Maka malam ini, asrama ini jadi benteng terakhir.”
Malam semakin dalam. Kabut semakin tebal. Dari arah Monterado. Teriakan massa terdengar semakin dekat. Rumah-rumah di Benawa Bhakti sudah menyala. Satu orang Dayak terbakar bersama rumahnya. Ribuan orang mulai mengungsi ke Singkawang dengan kaki telanjang dan wajah penuh debu.
Baca Membaca Surat Cinta Bersama-sama- Kisah Kasih di Sekolah Nyarumkop (80)
Di Asrama Putri Sekabu, Liong Han berdiri di depan gerbang bersama-sama anak wisma Widya yang mulai terbit nyalinya. Goloknya sudah patah. Ia bertarung tangan kosong. Jurus Ngo-yang-pok-tse (kambing kelaparan tubruk makanan) mengeluarkan bunyi tulang patah di malam yang sunyi. Jurus Ngohouw-toan-bun-too (Lima harimau memegat pintu) membuat tiga orang penyerang terjatuh bergelimpangan.
Tapi mereka terus datang.
Suster biarawati berdoa di dalam, suaranya hampir tidak terdengar. Kemangi dan gadis-gadis lain melempari penyerang dengan batu dari jendela atas. Beberapa batu mengenai sasaran. Beberapa tidak.
Menjelang fajar. Suara truk militer akhirnya terdengar. Batalyon 641 Beruang Hitam, Brimob, Kodim 1202, dan Hansip-Wanra turun.
Massa bubar. Kabut mulai surut. (Bersambung)
Masri Sareb Putra
Based on a true story..
Jakarta ketika subuh jatuh, 3 Oktober 2026.
0 Comments